Pengantar

             Lingkungan adalah suatu yang terpisahkan dari manusia. Manusia memiliki peran dalam menjaga dan melestarikan lingkungannya. Akan tetapi, manusia melalaikan peran tersebut. Tidak jarang kelalaiannya membuat manusia semakin serakah untuk memanfaatkan alam. Melalui alam, manusia mengambil kekayaan demi kepentingan manusia.

            Sebenarnya Fenomena eksploitasi alam ini telah menguat sejak zaman modern/ pencerahan. Zaman Modern adalah era yang manusia menekankan rasionya, berpikir independen. Tak hanya itu, efek rasio inilah mengembangkan teknologi teknologi yang bisa dimikmati sampai sekarang. Efeknya adalah semua yang berada diluar rasio manusia adalah sarana untuk memenuhi kepentingan pribadinya.

            Semangat awal adanya teknologi adalah membantu manusia. teknologi perlu dipahami bukan hanya berarti computer / digital, melainkan semua hal yang diciptakan manusia untuk mempermudah pekerjaan manusia, mobil, sepeda motor, AC, dll.  Akan tetapi, berangkat dari situ pula, kerusakan alam dimulai oleh teknologi.

            Kerusakan alam ini memiliki efek dalam banyak hal misalnya polusi udara, sampah plastic dimana mana, efek menipisnya ozon, penebangan hutan secara liar efeknya ekosistem hutan terganggu bahkan hewan hewan masuk ke pemukiman penduduk, dll. Tindakan pengerusakan ini dikecam keras oleh Thoreau.

            Thoreau adalah seorang filsuf berkebangsaan Amerika sekaligus ilmuwan lingkungan. Karya terbesarnya berjudul Walden. Dalam karyanya tersebut, Thoreau mengidentifikasi masalah konkret yang muncul dalam lingkungan berpangkal dari manusia. Dengan kata lain, tindakan manusia yang merusak adalah biangkeladi munculnya masalah lingkungan.

            Berangkat dari fenomena itu, Thoreau menawarkan filsafat sebagai jalan hidup. Melalui cara hidup ini, Thoreau ingin mengubah tindakan manusia yang merusak tersebut. Baginya, alam hendaknya diperlakukan bukan sekedar sarana pemenuhan kepentingan manusia. Sebaliknya, bagi Thoreau alam memiliki nilai intrinsiknya.  Nilai intrinsic inilah yang membawa manusia menuju yang spiritual. Dengan demikian, alam perlu dihormati.

            Berpijak dari pernyataan diatas, Thoreau hendak mengatakan bahwa materi di alam dan materi pada teknologi memiliki dampak signifikan pada manusia. Di satu sisi, Thoreau hendak menolak materi sedangkan di sisi lain, ia memerlukan materi untuk menuju yang spiritual. Melalui hal tersebut, penulis akan mengkaji konsep materi Thoreau yang terformulasikan dalam pertanyaan, “Apa yang menjadikan materi itu memiliki daya spiritual dan tidak spiritual bagi Thoreau?”

Konsep Materi Thoreau

            Konsep Thoreau mengenai materi tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan dengan pengalamannya. Dalam pandangannya, pengalaman menjadi hal penting karena mempengaruhi segala pemikirannya termasuk etika persepsi, realitas, dan materi. Artinya, semua pemikiran Thoreau berangkat dari apa yang dialaminya. Sehingga penting untuk mengetahui latar belakang Thoreau.

       Henry David Thoreau lahir pada tanggal 12 Juli 1817 di Concord Massachusetsss, Amerika Serikat dan meninggal pada 6 Mei 1862. Dia adalah seorang filsuf, penulis esai sekaligus ahli lingkungan. Berdasarkan latar belakang keluarganya, ia adalah anak ketiga dari seorang pengusaha kecil yang bernama John Thoreau dan Cynthia Dunbar Thoreau. Sejak kecil hingga dewasa ia merasa tidak cocok tentang pengaturan hutan sungai dan padang rumput yang dibuat oleh pemerintah.

            Ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Harvard. Disitu ia berteman baik dengan Ralph Waldo Emerson, dan mulai bertukar pikiran mempelajari filsafat. Berpangkal dari sana, Thoreau mulai tertarik pada filsafat dan menulis buku A Week on the Concord and Merrimack Rivers. Dalam proses pengerjaannya, ia juga melakukan eksperimen tinggal di hutan selama dua tahun dua bulan karena ketertarikannya kepada alam.

             Di dalam hutan tersebut, secara intensif ia menggunakan waktu itu untuk mendekati alam dan merenungkan tujuan akhir hidupnya sendiri, yang jika tidak, berisiko berakhir dengan keputusasaan yang tenang. Kedekatannya dengan alam tersebut memiliki efek luar biasa bagi Thoreau. Efek tersebut tampak dalam pandangannya tentang alam, yakni alam memiliki nilai instrinsiknya sendiri. bahkan, dia tak segan menyebut bahwa alam lebih bernilai dibandingkan manusia.

             Nilai intrinsik alam tergambar dalam tulisannya yang menyebut bumi yang hidup itu memiliki kehidupannya sendiri. bahkan, Benih lebih bernilai dibandingkan berlian karena didalam benih terdapat prinsip kehidupan dan pertumbuhan. Sehingga benih tidak hanya memberikan bukti bahwa alam dipenuhi dengan "jenius kreatif" tetapi juga mengingatkan kita bahwa percikan keilahian juga hadir dalam diri setiap manusia Dari pernyataan tersebut, Thoreau ingin manusia kembali seperti dulu melalui materi alam.

       Menurutnya, alam yang terwujud dalam materi dengan sendirinya memancarkan daya spiritual dibanding manusia ataupun materi yang dibuat/ dengan campur tangan manusia. Melalui materi alam, bagi Thoreau, subyek bisa kembali kepada hal yang spiritual. Adapun subyek yang melakukan tidak menempatkan nilai intrinsic pada alam (alam untuk kepentingan dirinya sendiri) Thoreau menyebut hal tersebut terjadi karena kurang lengkap pengetahuan manusia tersebut. Maka etika persepsi Thoreau berusaha untuk menyelaraskan kehidupan sehari hari seseorang dengan idealnya. Harapannya manusia dapat dapat menghargai alam.

Politik Thoreau

          Thoreau tidak hanya berhenti saja pada alam dan lingkungan. Bermula dari menghargai alam, manusia dapat menghargai manusia lain. Thoreau memandang bahwa alam mengajari dan membimbing manusia, bahkan Thoreau menyebut masyarakat bukanlah ukuran dari segala sesuatu. Dengan menghargai alam, manusia dapat menghargai manusia.

          Dalam konteks ini, Thoreau menentang perbudakan di Amerika. Tak hanya itu, Thoreau melihat hukum hukum yang berlaku di Amerika kala itu tidak adil. Inilah yang memantik Thoreau menulis esay yang berjudul “Ketidaktaatan Sipil”. Di esai tersebut, ia mengkritik para pejabat pemerintahan dan warga yang menaati hukum yang tidak adil.

Kesimpulan

           Diawal mungkin kita melihat bahwa Thoreau menekankan aspek alam. Alam memiliki nilai intrinsic didalamnya. Karena itu, sebagai manusia kita perlu menghargainya. Alam tidak hanya mengajari manusia untuk menghargai alam, melainkan juga mengajari manusia untuk saling menghargai. 

Sumber: