Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Indeks adalah ukuran pembangunan suatu negara yang berdasar pada angka harapan hidup, tingkat pendidikan, melek huruf dan standar hidup. Berdasarkan beberapa hal tersebut, maka merupakan sebuah keharusan bagi pemerintah untuk melakukan berbagai upaya dalam membangun manusia yang berkualitas.

Bertolak dari tingkat pendidikan, bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu bagi seluruh masyarakat Indonesia secara umum jika pendidikan adalah hal yang sangat penting. Untuk itu, bagi setiap orang tua akan mengupayakan anak-anaknya agar dapat mengenyam pendidikan sejak dini sampai pada jenjang selanjutnya.

Setiap tahun, institusi Pendidikan seperti Sekolah Dasar, Sekolah Tingkat Pertama, Sekolah Tingkat Menengah dan Pendidikan Tinggi membuka pendaftaran bagi setiap masyarakat Indonesia untuk mengakses pendidikan. Khususnya Pendidikan Tinggi, sebanyak 148.066 peserta dari 797.738 pendaftar SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) tahun 2017 dinyatakan lulus di 85 PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di luar PTS (Perguruan Tinggi Swasta). Jumlah ini tentunya bertambah pada tahun 2018 dan memungkinkan meningkat di tahun 2019.

Data ini dapat dilihat sebagai ukuran minat masyarakat untuk mengenyam pendidikan khususnya Pendidikan Tinggi. Tepat pada tahun ini dimulai sejak Februari-Juli adalah seluruh rangkaian proses SBMPTN. Setelah itu, peserta dinyatakan lulus dan mahasiswa baru memulai aktivitasnya sebagai mahasiswa pada PTN.

Ruang pendidikan, selain menyediakan ruang-ruang edukasi formal (proses belajar di dalam kelas), juga menyediakan ruang edukasi yang lahir dari lingkungan pergaulan sebaya. Pada beberapa hal lingkungan pergaulan sebaya menyediakan ruang bagi siapa pun untuk mempelajari berbagai hal. 

Tidak hanya itu, lingkungan pergaulan sebaya dapat menjadi faktor yang memengaruhi terbentuknya sebuah perilaku baru. Lawrence W Green (1980) dalam teorinya faktor-faktor yang memengaruhi sebuah perilaku. Lawrence W Green (1980) menjelaskan faktor lingkungan menjadi penguat (reinforcing) atas terbentuknya sebuah perilaku.

Dalam hal ini, bagi yang akan memulai aktivitas sebagai mahasiswa baru, selain akan banyak terlibat dalam rutinitas akademik, juga akan mengikutsertakan diri dalam lingkungan sosial baru. Baik pada lingkungan organisasi maupun lingkungan pergaulan teman sebaya. Khusus untuk lingkungan pergaulan teman sebaya merupakan ruang yang menjadi wadah untuk memenuhi kebutuhan sosialisasi seorang mahasiswa baru.

Untuk memenuhi kebutuhan sosialisasi, maka proses adaptasi mahasiswa terhadap lingkungan pergaulan barunya adalah sebuah keharusan. Dengan begitu, proses ini akan menjadi jalan masuknya pengaruh sosial baru atau dikenal dengan konformitas. 

Konformitas merupakan suatu jenis pengaruh sosial ketika seseorang mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Bentuk pengaruh ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk dengan berdasarkan pada nilai dan norma yang ada pada kelompok pergaulan tertentu.

Pengaruh tersebut di antaranya dapat dilihat ketika seorang mahasiswa baru mulai melibatkan diri pada aktivitas kelompok pergaulan. Bagi kelompok yang mengidentikkan identitasnya dengan gaya hidup remaja Metropolitan seperti sekadar duduk-duduk dan nongkrong di Cafe. Jalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan dan mencicipi nikmatnya kehidupan malam dibawah meriahnya lampu kerlap-kerlip. Dan beberapa kelompok pergaulan yang lain akan hadir dan membentuk identitas kelompoknya sendiri. Di mulai dari sini, kebiasaan berbeda akan dialami oleh seorang mahasiswa baru.

Jika semakin jauh keterlibatan mahasiswa baru pada kelompok pergaulan sebaya dengan identitas tertentu. Maka, akan menggiring dan mengikat seorang mahasiswa untuk menerima seluruh nilai dan norma kelompoknya. Konformitas dalam bentuk pengaruhnya dapat mengarahkan seseorang pada perilaku normal atau menyimpang. Terminologi ‘normal’ saya gunakan untuk menjelaskan perilaku yang sesuai dengan konvensi masyarakat pada umumnya.

Beberapa penelitian menjelaskan bagaimana konformitas dapat mengarahkan sebuah perilaku seseorang pada perilaku menyimpang. Pada penelitian Rahim (2017) tentang tinjauan konformitas teman sebaya dalam perilaku penyalahgunaan obat-obat golongan G pada kelompok pergaulan remaja. 

Rahim (2017) menjelaskan perilaku penyalahgunaan obat merupakan bentuk adaptasi remaja terhadap lingkungan pergaulan barunya. Yang ditandai dengan remaja mulai mengikutsertakan diri dalam berbagai aktivitas yang dilakukan kelompoknya. Bagaimana sebuah pengaruh itu terjadi, merupakan dorongan agar remaja diterima dan diakui oleh kelompoknya.

Keterlibatan remaja pada perilaku menyimpang dapat terjadi pada siapa saja dan dalam situasi pergaulan apa saja. Mengingat dalam lingkungan pergaulan sebaya tidak memiliki batasan untuk berbagai pengaruh. Untuk itu, dengan membatasi diri pada bentuk pergaulan teman sebaya dapat menjadi kontrol atas pengaruh yang dapat mengarah kepada perilaku menyimpang.

Selain itu, banyak melibatkan diri pada lingkungan organisasi dan melakukan aktivitas positif seperti mengikutsertakan diri pada kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan. Adalah solusi lain untuk memenuhi kebutuhan sosialisasi teman sebaya dapat menghindarkan diri dari konformitas yang mengarah pada perilaku menyimpang. 

Dengan begitu akan tercipta manusia-manusia berkualitas yang lahir dari generasi-generasi tanpa perilaku menyimpang. Dan partisipasi untuk mencapai cita-cita pembangunan manusia melalui Human Development Indeks dapat tercapai.