"Aku beriman pada godaan dunia yang bangsat, dengan sengkarut kebijakan politisi dalam kantong-kantong celana mereka yang mengkilap, lagi penuh kepalsuan”.

Seorang pemuda yang sejak kecil mengabdi pada orang tua dan pemimpinnya di Desa. Keberhasiannya dalam perantauan saat ia memilih kembali.

Terbukti, ia ingin berbakti membangun negeri berangkat dari desanya.

Ia Tinggal di salah satu Desa, dari 67 Desa dengan 13 Kelurahan yang tersebar di 9 Kacamatan di Kabupaten tempat ia lahir. Mengenyam pendidikan tinggi, selesai dan  kembali ke kampung.

Kerap pemuda itu merenung panjang. Membayangkan kelahiran saudara, sepupu dan juga keponakannya. 

Sebab kelahiran mereka menjadi anugerah teristimewa dari Tuhan bagi keluarganya, namun ia merasa ada yang ganjil saat menatap hamparan jauh matanya memandang.

Kebun yang dulunya hijau penuh singkong dan cabai, kini menjelma gedung dan deretan pabrik, menyisakan limbah kotor dan mencemari udara segar.

Sementara yang tersisa hanya secuil, pun telah dibagi-bagi oleh almarhum kakeknya.

Kelahiran keluarga barunya membuat ia menyadari seketika, bahwa setiap orang terlahir ke dunia minimal punya tanah untuk dikelola, agar bisa ditanami padi untuk bertahan hidup.

"Lalu bagaimana dengan mereka yang tak punya apa-apa?" Tanyanya dalam hati. 

Ia juga tak mungkin menyalahkan pemerintah, lantaran kepala Desa tak lain adalah pamannya sendiri, belum lagi belakangan ini, Kepala Desa juga memang tak pernah ketemu dengannya dan merampas langsung barang-barangnya.

Namun, ia terus bertanya-tanya tentang pajak-pajak yang mahal dan harus ia bayar setiap saat. "Kemana uang itu?" lagi, ia berbisik dalam nuraninya.

Kadang ia menyesal terlahir miskin. Tapi jiwanya terobati saat mendengar kabar seorang perempuan atau laki-laki kaya mati bunuh diri, menikam dadanya sendiri lewat pisau dapur, mengenaskan.

Atau ia membaca berita tentang perkawinan antara bunga Desa di seberang kampungnya dengan konglomerat, walau sudah tua namun kaya, juga berakhir cerai. 

Padahal belum punya anak, bahkan hanya sempat berjalan beberapa minggu.

Ia jadi teringat salah satu buku yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, Sapiens-A Brief Histoy of Humankind (2014).

Buku yang dibacanya berulang kali semasa kuliah dulu, ia menyadari bagaimana Harari mengumumkan lewat karya luar bisanya tentang fakta, bahwa pada abad ke-21 ini, lebih banyak orang mati bunuh diri dari pada mati kelaparan.

Hasil bacaannya itu membuat dirinya keluar dari hirarki moral oleh sebuah stigma yang kental diyakini lingkungannya, di mana sukses melulu tentang uang. 

Harari secara tidak langsung menyihir pemuda itu hingga meyakini akan ketenangan jiwa cenderung lepas dari batok kepala dan cangkang hati mereka yang hidup berleha-leha di atas kemapanan.

Oleh Harari, ia sedikit berdamai dengan kenyataan, bahwa ada masalah dengan standar kebahagiaan yang dianut oleh mayoritas penduduk di daerahnya.

Dilema terus menggerogoti bawah sadarnya, terhadap intervensi keluarga yang terus-menerus memintanya bekerja untuk bisa mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup, lagi-lagi.

Namun, ia tak begitu saja menerima anggapan dari siapapun, termasuk dari keluarga dekatnya.

Ia melihat tetangga rumahnya, yang seumuran dengannya, teman sebaya semasa kecilnya dahulu yang selalu bekerja keras.

Bahkan hingga ia tumbuh bersama, beberapa temannya masih giat bekerja, namun terus-terus mengeluh tentang ketenangan jiwa yang diharapkannya.

Pemuda itu dipenuhi imajinasi melampaui sugesti dan paradigma umum, ia terobsesi terus berusaha menolak hukum moral yang semestinya sudah lama ditinggal.

Semacam standar sukses, ukuran keimanan dan kerukunan keluarga, baginya hanya omong kosong belaka.

Lantaran keyakinannya terhadap keseragaman pikiran, perbedaan pola hidup sudah seharusnya menguatkan harmonisasi sebagai warga negara yang demokratis.

Suatu ketika ia tergerak oleh kerinduan pada masa kuliahnya di kota. Ia menjelajah, berharap bergembira dengan teman lamanya.

Namun salah satu dari mereka bertanya "Apa yang menarik di kampungmu?". Ia merenung panjang, lalu menjawab singkat.

“Tak perlu menjadi seperti para tokoh di Jepang, yang harus peka untuk tidak mudah percaya pada siapapun agar bisa jadi Samurai. Atau tak harus mengikuti jejak Don (Rajveer) dalam film Bollywood, Bang Bang yang dengan kemampuan luar biasanya menembus ratusan CCTV dan ribuan pengamanan untuk meraih Berlian (Kohinoor), sederhana saja” urainya, lalu terdiam sejenak.

Kemudian melanjutkan. “Cukup duduk di kedai kopi, dan mendengar percakapan orang-orang sekitar. Aku pikir sesederhana itu akumulasi keresahan publik yang sempat terwakili di kampungku”.

Sesekali ia memang merasa harus ke kota terdekat dari kampunya, akibat  muak dengan segala risau orang-orang pasrah dan hanya mengeluh, menyalahkan Tuhan sebagai pelaku atas klaim takdir dari deritanya.

Sementara pemerintah terus berlaku sewenang-wenang. Tanpa ada yang berani memprotes, apalagi membantah.

Baginya, fungsi pejabat publik adalah menanam, memelihara lalu dipanen oleh rakyat. "Bila disuap, namanya bayi", pikirnya.

Tapi itulah yang ia saksikan, di mana pejabat di kampungnya tak pernah terjun langsung melayani masyarakat, bila ada yang mengadu, hanya terhenti, selesai dan sia-sia.

Lulus kuliah lewat bidang ilmu politik, membuat lelaki yang mengklaim dirinya begundal itu kebingungan, antara konsep dibawanya dengan realitas sosial yang kontoversi.

Tidak bertindak banyak, ia hanya menjebakkan dirinya dengan terus mengulang-ulang beberapa buku koleksinya yang sudah usang.

Sebab bagi nuraninya, ikut semua alur pemerintah adalah kesalahan, sementara mendiamkanya merupakan kematian.

Begundal itu betul-betul keras kepala, bahkan beberapa kebijakan pemerintah yang terkait dengan penggusuran kampung tetangganya, dianggap sampah.

Sementara isu konservasi atas izin pabrik di beberapa kebunnya, hanya dianggap omong kosong belaka.