Islam termasuk agama yang sangat perhatian terhadap etika pergaulan masyarakat. Yaitu antar memeluk agama. Islam sangat menekan perdamaian dan sebisa mungkin menghindari permusuhan. Apalagi ketika hal itu sampai menimbulkan pertempuran darah. Perbuatan adil harus di tegakkan kepada siapa saja.

 Tidak ada pengecualian kepada orang-orang yang berbeda golongan dan keyakinan. Allah berfirman ;

لاَيَنْهٰكُم اللّٰهُ عَنِ الّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْ. اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

Artinya : ‘Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil’ (QS.Al-Mumtahanah:8).

Imam Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin Husain at-Talimi yang dijuluki dengan Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H). Dalam kitab tafsirannya mengatakan ayat ini menjadi dasar untuk berbuat baik kepada pemeluk agama lain.

Bentuk perbuatan baik itu adalah dengan cara memperlakukan mereka secara adil, berinteraksi dengan baik, tidak menganggu keberadaan, dan saling tolong menolong. (Imam Fakhruddin ar-Razi, Tafsir Ghaib, [Bairut, Darul Ihya at-Turatsi: 1999], juz X, h. 520).

Dari penjelasan ar-Razi di atas, dapat kita pahami bahwa berbuat baik dan bersikap toleransi, serta menjalin kekeluargaan dengan agama lain. Termasuk ajaran Islam yang sesungguhnya. Membangun kerukunan dengan pemeluk agama lain dengan cara memperlakukan mereka dengan baik, sopan, adil, dan bijaksana termasuk wujud pengamalan ayat Al-Qur’an.

Syekh Abu Abdillah bin Abdurrahman as-Sa’idi (W.1376 H). Dalam tafsirannya mengatkan, ada banyak alasan untuk melakukan kebaikan walaupun hanya satu kali dan kepada orang yang berbeda agama.

Alasan-alasan terebut diantaranya yaitu; berteman dengan dasar kesopanan, berbuat baik karena adanya hubungan kerabat, menjadi tetangga, atau jika keduanya tidak ada, alasan terakhir adalah karena  hubungan kemanusiaan. (Syekh as-Sai’idi, al-Qawaiduil Hissan fi Tfsiril Qur’an, [Maktabah ar-Rusydu, cetakan pertama: 1999], h.350).


Imam Syamsuddin al-Qurthubi (w. 671) mengutip beberapa pendapat ulama perihal sejarah diturunkannya ayat di atas. Dalam kitabnya disebutkan, suatu saat Qatilah hendak mendatangi putrinya, Sayyidah Asma’ binti Abu Bakar, untuk memberikan anting dan barang-barang lainnya.

 Ketika itu Qatilah adalah mantan istri Sayyidina Abu Bakar, ia ditalak sejak masa jahiliyyah. Setelah bertemu, Asma’ pada waktu itu sudah memeluk agama islam, sementara ibunya tidak. Asma’ menolak dengan tegas pemberian dari ibunya, bahkan Sayyidah Asma’ menyuruh ibunya keluar meninggalkan rumahnya.

Dengan alasan ”tidak diperbolehkannya menjalin kerukunan dan pergaulan dengan pemeluk agama lain”. Dengan perasaan kecewa Qatilah mendatangi Rasulullah saw. Untuk mengadukan kejadian yang dialaminya. Setelah semuanya sudah disampaikan kepada Rasulullah, turunlah ayat di atas.

Pada ayat selanjutnya, Allah melarang umat islam untuk berteman dan bergaul dengan pemeluk agama lain, apabila mereka memerangi umat islam, atau membantu kelompok-kelompok yang memerangi umat islam.  Sebagaimana firman Allah yaitu

اِنَّمَا يَنْهٰكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ قَاتَلُوْكُمْ فِى الدّيْنِ وَاَخْرَجُوْكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوْا عَلٰٓى اِخْرَجِكُمْ اَنْ تَوَلَّوْهُمْ. وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ فَاُولٰئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ                                                                                                                            

Artinya: ‘Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang dzalim’ (QS.al-Mumtahanah: 9).

Secara tegas, Allah swt melarang umat Islam untuk berkawan dan menjalin hubungan dengan pemeluk agama lain pada ayat di atas, hanya saja poin penting yang perlu dipahami adalah kaidah-kaidah penafsiran dalam Al-Qur’an, bahwa setiap ayat harus diletakkan sesuai tempat dan bagian masing-masing.

Dalam artian setiap ayat mempunyai kaidah dan penafsiran tersendiri. Kita sebagai manusia apalagi umat Islam harus bisa memahami isi kandungan dari ayat-ayat Al-Qur’an agar bisa menempatkan apa yang sedang terjadi pada diri kita atau orang lain, dan kita sudah memiliki rujukan dari ayat Al-Qur’an untuk dijadikan jalan tengah dari permasalahan yang sedang terjadi.

Karena sejatinya ayat Al-Qur’an tidak turun dalam ruang hampa yang dengan sewenang-wenang bisa diterapkan dimana-mana. Maka, tidak boleh memaksakan ayat diturunkan dalam posisi perang, misalnya untuk diterapkan dalam keadaan damai.

Begitu juga dengan Indonesia, negara aman dan tetap bersatu, termasuk agama. Ayat di atas tidak bisa diterapkan di Indonesia sebab kata perang atau penyerangan terhadap umat Islam tidak ada, dan semua pemeluk agama damai dalam pantauan pemerintahan.

Adapun selain ayat Al-Qur’an dalam hadis pun juga dijelaskan bahwa ada sikap melindungi dan saling tolong-menolong tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan juga muncul dalam sejumlah hadis dan praktik Nabi yaitu sebagai berikut:

مَنْ تَتَّبَعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبَّعَ اللّٰهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَّبَّعَ اللّٰهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ

Artinya: “Barang siapa yang menyelidiki aib saudaranya se Islam niscaya Allah akan menyelidiki aibnya dan barang siapa yang aibnya diselidiki oleh Allah niscaya Allah akan membongkar aibnya meskipun di dalam rumahnya sendiri”. (Abu Isa Muhammad bin Isa bin Wawrah al-Turmudzi, sunan al-Turmudzi, juz 3 (Beirut;Dar al-Fikr,t,th), h. 459.

Dari penjelasan ayat di atas yaitu bahwa perhatian dan pengakuan Islam terhadap agama lain adalah sungguh merupakan bagian dan sekaligus syarat bagi kesempurnaan keimanan seorang muslim.

 Artinya, jika seseorang imannya sempurna, maka wajib baginya mengakui dan menghormati agama lain. (Lihat, Azumardi Azra, ‘Bingkai Teologi Kerukunan: Perspektif Islam’ dalam konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam (Jakarta, 1999), h.34.

Dapat diambil kesimpulan bahwa kita semua sebagai manusia, dan manusia adalah makhluk sosial. Jika manusia itu tidak saling membutuhkan, tidak saling tolong menolong dengan  sesama, maka manusia itu tidak bisa hidup.

Karena pada dasarnya manusia itu saling membutuhkan satu sama lain. Maka dari itu, kita sebagai manusia harus bersikap adil tanpa membeda-bedakan antar pemeluk agama lain, harus bisa saling menghormati, saling membantu, saling mengasihi dengan sesama manusia walaupun berbeda agama.