Manusia merupakan makhluk yang unik karena bisa menjadi objek dan subjek sekaligus. Hingga hari ini pertanyaan tentang manusia (Indonesia) akan tetap menjadi pembahasan yang menarik dikarenakan masih sangat banyak dimensi kemanusiaan Indonesia yang belum terselesaikan.

Dalam buku Man The Unknown yang ditulis oleh Dr. Alexis Carrel, dikatakan bahwa sesungguhnya pengetahuan tentang manusia belum mencapai kemajuan seperti yang telah banyak dicapai pada segmen ilmu pengetahuan lainnya. Menurut Carrel, pertanyaan tentang manusia sampai saat ini masih stuck tanpa jawaban.

Jati diri manusia sangatlah kompleks karena disamping sebagai makhluk individu, manusia juga memiliki dimensi lain sebagai makhluk sosial, makhluk budaya, makhluk politik, bahkan juga makhluk spiritual.

Sebagai perwakilan alam semesta, setiap manusia tentunya memiliki kelengkapan rohaniah untuk menjadi dirinya sebagai individu, disamping pelengkap dari kelengkapan bagian dari kemanusiaan secara universal.

Mengenali Manusia Jawa, Manusia Dayak, Manusia Ambon, bahkan Manusia Batak sekalipun mungkin akan lebih mudah dikarenakan karakteristiknya yang terbatas serta dipermudah kembali dengan batasan geografis yang empiris.

Sementara itu mengenali dan memahami manusia Indonesia tentulah tidak mudah dan akan selalu menjadi pekerjaan rumah untuk setiap manusia Indonesia yang memiliki karakteristik khas dan khusus dengan karakter Bhinneka Tunggal Ika. Meski terlihat satu, namun nyatanya terdiri dari ratusan bahkan ribuan elemen suku, ras, agama yang berbeda-beda.

Upaya memahami Manusia Indonesia ini menjadi penting karena erat kaitannya dengan kemajuan peradaban Indonesia di masa depan. Seberapa diperhitungkankah Indonesia di mata dunia dalam pengambil kebijakan skala Internasional yang mempengaruhi kehidupan banyak manusia lainnya.

Banyak dari kita yang merasa “semi” berbangga dengan julukan Indonesia sebagai “Macan Asia yang Tertidur”. Nyatanya kalimat yang terlihat tidak terlalu buruk tersebut merupakan metamorfosa dari keadaan yang sebenarnya tidak dapat dibanggakan sama sekali. Sederhananya, jati diri pemuda Indonesia masa kini begitulah jati diri bangsa sesudahnya.

Jati diri suatu bangsa dapat berkaitan dengan sejarah yang telah bangsa itu lalui. Seperti contohnya pada bangsa Turki yang pada zaman dulu pernah dikatakan sebagai sick Europe atau bangsa Eropa yang sedang sakit dan selalu dipermainkan oleh Uni Eropa.

Berzaman-zaman telah berlalu dan kini bangsa Turki kembali bangkit setelah menyadari akan jati diri kebangsaannya. Bahwa bangsa Turki dahulu kala adalah sebuah imperium yang sangat kuat dan superior dengan wilayah kekuasaannya yang sangatlah luas. Hal yang serupa pun terjadi pada bangsa Iran yang selalu dikucilkan oleh bangsa Barat dengan berbagai blokade yang menyudutkan Iran.

Iran justru bangkit dengan kesadaran revolusi Islam yang dipimpin oleh Imam Khumaini dan juga karena kesadaran yang diambil kembali bahwa bangsa Persia sejak dahulu merupakan bangsa yang hebat. Ketika beberapa negeri di Timur Tengah dibuat berantakan oleh Barat, Iran justru semakin kuat.

Semua cerita bahagia tentang negeri orang tadi dapat dijadikan pilihan yang tersedia di depan masing-masing wajah orang Indonesia. Pilihan tersebut memberikan dua jalan tindak lanjut atas fenomena yang telah digambarkan.

Jalan pertama adalah menjadikan gambaran tersebut sebagai pemantik kebangsaan yang dimana dengan begitu menjadikan semangatnya membara untuk kembali mengenali serta mencari jati diri bangsa Indonesia dan kelak melalui dirinyalah kejayaan Indonesia kembali diraih.

Sementara pilihan kedua memberikan tawaran atas semua gambaran tadi sebagai dongeng pelengkap tidur yang membantu mata menjadi lebih tenang dalam gelap dan terlelap dalam asmara kerinduan yang mendalam akan kejayaan negeri, dan terbangun di esok pagi dalam keadaan yang tidak jauh berbeda dari kondisi yang sudah berlalu. Kembali meratapi.

