Memasuki bulan Juni, Indonesia tengah bersiap untuk menghadapi new normal. New normal sebelumnya ramai dibicarakan di lini media massa sejak akhir bulan Mei lalu akibat bocornya rencana new normal yang dibuat oleh pemerintah. 

New normal sendiri merupakan skema tatanan hidup baru yang dirancang pemerintah untuk menggerakkan kegiatan perekonomian, pendidikan, dan keagamaan dengan melaksanakan protokol kesehatan guna menghindari penyebaran virus covid-19. New normal sendiri telah dilaksanakan di beberapa negara seperti Jepang, Jerman, dan Inggris.

New normal yang dilakukan pemerintah Indonesia telah mengatur hampir semua sektor, termasuk sektor pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak lama ini telah mengeluarkan kebijakan baru pada tanggal 15 Juni 2020 tentang pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah yang kemudian disingkat menjadi BDR. Tahun Ajaran baru pun tetap dilaksanakan pada bulan Juli.

Adapun panduan yang ditambahkan oleh Kemendikbud bahwa beberapa sekolah diizinkan untuk membuka kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan mengacu pada standar protokol kesehatan.

Penerapan itu berlaku hanya untuk wilayah zona hijau sebanyak 6% yang merupakan wilayah dengan intensitas rendah mengalami covid-19 dengan catatan mengantongi izin dari pemerintah daerah setempat. Sedangkan 94% sekolah yang berada dalam zona merah, oranye, dan kuning diharuskan untuk melaksanakan BDR karena penyebaran covid yang masih tinggi di zona-zona tersebut.

Jika meninjau kembali bagaimana BDR yang dilaksanakan pada tahun ajaran sebelumnya yang terjadi selama bulan Maret hingga Juni,  baik Kemendikbud, sekolah serta orangtua telah mengerahkan berbagai usaha untuk tetap melakukan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Kemendikbud mencanangkan belajar lewat televisi yang dinilai sebagai alternatif ketika pembelajaran menggunakan kuota internet terbatas.

Sekolah pun melakukan penyesuaian terhadap silabus dengan menengok kondisi sekarang. Guru dituntut untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan memanfaatkan media pembelajaran yang bersifat daring agar pembelajaran tetap berjalan efektif. Dan elemen penting yaitu orangtua yang kemudian menjadi guru dirumah, juga mau tidak mau dilakukan guna membantu anak-anaknya dalam belajar.

Walaupun semua stakeholder terkait telah bekerjasama dengan baik, tetapi masih ada kendala-kendala yang dihadapi. Kemampuan ekonomi setiap siswa yang berbeda akhirnya memberikan kesenjangan sosial terjadi dimana siswa yang kurang mampu tidak bisa mengikuti pembelajaran sepenuhnya sebab akses kuota yang terbatas. Orangtua siswa yang tidak bekerja dirumah pun harus memutar otak agar anaknya tetap dapat belajar dengan meminta izin pada gurunya untuk memberikan keringanan.

Dengan melihat kilas balik tersebut, penerapan new normal nanti rasanya akan mendapati kendala yang tidak jauh berbeda dengan tahun ajaran sebelumnya. Ditambah dengan beberapa sekolah yang akan dibuka kembali, meningkatkan kekhawatiran orangtua dan membuka peluang virus menyebar lebih besar.

Namun kesempatan untuk memperbaiki uji coba new normal dalam pendidikan masih dapat dilakukan dengan mengevaluasi pembelajaran setiap minggunya secara berkala bagi sekolah yang masuk pada zona merah, oranye, dan kuning. Pada sekolah-sekolah yang masuk pada zona hijau pun nantinya harus memenuhi syarat-syarat yang diajukan Kemendikbud.

Pembagian kelas dengan sistem shift

Saat peraturan new normal diterapkan pada tahun ajaran baru, siswa yang masuk ke sekolah jika biasanya masuk seminggu 5 kali atau 6 kali, kini tidak dilakukan setiap hari. Siswa nantinya akan masuk sekolah secara shift (bergantian) dengan jadwal hari yang ditentukan. Seperti contoh siswa A masuk pada hari Senin, Rabu, dan Jumat sedangkan siswa B masuk di hari yang berbeda yaitu Selasa, Kamis, dan Sabtu.

Waktu belajar yang dikurangi

Jika pada biasanya waktu belajar dilakukan sampai siang hingga sore hari, kini kegiatan tersebut hanya bisa dilakukan dengan waktu yang terbatas. Alokasi waktu yang ditentukan pada sebuah mata pelajaran dipangkas menyesuaikan dengan waktu belajar di sekolah yang telah ditetapkan. Ini tentu berdampak pada materi pelajaran yang harus disampaikan guru ketika mengajar. Materi yang diajarkan ke siswa, perlu dibuat lebih ringkas, padat, dan jelas.

Jumlah siswa dalam kelas

Siswa yang nantinya akan mengisi kelas akan dikurangi jumlahnya sebanyak 50% dari jumlah keseluruhan. Ini dilakukan agar tidak adanya penumpukan siswa dalam kelas dan menghindari kontak fisik secara bersamaan. Jarak antar siswa pun diatur minimal 1,5 meter.

Pembatasan kegiatan diluar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

Kegiatan seperti ekstrakurikuler, olahraga, dan acara kebudayaan pun dihentikan untuk sementara waktu. Untuk jam istirahat sendiri nantinya siswa diarahkan untuk membawa bekal makanan secara mandiri agar tidak jajan di kantin karena dikhawatirkan membuat kerumunan.

Meski aturan-aturan yang dilakukan nantinya masih ditemukan kekurangan, baiknya mari dukung dan awasi sekolah-sekolah yang akan menerapkan kebijakan new normal. Dengan itu kita membuktikan bahwa kita merupakan warga negara yang peduli dengan sekitar serta ikut berpartisipasi dalam menjalankan pendidikan di masa transisi ini.