Sudah menjadi hal yang kita ketahui bersama bahwa penyelenggaraan pendidikan merupakan pilar penting dalam menunjang kehidupan. Pendidikan menjadi salah satu faktor paling penting dan fundamental, peran dan pengaruhnya dalam kehidupan menentukan jalannya kehidupan itu sendiri.

Dalam bernegara, pendidikan jadi sektor penentu suatu negara mampu berjalan dengan baik atau buruk. Pendidikan menjadi cermin, suatu negara yang diinisiasi oleh para penyelenggara negara terlihat serius atau sungkan memajukan negaranya dalam ikut serta membangun peradaban.

Pendidikan dalam khasanah ketokohan, jika melihat pada konsep yang dibangun dan dinarasikan oleh bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan memiliki filosofi “Ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani”. Dalam khasanah ini, pendidikan secara mendalam dimaknai secara esensial, bahwa hadirnya pendidikan bertujuan agar menciptakan manusia yang tanggap dan peka pada kehidupan sosial, Kerjasama dan kesepahaman yang dibangun oleh manusia-manusia yang terjamah pendidikan harus memunculkan keseimbangan kebijaksanaan dimulai dalam pikiran maupun setiap tindakan.

Para penyelenggara negara dan pemerintahan yang baik, adalah mereka yang melangsungkan tugas-tugas mencerdaskan bagi warga negaranya. Melalui pendidikan yang merata, fasilitas yang memadai yang diatur dengan berbagai kebijakan terobosan yang apik mampu membangun sumber daya cerdas yang matang akan paradigma keilmuan.

Tugas semacam ini, di Indonesia, bahkan menjadi ruh yang harus selalu digelorakan hadirnya. Dengan spirit mencerdaskan kehidupan bangsa, demi mewujudkan kesejahteraan segenap tumpah darah Indonesia, kebijakan penyelenggara negara di bidang pendidikan bisa dikatakan menjadi wajah yang representatif mewakili komitmen negara dalam ikut serta mewujudkan hal tersebut.

Melihat kenyataan yang ada, berbicara soal betapa pentingnya pendidikan dan kebijakan para pemangku pemerintah menjadi hal yang sangat relevan untuk dilakukan. Apalagi, kemeterian pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi ( Kemendikbudristek) melalui kebijakan akbar merdeka belajar yang dua tahun ini sudah sampai pada episode ke 21 mencanangkan penerapan kurikulum baru pada satuan pendidikan, yakni Implementasi Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka, Apa Dampaknya ?

Kurikulum merdeka secara spesifik muncul pada episode ke 15 Merdeka Belajar, kurikulum yang muncul sebagai respon atas permasalahan learning loss yang terjadi pada segenap peserta didik kita, pandemi yang menyerang kita hanya memberikan kesempatan pendidikan dilangsungkan secara daring dan menyisakan keprihatinan bersama. Penurunan kualitas penyelenggaraan pendidikan berujung pada krisis pembelajaran.

Kurikulum merdeka hadir sebagai upaya konkret penyederhanaan acuan pembelajaran, hal ini juga dilakukan sebagai langkah darurat kondisi khusus karena pandemi, artinya kurikulum merdeka didesain sebagai kurikulum responsive yang bisa digunakan dalam keadaan mendesak ini. Pola pikir yang mendasarinya adalah jika proses penyelenggaraan pendidikan tetap dilakukan dengan kurikulum sebelumnya, maka berbagai segmen akan sulit untuk dicapai di masa pandemi, seperti muatan materi, capaian belajar, strategi, maupun ketentuan adminitratif lainnya.

Kurikulum merdeka mungkin belum sepenuhnya mampu menjadi jawaban atas dampak yang muncul dalam terkendalanya pendidikan kita, tapi jika dilihat secara momentum dan laku tanggap kemedikbudristek dalam menjawab tantangan penyelenggaraan pendidikan, kurikulum ini menjadi alarm urgensi perubahan dan strategi kurikulum yang harus dilakukan secara komprehesif. 

