Amal Kassir punya niat mulia. Gadis warga Negara Amerika ini cukup mafhum bahwa setelah beberapa jam dalam penerbangan tentu aroma mulut seseorang sudah tidak fresh lagi. Oleh karena itu ia selalu membawa serta sekotak permen mint untuk dibagikan. Tapi ternyata tidak semua bisa menerima niat baiknya itu. Terutama karena melihat penampilan yang so Arabic – berhijab dengan wajah khas timur tengah, campuran antara Syria dan Iowa.

Hal ini diceritakannya saat berbicara dalam sesi TEDX di Denver Colorado. Dalam video berdurasi 16 menit awalnya ia bercerita tentang bagaimana namanya menjadi multi tafsir. Amal Kassir adalah seorang gadis muslim, seorang penulis dan penyair, aktivis dan traveler. Tapi namanya juga menjelma menjadi makna yang lain : nama yang masuk dalam random search di airport, teroris, jihadis, radikal dan sejumlah tafsir lainnya.

Cerita Amal berlanjut dengan fenomena Islamophobia, terutama setelah kejadian akhir-akhir ini. Teroris -  yang notabene sudah jelas tidak memiliki agama – entah bagaimana akan selalu terkoneksi dengan Islam. Sementara di tempat lain, dalam kejadian yang berbeda teroris sebenarnya tampil dalam beragam rupa, beraneka agama dan kepercayaan. Sebut saja Robert Dear pelaku penembakan berencana di pemukiman, Ku Klux Klan atau Timothy Mcveigh pelaku pemboman di Oklahoma.  Ini adalah hal yang sangat ia sesalkan. 

Penyesalan ini juga tampak saat ia bercerita soal eksekusi yang dilakukan Craig Hicks terhadap tiga orang pemuda : Dia (23 tahun), Yusor (21 tahun), dan Razan (19 tahun) hanya karena mereka muslim. Tampaknya Amal sangat terpukul dan bersedih atas kejadian ini. Kesedihan yang tak bisa ia tutupi karena peristiwa eksekusi tak berperikemanusiaan ini ia angkat juga saat berbicara di University of Arkansas, Clinton School of Public Services.

Amal Kassir mengkritik generalisasi yang dilakukan orang saat melihat muslim, yang pada level tertentu berlanjut dengan diskriminasi terhadap orang Islam atas kejahatan yang mereka tidak lakukan. Padahal di tempat lain, katakanlah Syria kampung halamannya, orang muslim lah yang menjadi korban perang. Bahkan pada bulan September 2011, Islamic School tempat ia belajar mendapat dua ancaman bom. Sejak itu ia bertekad untuk melawan balik segala ancaman teror seperti itu dengan suaranya, dengan pendidikannya.

“I made my personal mission to threaten the bombs with our schools, with our stories, with us!”, begitu katanya dengan geram.

Ranti Aryani mungkin tidak selantang Amal Kassir dalam berbicara dihadapan publik, memprotes keras diskriminasi yang dialaminya. Ranti Aryani mungkin tidak setegas seorang Kalis Mardiasih yang mengatakan bahwa ia akan terus berbicara demi apa pun bahwa Tuhan itu rahman dan rahim – sifat yang tak pernah ada dalam kamus teroris. Yang bisa seorang Ranti Aryani lakukan adalah mendokumentasikan memoir perjalanannya lewat buku karyanya, “In God We Trust”.

Buku ini bercerita tentang lika liku perjalanan hidupnya hingga berhasil menjadi perwira militer dengan pangkat Kapten Corp Dental di Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) pada tahun 2003. Suatu perkara yang tidak mudah karena jelas Ranti mengalami diskriminasi, apalagi kalau bukan karena agama (dan tentu hijabnya). Uniknya, proses penerbitan buku ini tidak lah mudah. Katrin Bule dalam ulasannya mengenai buku ini mengatakan bahwa ternyata saat Ranti Aryani berusaha mengirimkan naskah buku kepada pihak penerbit, berkali-kali file naskah tersebut sampai pada penerbit dalam keadaan tidak utuh. Ada beberapa bagian yang hilang, amburadul padahal proses editing sudah dilakukan dengan rapi. Hal ini makin menegaskan bahwa setiap gerak gerik Ranti memang diawasi ketat oleh pihak USAF.

