Semenjak bulan Maret 2020 lalu, Indonesia sampai saat ini sedang berusaha melawan pandemi Covid-19. Pada saat masa pandemi yang seperti saat ini, mulai banyak pembatasan-pembatasan kegiatan sosial. Hal ini dikarenakan agar mengurangi dampak terkena virus covid-19 tersebut.

Pembatasan tersebut dimulai dari anggota pemerintahan hingga masyarakat umum ketika melaksanakan kegiatan. Pembatasan yang ada tentunya memiliki dampak yang cukup besar baik dari sisi ekonomi, sosial, pendidikan, dan lain-lain.

Pemerintah juga selalu mengingatkan agar masyarakat senantiasa mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, dan rajin mencuci tangan. Kita juga menerapkan social distancing agar mencegah penyebaran virus Covid-19.

Masa pandemi ini sangat mengubah pola hidup masyarakat. Karena sekarang lebih mengutamakan menggunakan media online untuk melakukan kegiatan. Seperti berbelanja,  berbisnis, berkomunikasi, dan lain-lain.

Permasalahan itu muncul dan memaksa semua masyarakat untuk dapat berinovasi dan memanfaatkan teknologi yang ada terutama teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan baik. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi kebutuhan utama dalam mempermudah pelaksanaan kegiatan.

Dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi, layanan masyarakat dapat dilaksanakan dimana pun dan kapan pun. Walaupun pada masa pandemi seperti ini, kita juga harus selalu menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan orang lain.

Karena terbatasnya kegiatan yang dapat kita lakukan di luar rumah, maka kita bisa berkomunikasi dengan orang lain menggunakan media sosial. Komunikasi tersebut bisa menggunakan smartphone ataupun PC.

Media sosial yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain contohnya dengan menggunakan WhatsApp, Instagram, telegram, line, dan media sosial lain. Komunikasi dengan menggunakan media sosial seperti ini biasa disebut dengan berkomunikasi secara daring atau virtual.

Istilah kata virtual semakin banyak digunakan oleh masyarakat, khususnya oleh remaja pada zaman sekarang. Bentuk komunikasi secara virtual bisa dengan chatting, call, videocall, dan lain-lain. Kita berkomunikasi tidak hanya dengan sesama jenis saja, tetapi sering juga kita berkomunikasi dengan lawan jenis. 

Dengan keadaan yang seperti ini banyak orang yang menghabiskan waktunya untuk berkomunikasi secara online. Apalagi saat ini sudah banyak aplikasi untuk mencari pasangan, teman, ataupun jodoh.

Dari yang awalnya hanya iseng, atau hanya bermain-main saja, sampai yang serius untuk mencari jodoh secara online pada masa pandemi seperti ini. Contoh aplikasi pencari jodoh yaitu bisa menggunakan aplikasi tinder, tantan, litchmatch, dan aplikasi lainnya.

Aplikasi-aplikasi tersebut tidak hanya digunakan untuk mencari jodoh atau pasangan saja, melainkan bisa digunakan untuk mencari lebih banyak teman. Penggunaan media sosial yang secara tidak sengaja dapat mempertemukan kita dengan orang yang sefrekuensi dengan kita rasanya sangat menyenangkan.

Kita bisa saling berbagi cerita, mendengarkan keluh kesah yang dialami, dan juga kita bisa saling curhat masalah apapun itu. Setelah kita merasa nyaman dengan lawan bicara kita, sampai akhirnya kita saling bertukar nomor WhatsApp untuk interaksi yang lebih mendalam.

Ternyata kita bisa merasakan jatuh cinta dengan orang lain walaupun belum pernah bertemu di dunia nyata. Dengan kita mempunyai teman ngobrol lewat aplikasi maka kita bisa menghapus rasa kesepian dan rasa bosan, apalagi jika obrolannya nyambung dan sefrekuensi.

Setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda untuk menyampaikan atau mengekspresikan rasa cinta atau rasa sayangnya kepada orang lain. Salah satunya dengan ‘words of affirmation’

Penegasan kata cinta atau biasa disebut words of affirmation merupakan salah satu dari lima love language yang dimiliki oleh manusia. Word of affirmation biasanya digunakan untuk memberikan ekspresi kasih sayang melalui kata-kata pujian, apresiasi, dan berempati kepada orang lain dengan cara yang positif.