Hal yang menjadi menarik justru dalam kebijakan kurikulum ini, setiap satuan pendidikan tidak dipaksakan dalam penerapan kurikulum ini, setiap satuan pendidikan boleh memilih tiga opsi penerapannya, hal ini disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapannya yang berbeda. 

Dengan penerapannya yang fleksibel, kurikulum merdeka akhirnya bukan malah menjadi beban baru tenaga pendidikan kita, suatu kebijakan tanpa kajian terperinci atas titik terang antara keperluan dan kepentingannya walau dianggap baik sekalipun, tapi jika dalam pelaksanaannya tidak mengalir realitas dilapangan maka akan menjadi hal yang menyulitkan nantinya. 

Transformasi kurikulum terdahulu ke kurikulum merdeka secara sepenuhnya memang menjadi tujuan lain kurikulum ini dihadirkan, namun dengan diimbangi fleksibilitas penerapannya, optimisme penyelenggaraan pendidikan kita mampu dirasakan berbagai pihak.

Lantas, sebenarnya, apakah sebenernya konsep kurikulum merdeka ini berbeda dan dianggap lebih baik dari pada kurikulum sebelumnnya ?

Kurikulum Merdeka Mencoba Menjawab

Menjadi hal yang tidak mudah memang melihat implementasi kurikulum merdeka yang notabenenya merupakan kurikulum baru mampu menjawab segala persoalan penyelenggaraan pendidikan kita di Indonesia. Apalagi tolak ukur kesempurnaan penyelenggaraan pendidikan kita pun belum kita tentukan sebelumnya.

Namun demikian, konsep yang ada bukan berarti bukan jadi hal yang sama sekali tidak bisa kita jabarkan. Sebab berasumsi bahwa tujuan pokok pendidikan sebagaimana upaya mencerdaskan kehidupan bangsa demi mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera bisa dilakukan.

Kurikulum Merdeka yang dalam pelaksanaannya berbasis pada projects misalnya, mampu kita lihat sebagai salah satu upaya yang dilakukan sevara serius. Peserta didik tidak hanya di cekoki dengan muatan teori pelajaran yang materil belaka, tapi ditindak lanjuti dengan berbagai projek yang semakin mempersiapkan sumber daya kreatif.

Implementasi Kurikulum Merdeka juga fokus pada penggalian minat dan bakat peserta didik. Hal ini tentu mampu menciptakan sumber daya yang konsisten dan berkomitmen tinggi dalam melangsungkan fokus laku pembelajaran yang diambil. Ini seakan memperteguh peran siswa dalam keberlangsungan pendidikan itu sendiri, dimana siswa merupakan bagian langsung yang menentukan jalannya penyelenggaraan pendidikan, bukan hanya sekedar objek sasaran belaka.

 Tenaga pendidik atau guru dalam implementasi kurikulum merdeka ini memang seakan akan dibebankan tugas untuk mampu lebih peka terhadap masing - masing peserta didiknya, tapi penyederhanaan sistematika administrasi kurikulum merdeka ini juga sangat membantu meringankan fokus guru tersebut. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya yang banyak memakan tenaga para guru demi menyelesaikan tugas administrasi belaka.

Kurikulum Merdeka memang belum sepenuhnya sempurna menjawab berbagai pertanyaan dan persoalan yang muncul di penyelenggaraan pendidikan kita. Atau bahkan bisa saja justru menimbulkan masalah baru semacam ketimpangan kapasitas guru yang diakibatkan kurang meratanya ajang pelatihan dan sosialisasi kurikulum ini. 

Kuncinya tentu harus diadakannya sinergi berbagai pihak dalam menunjang implementasi kurikulum ini. Langkah lain semacam langkah preventif dalam pelaksanaan kurikulum merdeka ini agar tidak muncul kesalahpahaman diantara satuan pendidikan, pemangku kebijakan, peserta didik, wali peserta dan lainnya perlu di gagas dengan terkoordinasi dengan baik.

Semoga pendidikan kita mampu mencapai tujuan mulianya.

Semoga Allah meridhoi kita semuanya


Oleh Muhamad Ikhwan Abdul Asyir

Manajer Program Al Wasath Institute