Pancasila merupakan dasar negara sekaligus jati diri bangsa Indonesia. Sila ketiga Pancasila meletakkan dasar kebangsaan Indonesia sebagai konsep persatuan dalam keberagaman. 

Penjelmaan sebuah nilai bangsa, yaitu persatuan yang mengakar kuat dan menjadi nilai luhur bangsa Indonesia. Nilai persatuan dan keberagaman menjadi pemandu dalam membentuk civic nationalism yang menjadikan warga negara paham akan peran kebangsaannya. Peran tersebut dapat diterapkan oleh warga negara pada masa pandemi Covid-19.

Gerak laju bangsa Indonesia saat ini sedang dihadapkan oleh tantangan yang sangat serius. Di satu sisi, bangsa Indonesia harus mengejar ketertinggalan dari bangsa lain, baik dalam bidang infrasturktur, pembangunan ekonomi, dan sebagainya. 

Di sisi lainnya, bangsa Indonesia menghadapi kerentanan sosial yang ditimbulkan akibat wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami krisis multidimensional. Kemanapun pergi, yang ditemukan hanyalah wajah kerawanan.

Bangsa Indonesia sekarang ini masih menghadapi wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Negara Indonesia tertular wabah Covid-19 pada kasus pertama ditemukan tanggal 02 Maret 2020. 

Asal virus Covid-19 menurut peneliti menunjukkan berasal dari orang yang memakan hewan yang terkontaminasi di Pasar Makanan Laut Huanan, Wuhan, Cina. Sampai sekarang asal mula virus Covid-19 masih menjadi misteri dan sudah menyebar di seluruh dunia termasuk Indonesia. WHO menetapkan covid-19 sebagai pandemi yang menyebabkan kondisi darurat kesehatan di seluruh dunia.

Kegentingan yang melanda bangsa Indonesia semakin diperparah dengan muncul berita hoaks. Maraknya penyebaran informasi melalui media sosial. Banyak media online yang menjadi pabrik penyediaan berita sebagai ajang persebaran informasi. Berita yang disebarkan pun belum tentu benar. Dan fenomena persebaran berita palsu menjadi ladang industri untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. 

Isu yang sering disebarkan pun beranekaragam, salah satunya adanya isu yang disebarkan melalui pesan berantai oleh pihak yang tidak bertanggungjawab yang berkaitan dengan vaksin Covid-19 yang menyebabkan Antibodi-dependent Enhacement (ADE), vaksin Sinovac mandiri seharga 600 ribu, dan lain sebagainya.

Hal tersebut semakin mengerikan lantaran masyarakat saat ini tidak lagi membaca berita dengan kritis tetapi dengan partisan dan fanatisme kepada kelompok tertentu. Seringnya masyarakat membaca berita melalui media sosial, hal itu menjadi ekosistem pas sebagai media partisan sekaligus penyebar hoaks. 

Di lihat lebih dalam, marakanya persebaran berita hoaks disebabkan oleh kecenderungan masyarakat yang lebih mengutamakan egosentrisme dan mencari pembenaran atas pendapatnya. Sehingga, hal ini menyebabkan orang lebih mudah marah dan  gegabah serta mudah sekali untuk menyerang orang lain.

Ketika masyarakat dihadapkan dengan berita yang belum jelas kebenarannya, seharusnya melakukan konfirmasi terlebih dahulu dengan mencari berita dari sumber-sumber yang kredibel. Dari sana, masyarakat bisa membandingkan dan menilai terhadap berita yang satu dengan yang lainnya, untuk mendapatkan berita yang bisa dipertanggungjawabkan dan yang tidak. 

Namun, seringkali mencari kebenaran berubah menjadi pembenaran. Hal itu biasanya dipicu oleh lantaran mencari berita yang mendukung pendapatnya. Egosentrisme inilah yang menyebabkan hoaks terus menyebar. Menjadikan banyak masyarakat yang menutup mata terhadap informasi atau berita yang sudah ada buktinya karena bersebarangan dengan apa yang diyakininya.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi yang mudah sekali diperoleh masyarakat, hoaks seakan-akan menyusup didalamnya. Hoaks digunakan untuk mengadu domba, memfitnah, bahkan menyebar ujuran kebencian untuk memecah belah masyarakat. 

