Dalam beberapa hari terakhir, nama Indira Kalistha mendadak jadi perbincangan panas. Perempuan yang dikenal sebagai YouTuber itu memancing kesumat warganet berkat obrolan losnya yang dianggap meremehkan virus korona. Salah satu yang paling dikecam adalah bagian ini: ”...Wallahu a’lam, lu kena korona kek, kena demam berdarah kek, semua bisa mati. Lu tahu, ha?”

Beberapa hari kemudian, setelah cercaan warganet datang bertubi-tubi, ia menyampaikan permohonan maaf dalam video siniar (podcast) di YouTube Deddy Corbuzier. Indira memberikan klarifikasi dengan didampingi suami, Gustaf Silendra.

Sebelum menyampaikan permintaan maaf itu, si YouTuber cum selebgram memberikan disclaimer. Salah satunya bilang bahwa dirinya adalah tipe orang yang ngomong dulu baru mikir. Bahwa pernyataan dia di video klarifikasi dengan video sebelumnya mengandung silang sengkarut sehingga masih ada warganet yang skeptis, itu soal lain.

Yang menarik dan (mungkin) tidak terpikirkan ialah cara meminta maaf cewek tersebut. Dengan menangis, terlihatlah bahwa Indira memang telah meminta maaf dengan ”cara perempuan”. 

Menangis adalah kristalisasi dari ekspresi meminta maaf secara langsung, mengakui kesalahan, mengungkapkan penyesalan, memohon untuk dimaafkan, dan berjanji tidak mengulangi perbuatan. Yang dalam praktiknya, menurut J. Holmes pada sebuah riset, memang lebih sering dipakai perempuan dibandingkan laki-laki.

Dalam penelitian itu, Holmes sampai pada kesimpulan bahwa perempuan cenderung lebih sering meminta maaf daripada laki-laki. Cara meminta maaf perempuan juga kerap disampaikan dengan mengakui kesalahan, bahkan secara terbuka, seperti yang juga disampaikan Indira di kanal YouTube itu.

Namun, Aa Utap, sapaan karib suaminya, justru sering memberikan klarifikasi yang kesannya untuk membela diri dan, tentu saja, seperti tidak mau mengakui kesalahan secara langsung. Sebab, kata Holmes, orang yang minta maaf bisa juga diasumsikan sebagai suatu pengakuan akan ketidakmampuan orang itu. Dialog di bawah ini berujung pada konklusi tersebut.

”Kamu sendiri emang keluar nggak pakai masker?” tanya Deddy merujuk pada ucapan Indira sebelumnya yang lantas dikecam itu.

”Sebenarnya mah pake,” kata Indira, kemudian si suami mengambil alih.

”...Dia bilang kalau ke pasar nggak pake masker, ke mana-mana nggak pake masker. Gua baru mikir gini, ini kayaknya bini gua ngablu nih ’sejak kapan kita keluar?’ Karena emang gua sama dia tuh kan introver banget gitu... Jadi, pas PSBB ini basic-nya emang kita tuh di rumah,” jelasnya berpanjang lebar.

”Tapi, agak nggak sinkron dengan sebuah berita (tentang Gustaf yang membuat vlog dan ikut serta dalam penutupan McD Sarinah),” sergah Deddy.

”Jadi gini, gua koreksi lagi omongan gua ya. Itu sekali-kalinya keluar...” jawabnya buru-buru dengan menambahkan pernah ada kenangan dengan McD Sarinah sehingga ikut hadir dalam penutupannya.

Utap juga mengatakan sang istri tampak grogi saat bilang bahwa mereka tak memakai masker saat keluar dari rumah. ”Karena dia kalau ketemu orang baru ngerasa takut, ngerasa minder...” ujarnya.

Ucapan sang suami cenderung bersifat bertahan, defensif, dari kesalahan. Salah satunya terdapat pada kutipan: ”gua koreksi lagi omongan gua ya.” Alih-alih meminta maaf karena perbuatan itu salah, ia lebih memilih mengoreksi dan mencari pembenaran bahwa pergi ke McD hanyalah satu-satunya kesempatan mereka keluar dari rumah. 

Sikap mencari-cari pembenaran ini konon memang lumrah dipakai seseorang ketika salah berbahasa, apalagi dalam komunikasi lisan, alih-alih meralatnya. Sepertinya deja vu dengan kondisi ini, ya? Dengan sikap pemimpin di negeri antah-berantah...

Maka, benar kata Holmes, laki-laki cenderung lebih sering meminta maaf dengan cara yang tidak akan memberinya risiko kehilangan muka. Dengan mencari pembenaran dan tidak mengakui salah secara langsung, potensi kehilangan muka Gustaf lebih kecil.

Itu berbeda dengan permintaan maaf istrinya yang sampai menangis, apalagi di depan publik. Menangis bagi laki-laki tentu akan membuatnya cukup kehilangan muka.

Dari hasil risetnya, Holmes menjabarkan bahwa cewek terbiasa dengan meminta maaf secara langsung, mengakui kesalahan, mengungkapkan penyesalan, memohon untuk dimaafkan, dan berjanji tidak mengulangi perbuatan.

Untuk meminta maaf secara langsung, Indira menyampaikannya dalam kalimat ini: ”Yang ada di mulut aku, aku omongin tanpa mikir dulu... Aku sadar ini salah. Kuakui aku salah banget,” katanya.

Ya, dalam caranya meminta maaf, perempuan lebih berani dan langsung. Permintaan maaf langsung itu tak lain bertujuan untuk terciptanya kembali hubungan harmonis dengan pihak yang dimintai maaf, dalam kasus ini adalah warganet serta para pengikutnya. Sebab, kata Esther Kuntjara, perempuan memang lebih memilih menjalin hubungan harmonis dan kooperatif terhadap sesama.

Kemudian, perempuan juga lebih sering minta maaf dengan cara mengakui kesalahannya. Seperti berikut ini: ”Aku janji nggak bakal colab-colab gini lagi karena aku nggak becus ngomong,” katanya. Beberapa menit kemudian, sambil tersedu Indira bilang, "(Aku) bener-bener nggak sadar banget ngomong gitu.”

Cara mengakui kesalahan Indira adalah dengan mengatakan dirinya tidak becus. Apalagi berbicara mengenai sesuatu yang tidak dikuasainya, dalam hal ini seputar Covid-19.

Di pengujung video, lagi-lagi Indira menyampaikan permintaan maaf sambil menangis. Sekitar satu menit lebih ia berbicara sembari terisak.

”Setelah kejadian ini, pasti aku mau belajar lebih banyak lagi. Aku mau lebih banyak belajar (kemudian menangis lagi). Aku mau minta maaf sama semuanya. Aku nggak tahu jadi kayak gini. Aku sama sekali bukan untuk ngeremehin tenaga medis, enggak (sambil terus terisak). Bener kata kalian, aku bodoh. Ngomong nggak dipikirin dulu itu bener banget. Aku sama sekali nggak nolak kalian katain begitu. Karena aku tahu di situ aku salah... Jadi omongan aku di situ itu beber-bener ngawur banget. Aku bener-bener minta maaf sama kalian semua.”

Dari ungkapan tersebut, sekali lagi, Indira telah mengakui kesalahan secara terbuka, menyampaikan penyesalan, menyatakan kekurangan dirinya, dan memohon untuk dimaafkan.

Dengan meminta maaf, seseorang dapat digolongkan dalam sopan santun berbahasa yang digunakan untuk memuaskan orang yang merasa dirugikan oleh perbuatannya. Maka, permintaan maaf perempuan, seperti yang dilakukan Indira itu, tak lain guna mengobati kesalahan demi menciptakan suasana damai pulih kembali.