Memenuhi ajakan seorang teman, akhir pekan ini kami mengunjungi sebuah tempat bernama pesantren As-Salam yang lebih dikenal dengan nama Pesantren Gugel (Gunung Geulis) di daerah Gadog, Bogor, Jawa Barat. Sudah sering saya mendengar tentang pesantren ini dari seorang sahabat. Dia sering bercerita tentang pesantren yang juga dikenal dengan pesantren Inggris ini –bahasa Inggris menjadi bahasa sehari-hari bagi santri di sini.

Tidak sulit mencapai lokasi, karena jalanan cukup bagus, namun kami tetap saja sampai agak terlambat dari rencana awal karena macet di jalan.

Kami datang bertujuh, sang kawan, Khoirul Anam dengan istri dan dua orang anaknya, Ray Ariono, seorang praktisi teater, Yudhi Widdyantoro, seorang praktisi yoga dan saya. Kami diminta untuk berbagi ilmu kepada anak-anak di sana dan kami menyanggupinya.

Sesampainya di sana kami disambut baik sebagai tamu. Kebetulan kami sampai di sana Sabtu sore, dan kebiasaan di sana, mereka selalu membuat acara semacam pertunjukan setiap malam Minggu. Acara tersebut dibuat sebagai sarana untuk unjuk kebolehan santri dari apa pun yang sudah mereka pelajari dan juga sebagai sarana melatih keberanian untuk tampil di depan umum. 

Karena waktu yang bertepatan, jadi tentunya kami bisa menikmati pertunjukan yang mereka buat tersebut. Acara dimulai setelah Isya dan berakhir sekitar pukul 22.30

Keesokan harinya, semua dari kami menunaikan janji untuk sharing kepada santri di sana, dimulai dari saya, sharing kelas bahasa Jepang setelah subuh dan Mas Ray Ariono dengan kelas teaternya. Setelah itu dilanjutkan dengan sarapan pagi sekitar pukul 08.00. 

Di sini Kang Aang –beliau adalah pimpinan pondok pesantren tersebut--banyak bercerita kepada kami mengenai bagaimana dia membangun pesantren tersebut dengan segala suka-dukanya. Banyak pelajaran yang kami petik dari cerita Kang Aang. Setelah sarapan, tiba giliran Mas Yudhi dengan kelas yoganya dan diakhiri dengan kelas bahasa Inggris TOEFL oleh rekan Khoirul Anam.

Setelah makan siang, kami berpamitan dengan Kang Aang dan seluruh santri di sana dengan membawa cerita kami masing-masing. Kalau saya diminta memberikan pendapat mengenai tempat ini, saya akan menngatakan tempat tersebut adalah tempat yang menyenangkan dan luar biasa.

Banyak cerita menarik yang bisa dipetik dari berdirinya pesantren yang kebanyakan santrinya berasal dari keluarga tidak mampu dan sebagian lagi dari anak jalanan ini. Kang Aang adalah sosok penggerak sejak pesantren ini dulu masih berupa rumah singgah berupa ruang kos-kosan yang dikontrak sampai bisa menjadi seperti saat ini, berdiri di lahan seluas hampir 2 hektare.

Dalam waktu dekat, pesantren ini akan melakukan ekspansi ke wilayah Cianjur Selatan. Di sana mereka akan membangus pesantren serupa di atas lahan seluas sekitar 10 hektar, kita doakan saja.

Di pesantren ini banyak sekali anomali dari kondisi umum di pesantren lain, mereka berbeda. Di pesantren ini semua santrinya yang berjumlah sekitar 40 anak ini tidak ada satu pun yang bersekolah formal, mereka diarahkan untuk belajar apapun yang mereka inginkan atau dengan kata lain santri di sana hanya mempelajari hal-hal yang memang ingin mereka pelajari atau sukai. 