Hoaks yang beredar atau berputar lama di media sosial, khususnya akan menjadi suatu kabar yang dianggap benar atau menjadi post-truth. Ini menjadi ancaman besar bagi bangsa Indonesia karena banyak isu yang disebarkan membuat lemahnya rasa persatuan warga negara. Apalagi pada saat pandemi seperti ini.

Data menunjukkan, hingga hari ini total kasus Covid-19 yang ditemukan di Indonesia per 10 April 2021 sebesar 1.562.868 kasus. Total pasien sembuh 1.409.288 jiwa. Dan total pasien meninggal dunia sekitar 42.433 jiwa. Dari fakta di atas seluruh elemen bangsa harus bersatu dalam menghadapi Covid-19.

Kenyataanya, kondisi bangsa Indonesia saat ini diibaratkan hidup di bibir pantai yang sedang menghadap samudera krisis tak bertepi. Gelombang datang seiring berjalannya waktu, memberikan masalah yang tiada habisnya. 

Adanya Covid-19 memberikan dampak bagi bangsa dengan terganggunya kesehatan di masyarakat sekaligus dampak bagi kondisi ekonomi yang dalam keadaan tidak baik-baik saja. 

Imbauan dari pemerintah untuk bersekolah atau bekerja di rumah saja tidak semudah yang dibayangkan. Mungkin, imbauan akan efektif untuk masyarakat yang mendapatkan pendapatan setiap bulannya, seperti pegawai negeri sipil. Namun, hal ini kurang efektif bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja di jalanan, seperti pedagang kaki lima.

Situasi pandemi Covid 19 ini bukan hanya masyarakat yang kesulitan beradaptasi dengan situasi sekarang, pemerintah pun dituntut untuk membuat kebijakan yang harus tepat sasaran supaya tidak menimbulkan polemik baru di masyarakat. Namun, kenyataannya kebijakan-kebijakan yang saat ini dibuat masih dilematis dan memaksa semua pihak untuk menjalankan bersama.

 Upaya yang dilakukan dalam rangka pencegahan, pengobatan, dan sebagainya, juga sudah dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19, seperti lockdown, karantina wilayah, imbauan untuk mematuhi protokol kesehatan, PSBB, hingga kebijakan normal baru, sudah dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19. Namun, hal itu pun tidak berjalan efektif. Masalah yang terjadi ini pun semakin kompleks dengan ditemukannya fakta terjadinya kelangkaan pada berbagai alat-alat pelindung Covid-19, seperti masker dan alat pelindung diri (APD).

Persoalan yang sedang melanda masyarakat Indonesia di masa pandemi Covid-19, sesungguhnya terjadi karena tiga hal. Pertama, terkait persoalan cara menjalankan tradisi   keagamaan/peribadatan. Kurangnya sosialisasi dari pemerintah menyangkut tradisi keagamaan membuat kepentingan masyarakat dalam beragama sering sekali dibenturkan dengan kebijakan   pemerintah. 

Kedua, keresahan psikologis akibat adanya pemberitaan yang tidak benar atau hoaks terkait Covid-19. Ketiga, soal ekonomi yang tidak berputar sebagaimana mestinya sebagai akibat kebijakan untuk di rumah saja membuat masyarakat lebih takut merasakan dampak ekonomi dari pada dampak kesehatan.

Pandemi ini sampai sekarang masih berlangsung, bahkan belum memberikan sinyal kapan segera berakhir. Covid-19 bukan hanya menjadi permasalahan bangsa Indonesia, melainkan menjadi permasalahan global. Pancasila sebagai dasar negara yang menyesuaikan perkembangan zaman, seakan-akan hadir sebagai ruh kepribadian bangsa yang mengingatkan kepada bangsa Indonesia untuk bersatu dan bekerjasama. 

Menghadapi pandemi ini tentu kita butuh rasa nasionalisme, kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong. Bahu membahu antara pemerintah, TNI/POLRI, tenaga kesehatan, dan masyarakat mengatasi pandemi, dengan memberikan bantuan baik materil maupun non materil serta doa pada saudara sebangsa dan setanah air.