Judul buku yang dipilih : In God We Trust adalah semboyan resmi Amerika Serikat yang biasa terlihat pada mata uang mereka. Melalui semboyan ini Ranti Aryani seakan ingin menegaskan mengenai perjuangannya di negeri paman Sam tersebut. Hal ini juga diperkuat tampilan Ranti dengan mengenakan seragam USAF di bagian cover depan. Penampilan ini jauh dari kesan congkak atau bentuk kebanggaan diri seorang warga Indonesia yang mampu menembus jajaran perwira USAF. Karena faktanya Ranti tetap tidak melupakan bahwa ia adalah asli kelahiran Indonesia sekalipun ia  memutuskan untuk menjadi warga Negara tetap Amerika Serikat.

Lho apakah berarti seorang Ranti Aryani tidak nasionalis? Tunggu dulu, tidak semudah itu men-judge nasionalisme Ranti. Keputusannya untuk memilih menjadi warga Negara Amerika Serikat sudah melalui berbagai pertimbangan seperti proses birokrasi, hak dan kemudahan yang bisa ia peroleh sebagai warga Negara Amerika. Termasuk juga saran dan masukan dari sang suami. Boleh dikatakan suaminya, Rich Bennet juga memegang peranan penting dalam proses peralihan kewarganegaraan Ranti.

Rich Bennet adalah seorang warga asli Amerika yang menjadi muallaf. Bagian perjalanan Bennet hingga memutuskan untuk memeluk agama Islam juga dikisahkan dalam buku ini. Fase dimana Rich memulai pelajarannya soal Islam dan menemukan banyak istilah dan definisi baru – bid’ah, kafir, syirik dan lain sebagainya - yang entah kenapa justru terasa meresahkan bagi seorang muallaf seperti dirinya. Kegelisahan akan pengajaran yang ‘hambar’ mengantarkannya pada jalan sufisme yang menurutnya lebih menawarkan kedalaman makna dan keluasan ilmu. Nuansa sufistik memang sangat kental mewarnai cerita-cerita dalam buku ini. Setiap keputusan yang diambil dan kejadian yang dialami akan digali hikmahnya dan selalu terkait dengan konsep ke-berserahdiri-an yang hakiki kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ranti Aryani bercerita dengan detail soal bagaimana ia yang pada awal bergabung dengan USAF menerima informasi bahwa jilbab tidak akan menjadi masalah. Namun dalam perkembangannya, jilbab yang ia kenakan menjadi persoalan yang tidak ada habisnya dimunculkan. Ujung dari persoalan ini adalah pengasingan dan diskriminasi yang Ranti alami. Akhirnya Ranti memutuskan untuk meninggalkan USAF setelah ketidakjelasan perihal statusnya yang berlarut-larut. Padahal seharusnya ia mendapat pendidikan yang notabene sudah menjadi hak-nya. Buku In God We Trust memaparkan bagaimana seorang Ranti yang sudah melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang warga Negara Amerika dengan baik namun justru ketidakadilan yang ia dapatkan.

In God We Trust menunjukkan sebuah ironi. Semboyan dengan mengagungkan ke-Esa-an Tuhan yang justru tidak tampak dalam implementasinya. Seharusnya disaat kita percaya kepada Tuhan (God) maka niscaya kita akan percaya dengan segala takdir dan ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Termasuk perbedaan agama ,kepercayaan dan pandangan hidup yang tercipta diantara sesama manusia.

Ranti Aryani mengalami berbagai bentuk diskriminasi tepat dua tahun setelah tragedi September 2011. Pada bulan Oktober 2016, Amal Kassir kembali bernyanyi lagu yang sama – soal diskriminasi dengan nada dan intonasi yang berbeda. Pertanyaannya, apakah kita akan berpangku tangan dan menunggu munculnya Ranti atau Amal versi lain menyanyikan lagu yang berulang terus menerus?