Untuk memperoleh ijazah formal kalau diperlukan, mereka memanfaatkan ujian paket A, B dan C dari Kemendikbud. Faktanya, dengan cara tersebut hampir semua santri lulus dengan nilai di atas rata-rata dibandingkan siswa yang bersekolah di sekolah formal. Dengan kenyataan ini banyak sekolah formal di sekitar pesantren tersebut meminta santri dari pesantren ini untuk ujian di sekolah-sekolah mereka, dengan harapan dengan nilai di atas rata-rata akan mendongkrak citra sekolah tersebut.

Selain tidak ada yang bersekolah formal, santri di pesantren ini juga tidak pernah mengajukan proposal mencari dana atau hal-hal seperti itu, padahal seluruh santri tidak ada yang membayar untuk belajar di tempat tersebut. Walaupun tanpa proposal, pesantren ini memiliki banyak donatur yang berasal baik dari perorangan maupun institusi, dari dalam dan luar negeri. 

Donatur-donatur besarnya justru berasal dari negara-negara nonmuslim, seperti Selandia Baru, Inggris, Australia dan masih banyak lagi. Lokasi yang saat ini dipakai sebagai pesantren pun murupakan wakaf dari seorang pengusaha nonmuslim yang peduli terhadap pendidikan dan ingin sekali melakukan sesuatu untuk pendidikan di Indonesia.

Para relawan yang mengajar di pesantren ini pun banyak yang berasal dari luar negeri, karena mereka membuka diri dan berprinsip bahwa siapa pun bisa berjalan bersama walaupun tidak sama. Dengan prinsip tersebut, pesantren ini justru makin berkibar dan terus akan berkibar. Dan mungkin di sini adalah satu-satunya pesantren yang pernah memiliki santri nonmuslim. 

Satu hal unik lagi, pesantren ini juga menyediakan tempat menginap gratis bagi turis backpacker mancanegara –melalui aplikasi yang bisa diunduh di Google Play--dengan syarat harus mengajarkan sesuatu kepada para santrinya. Tidak heran kalau di pesantren ini bahasa Inggris menjadi makanan sehari-hari, karena mereka tidak kekurangan native speaker untuk belajar bahasa Inggris

Tidak heran perkembangan pesantren ini demikian pesat belakangan ini karena menerapkan prinsip bahwa untuk bisa berjalan Bersama, kita tidak harus sama. Mereka menjalin hubungan dengan siapa saja dan dengan institusi manapun. Selama memiliki tujuan membangun manusia seutuhnya tanpa melihat apapun, baik agama, suku, ras dan sebagainya, maka pesantren ini siap bekerjasama. 

Jaringan yang mereka bangun selama ini mengantarkan pesantren ini menjadi tempat unik yang melahirkan banyak sekali anak-anak berkualitas dan tidak kalah dengan anak-anak lain. Ada seorang santri yang saat ini berkuliah di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) jurusan perfileman, padahal anak ini tidak mengecap sekolah formal, bahkan ijazah pun tidak punya. 

Saat itu, anak ini bisa masuk IKJ dengan mempresentasikan karya film pendek yang ilmunya dia dapat dari tempatnya belajar, yaitu pesantren tanpa kelas yang membanggakan kita semua, Pesantren Gugel.

 Dengan menerapkan pola Pendidikan yang tidak sesuai dengan aturan pemerintah, pesantren ini justru melahirkan banyak siswa berprestasi. Santri mereka jadi rebutan sekolah-sekolah sekitar, satu orang sudah masuk di kelas internasional Unibraw, satu anak kuliah di IKJ, satu lagi nyaris berangkat kuliah ke Spanyol, batal hanya karena masalah administratif; semua diawali dari tempat belajar yang justru tidak membebek sistem kaku ala pemerintah. 

Nah kenapa mereka bisa berhasil ya? Bisakan sistem yang mereka gunakan ini menjadi refleksi dunia pendidikan kita? Bahwa misalnya, sistem sekolah yang ada sekarang tidak efektif dalam mengembangkan minat dan bakat siswa? Untuk apa siswa penggemar tanda baca belajar rumus-rumaus kimia?