Perkuliahan memasuki semester lima. Mulai sibuk dengan kegiatan-kegiatan di luar kelas. Awal semester ini, seluruh mahasiswa sudah disodorkan jadwal untuk agenda pelatihan mengajar di luar area kampus.

Semua mahasiswa fakultas ilmu keguruan diwajibkan mengikut pelatihan mengajar selama dua minggu di luar kota. Pembekalan persiapan keberangkatan telah dijadwalkan.

Seminggu setelah pembekalan keberangkatan, semua mahasiswa bersiap untuk berangkat menuju tempat belajar mereka.

Perjalanan dari kampus sampai tempat tujuan cukuplah lama. Kira-kira 8-9 jam perjalanan menggunakan bus rombongan. Setiap mahasiswa diharapkan sudah mempersiapkan diri agar tetap terjaga kesehatannya selama perjalanan.

Matahari masih enggan menyapa. Seperti masih terlihat malu-malu untuk keluar dari tempat istirahatnya. Apalagi pagi ini begitu dingin dengan hembusan angin yang lumayan kencang.

Kriiiing......kring.... (jam alarm berdering).

“Ahh sudah jam 5.00 pagi. Dingin sekali hari ini.” Niya bergumam di dalam kamarnya. Mulai bersiap membuka mata dan beranjak menuju kamar mandi.

Hari ini tepat satu minggu setelah pembekalan. Semua mahasiswa diharapkan untuk berkumpul di halaman kampus sebelum jam 7.00 pagi. Semua bus transportasi telah siap mengantar rombongan.

“Niyaaaaaa.....” Panggil Fay sambil berteriak dari kejauhan.

“ Ssst.. Ya ampun Fay. Kerjaan kamu memang yaa teriak-teriak.”

“Gimana Niy, sudah siap untuk meninggalkan rumahmu tercinta?” Sambil nyengar-nyengir. Meskipun menyebalkan, sukanya teriak-teriak tapi bikin kangen.

“ Sudah dong, Fay. Aku sudah berpamitan sambil nangis sama Mami tadi pagi.” Jawab Niya.

“Ahh kamu ini bikin aku kangen juga sama Mami.” Fay melanjutkan. Naya hanya diam.

Niya memang mahasiswa yang jarang sekali meninggalkan rumah. Kerjaannya hanya kuliah, perpustakaan dan pulang. Hanya beberapa kali dia keluar bersama teman-temannya.

Tapi jangan tanya kalau masalah prestasi, dia sangat sering pergi ke luar daerah mewakili kampus dalam lomba-lomba akademik. Sangat membanggakan.

Tahun ini pelatihan mengajar diadakan kembali di Jakarta. Setelah angkatan tahun lalu juga bertempat di sana. Selama perjalanan tidak ada mahasiswa yang hanya diam. Mereka menghibur diri dengan karaoke di dalam bus, saling bercanda satu sama lain.

Perjalanan begitu mengasyikkan. Tidak terasa sudah sampai di tempat tujuan.

“Kepada seluruh rombongan, kita sudah sampai di tempat tujuan ya.” Salah satu dosen pendamping menjelaskan.

Semua mahasiswa bersiap untuk turun dan mengambil barang-barang mereka.

“Niya, tunggu aku dong.” Ucap Fay.

“Oke, Fay. Santai aja. Kita turunnya nunggu teman-teman turun semua biar gak desak-desakan.” Jawab Niya.

Semua mahasiswa telah berkumpul di halaman tempat mereka mengadakan pelatihan. Selanjutnya mahasiswa  memasuki ruangan dan dimulai acara pembukaan serah terima mahasiswa.

Rasa takut pasti ada. Bertemu dengan orang baru dan akan hidup bersama dalam dua minggu ke depan. Mau tidak mau harus banyak beradaptasi dengan hal-hal yang baru. Berkenalan dengan kebiasaan-kebiasaan baru pula.

Tempat tinggal sudah disediakan oleh panitia. Kebetulan acara kali ini tidak hanya dari kampus Niya saja. Ada dua kampus yang kebetulan berbarengan acaranya. Mereka asli dari Jakarta dan Pontianak. Semakin harus bisa beradaptasi.

Kamar yang disiapkan sudah diatur oleh panitia. Tidak hanya satu universitas saja, namun dicampur antara satu dengan yang lainnya.

Awalnya memang begitu berat, harus berpisah dengan teman-teman satu universitas. Namun hari berganti hari, semua berjalan baik-baik saja.

Hari pertama. Masih seperti biasa, kami masih enggan bersama dengan mahasiswa lain universitas. Belum begitu dekat dan masih agak jual mahal. Rasanya masih sangat aneh. Fay selalu menghampiri kamar Niya jika akan berangkat ke tempat pelatihan.

Sampai pada hari dimana kita harus berpisah. Meninggalkan tempat pelatihan dengan beribu cerita indah. Tidak seperti di hari pertama. Semua lebih akrab dan pasti sangatlah sedih jika harus berpisah.

Niya, sosok yang tidak pernah keluar rumah hanya hidup di perpustakaan saja, akhirnya menemukan sahabat baru di tempat pelatihan. Fauza namanya. Mereka bersama dalam satu kamar selama dua minggu.

Kebersamaannya tidak dipertanyakan lagi. Bagaimana bisa? Mereka berdua tidak seperti orang yang baru saja kenal malah seperti saudara. Lucunya, mereka berdua dipertemukan karena memiliki menu makanan favorit yang sama yaitu bakso.

Ternyata Tuhan menemukan sahabat terbaik untuk Niya. Sahabat yang bisa diajak bercerita, bercanda dan saling mensuport satu sama lain. Begitu indah. Dua minggu bagaikan hanya satu hari saja. Begitu nyaman.

Dua minggu telah usai, upacara pelepasan telah usai juga. Semua mahasiswa harus kembali ke daerah masing-masing. Begitu juga Niya dan Fauza yang harus berpisah jauh antara Pontianak dan Jawa. Rasanya sangat menyedihkan.

Hari pertama setelah berpisah, mereka masih saling video call. Melepaskan kerinduan. Setelah waktu semakin lama semakin berjalan, semuanya kembali normal. Niya dengan kegiatan perpustakaannya dan juga Fauza yang sibuk dengan tugas akhirnya.

Setelah lulus, Niya melanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu pascasarjana. Begitu juga Fauza. Tanpa disangka-sangka keduanya melanjutkan sekolah pascasarjana di universitas yang sama. Memang Tuhan begitu baik kepada HambaNya.

Niya dan Fauza saling bersama. Melakukan banyak hal dengan kebersamaan dan kebahagiaan. Saling bercerita satu sama lain. Tidak pernah ada kata marah di antara mereka. Saling suport agar bisa menyelesaikan tugas akhirnya dengan cepat.

Alangkah begitu indah kebersamaan dengan orang yang disayang. Orang yang mau mengerti dan menghargai. Mau tahu satu sama lain. Tidak saling menjatuhkan apalagi saling berbohong satu sama lain.

Fauza adalah tipe teman yang mengayomi bukan menyakiti. Lemah lembut dan begitu dermawan. Tidak pernah menceritakan keburukan di belakang temannya. Sosok yang begitu ceria meskipun sedang banyak masalah yang diembannya.

Terima kasih Fauza. Kau memang benar-benar sahabat dalam setiap suasana.