Seseorang yang memiliki jenis bahasa cinta ini suka menikmati kata-kata yang berkonotasi baik dan yang bersifat suportif bagi dirinya. Contohnya dengan kata-kata "semangat ya", "kamu orangnya asik banget ya ternyata", "makasih sayang", "kamu cantik banget", dan lain sebagainya.

Bagi sebagian orang, mungkin kata-kata tersebut dianggap tidak bermakna. Tetapi bagi orang-orang yang bahasa cintanya adalah words of affirmation, di balik setiap kata tersebut memiliki berjuta makna yang dapat membuat dirinya sangat bahagia.

Oleh karena itu, sebagian orang bisa merasa bahagia dan mungkin bisa merasa baper hanya dengan chatting secara virtual saja. Baper adalah kependekan dari “Bawa Perasaan”. Istilah baper tidak selalu tentang masalah percintaan.

Sebenarnya tidak ada salahnya kita memiliki perasaan dan menjalin hubungan khusus dengan seseorang yang kita kenal secara virtual. Tetapi kita juga harus sadar bahwa hubungan virtual itu semu atau maya, hubungan tersebut tidak nyata.

Biasanya kita menjalani hubungan percintaan secara virtual tersebut tanpa status. Kita hanya menjalani sebuah komitmen, tetapi kita sudah saling nyaman, saling sayang, dan juga kita sudah ada panggilan istimewa, contohnya sayang, baby, honey, dan lain sebagainya.

Tapi jangan kaget ketika pasangan kita atau lawan bicara kita sudah mulai slowrespon dan juga sudah mulai cuek atau bodoamat dengan kita. Karena dalam proses percintaan secara virtual ada kalanya kita sudah merasa bosan dengan pasangan kita.

Lalu jika kita sudah jarang chattingan atau callan dan juga sudah jarang memberi kabar, berarti kita harus berhati-hati karena biasanya sebentar lagi kita akan di-ghosting. Ghosting adalah mengakhiri hubungan secara mendadak dan memutuskan komunikasi tanpa memberikan penjelasan apapun.

Istilah ini mengarah pada seseorang yang menghindar dan menghilang begitu saja, tak terlihat seperti hantu (ghost). Per-ghostingan biasanya terjadi ketika kita sudah sayang-sayangnya, tetapi malah ditinggal menghilang entah kemana tanpa kabar.

Beberapa kemungkinan penyebab terjadinya ghosting yaitu sudah merasa bosan, tidak mau berkomitmen, terlaku sibuk, tidak ingin menyakiti perasaan pihak lain, merasa tidak nyaman dengan situasi yang sedang dialami. Bisa juga karena sudah menemukan orang lain yang lebih menarik.

Pemutusan hubungan yang dilakukan oleh satu pihak mengakibatkan pihak lain yang di-ghosting merasa terluka. Bayangkan ketika seseorang yang disayang tiba-tiba menghilang dan menggantung status hubungan.

Seseorang yang di-ghosting bisa kehilangan kepercayaan diri dan menjadi insecure karena merasa ditolak dan tidak dihargai. Terkadang mereka menyalahkan diri sendiri atas menghilangnya pihak lain.

Awalnya muncul rasa kesepian dan sedih, bahkan bisa berkembang menjadi depresi dan frustrasi. Wajar jika seseorang yang di-ghosting merasa sakit hati. Jadi agar kita terhindar dari hal-hal tersebut, maka kita tidak boleh gampang baper dengan respon orang lain ketika kita sedang berkomunikasi secara virtual.

Terkadang kita memang nyaman dan sayang kepada lawan bicara kita, tetapi bisa jadi lawan bicara kita hanya berperasaan biasa saja terhadap kita, atau bahkan tidak sama sekali. Oleh karena itu, kita harus bisa mengontrol dan menjaga diri sendiri agar terhindar dari masalah per-ghostingan tersebut.