21126_18877.jpg
https://www.globalresearch.ca/americas-imperial-empire-the-sun-never-sets-but-the-mote-remains-in-the-emperors-eye/5525635
Politik · 3 menit baca

Transisi Pola Dominasi dalam Globalisasi

Terjadi banyak perubahan dalam sistem dunia, khususnya pola dominasi dunia sejak masa imperium klasik Britania Raya. Hal tersebut memunculkan berbagai pertanyaan, salah satunya ialah apakah globalisasi membawa perubahan terhadap pola dominasi dunia, apakah pola dominasi dunia masih berbentuk imperium atau justru mengarah pada bentuk imperialisme baru?

Imperium sendiri terjadi ketika terdapat kekuatan dominan yang menguasai kekuatan lain yang lebih kecil dalam jumlah yang besar. Namun, saat ini dapat dilihat bahwa imperium sulit diterapkan sebagai pola dominasi dunia dikarenakan tatanan internasional yang menghargai adanya kedaulatan dari masing-masing negara. 

Berkaitan dengan tatanan internasional yang terjadi saat ini, Callinicos (2007) menyatakan bahwa globalisasi membawa bentuk-bentuk imperialisme baru dengan pendominasi yang sebenarnya sudah ada sejak masa imperialisme lama. 

Saat ini, globalisasi dipandang sebagai fenomena yang tidak dapat terelakkan lagi. Dampak dari globalisasi sendiri telah merambah berbagai aspek kehidupan dimulai dari sosial-budaya, politik, hingga ekonomi. Apabila mengadopsi dari pemikiran para kaum historisis, globalisasi dapat melahirkan imperialisme-imperialisme baru. 

Sedangkan, Wallerstein (2000) menyatakan, bahwasanya keberadaan globalisasi membuat perekonomian kapitalis global mengalami proses yang semakin kompleks di setiap detiknya, namun hal tersebut tetap tidak menciptakan keseimbangan yang sempurna dalam waktu singkat serta dapat memungkinkan terjadinya ketimpangan ekonomi di berbagai negara, dikarenakan siklus ekonomi dunia yang menuntut pergerakan yang cepat dan tepat. Berbagai dorongan termasuk dalam hal seperti pemenuhan kebutuhan dalam negeri maupun kebutuhan industri yang kemudian memunculkan dorongan untuk melakukan ekspansi keluar. 

Globalisasi dinilai memiliki nilai-nilai imperialisme didalamnya, dimana dalam konteks modern saat ini, pola imperialisme ditampilkan melalui bentuk kapitalisme yang semakin mendunia (Callinicos, 2007). Menurut Ferguson (2004 dalam Callinicos, 2007) Amerika Serikat ialah negara dengan kuasa terdominan untuk melakukan Imperial Globalization

Di sisi lain, pasar bebas di era modern juga dinilai sebagai pengulangan imperium yang terjadi di masa lampau. Dominasi kapitalisme yang dibawa oleh Amerika membuatnya terhubung dengan pola imperialisme yang telah terjadi di masa lampau. Harvey (2003) menyatakan bahwa dominasi Amerika Serikat ini terlihat mulai nampak jelas pasca kemenangannya pada saat Perang Dingin, yang kemudian menjadikannya sebagai negara denngan kekuatan tunggal. 

Melalui perdagangan bebas serta intensifnya arus transaksi IMF dengan berbagai negara, hal tersebut dijadikannya sebagai media penyebaran nilai-nilai neoliberalisme (Harvey, 2003). Nilai-nilai neoliberalisme yang disebarkan memiliki tujuan untuk membentuk kekuasaan hegemoni dan tentunya peran dominasi dari Amerika Serikat dalam menjaga stabilitas sistem internasional.

Terdapat berbagai pendapat mengenai pergeseran dari pola dominasi yang terjadi di dunia saat ini. Beberapa studi berkonklusi bahwasanya saat ini terjadi dominasi pasar dari negara adidaya yang dianggap menjadi polar dunia saat ini. 

David Harvey (2003) menyatakan bahwa Amerika Serikat sendiri yang merangkai strategi dominasi tersebut, sehingga globalisasi sebenarnya tidak menimbulkan pola dominasi. Namun disisi lain, Jan Pieterse (2004) menyatakan bahwa globalisasi terjadi karena Amerika Serikat yang mengubah pola dominasi neo-liberalisme globalisasi menjadi bentuk baru yaitu neo-liberalisme imperium. Neo-liberalisme globalisasi berfokus pada rezim-rezim pasar dan tekanan dalam negara berkembang untuk mengikuti ideologi pasar. 

Pada paham ini, negara kemudian akan dijadikan layaknya menjalankan sebuah perusahaan, yakni berfokus pada bisnis finansial dan keamanan, sehingga fokus negara tidak hanya pada aspek ekonomi dan capital saja, namun berfokus pada geopolitik. Pola tersebut memberi kesempatan bagi negara hegemoni untuk mengintervensi kerja sama dengan negara lain dengan untuk mencapai kepentingan tertentu. Imperium dalam hal ini memberikan suatu pola imperialisme dalam praktik globalisasi yang dengan tujuan agar dominasi hegemoni dapat memperlancar aktivitas ekonomi global.

Berdasarkan pemaparan tersebut, penulis menarik kesimpulan bahwa telah terjadi berbagai perubahan dalam pola dominansi di masa sekarang. Corak dominansi imperium dewasa ini dapat dikatakan merupakan sebuah pembaharuan dari sistem imperialisme lama. Bagian yang berbeda dari sistem imperialisme baru dapat dilihat dari pengaplikasian moral yang bertujuan untuk mencapai ketertiban bersama. 

Penulis berpendapat bahwasanya globalisasi di satu sisi mengubah pola dominansi dikarenakan pada dasarnya status hegemon tersebut seringkali hanya disandang oleh negara-negara maju saja, seperti Amerika Serikat. Namun perlu diingat bahwa globalisasi juga di satu sisi memberikan kesempatan bagi negara manapun untuk kemudian berada pada, atau bahkan melampaui posisi Amerika Serikat dalam hal dominansi. 

Dengan adanya fakta tersebut, dapat kita ketahui bersama bahwa Amerika Serikat tidak akan selamanya menjadi negara dengan kapabilitas dominansi tunggal, pola dominansi akan selalu berubah dikarenakan tiap negara pada dasarnya memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk menjadi negara dominan di tengah era globalisasi ini. 

Referensi: 

Callinicos, Alex. 2007. “Globalization, Imperialism and the Capitalist World System” dalam David Held dan A. McGrew. Globalization Theory: Approaches and Controversies. Cambridge: Polity Press. pp. 62-78

Harvey, David. 2003. “Consent to Coercion”, dalam The New Imperialism, Oxford: Oxford University Press, pp. 183-212.

Pieterse, Jan Nederveen. 2004. “Neoliberal Empire”, dalam Globalization or Empire?, London: Routledge, pp. 41-60.

Wallerstein, Immanuel. 2000. “Globalization or the Age of Transition: A Long-Term View of the Trajectory of the World-System”. International Sociology.Vol. 15 No. 2, pp. 249-265.