Lantas pilihan mana yang secara umum dipilih oleh masyarakat Indonesia? Mungkin apa yang pernah ditulis dan disampaikan Mochtar Lubis melalui Pidato Kebudayaannya di Taman Ismail Marzuki di Tahun 1977 mengenai tujuh ciri manusia Indonesia bisa menjadi jawabannya.

Ketujuh ciri tersebut yakni: (1) hipokritis, (2) Enggan bertanggung jawab atas perbuataanya, (3) berjiwa feodal, (4) percaya takhayul, (5) artistik, (6) berwatak lemah, dan (7) ciri lainnya seperti bermalas-malasan, kurang sabar, dan lain-lain.

Dimana Posisi IMM?

Kader IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) tentu akan peka melihat fenomena yang terjadi belakangan ini terutama pada ghirah kebangsaan masyarakat Indonesia. IMM sebagai salah satu otonom dari Muhammadiyah harus berfikir kembali atas segmentasi kemanusiaan yang akan diperjuangkan.

Gerakan sosial IMM bukan lagi berfokus pada pengentasan kemiskinan dalam wujud fisiknya, namun IMM wajib masuk pada lorong-lorong sempit kemanusiaan lainnya.

Melansir kata-kata dari Pak Hasbullah (Dosen Fakultas Kesehatan UMPRI), terdapat tiga bilik kemanusiaan yang IMM bisa berperan aktif didalamnya.

Bilik kemanusiaan pertama adalah pengetahuan, ini adalah satu bagian penting yang dapat menjadi pekerjaan besar IMM melalui aksi nyata nalar kemanusiaan hari ini. Kebodohan ini menjadi salah satu alasan besar atas mandegnya kemajuan peradaban Indonesia hingga mengakibatkan hilangnya orientasi kemerdekaan.

Disinilah harusnya IMM beserta seluruh kadernya bergerak. Dengan bermodalkan kompetensi IMM yang intelektual humanis sudah selayaknya IMM menjadi harapan utama lahirnya berbagai macam pergerakan terbarukan untuk mengentaskan kemiskinan akal dan pengetahuan yang menyerang banyak masyarakat dan bahkan mahasiswa Indonesia.

Bilik kemanusiaan yang kedua adalah kemiskinan fitrah hati. Bilik kemanusiaan ini juga harus menjadi konsentrasi utama IMM beserta kadernya sebagai pertanggung jawabannya menduduki kursi pergerakan mahasiswa yang memiliki kompetensi intelektual religiusitas.

Tentu IMM akan dapat merubah warna wajah peradaban masyarakat Indonesia yang per-hari ini secara nurani telah hilang pelan-pelan. Hawa nafsu bertebaran dimana-mana tanpa adanya kontrol hati.

Perlahan landasan teologis masyarakat seakan ditinggalkan dan serta merta membuat banyakhati yang kaku dan susah untuk menerima kebenaran. Nalar gerakan IMM juga seharusnya diiringi oleh pengkayaan hati, pendekatan Qur’ani, serta pendekatan ilahiyah lainnya demi terwujudnya masyarakat yang agamis.

Bilik kemanusiaan terakhir yakni kemiskinan jiwa sosial. Kehidupan yang semakin hari menjadi semakin individualistik tersebut menjadi beban besar IMM sebagai pergerakan mahasiswa yang bernafaskan nilai juang kemanusiaan.

Disini IMM-pun berperan besar untuk memberikan pemahaman akan pentingnya jiwa bertahan hidup dari hasil berfikir kreatif dan menghargai satu sama lain dengan menyadari bahwa manusia pasti akan tetap membutuhkan manusia lainnya sampai kapanpun dan dimanapun.

Sampai hari ini IMM harus terus mampu menjadi penjaga bangsa dalam sisi kemanusiaan dan pengetahuan. Jangan sampai IMM ikut terjebak dalam romansa dialektika intelektual yang hanya berujung pada wacana tanpa aksi dan benar-benar dapat menghilangkan marwah IMM sebagai wadah pergerakan keIslaman dan kemanusiaan.

Kematian IMM akan menjadi kematian harapan akan peradaban yang dicita-citakan. Jangan pernah mati, jangan pernah putus asa. Muhammadiyah, Islam, dan Indonesia telah terlanjur berharap akan kemajuan IMM di hari ini, esok, dan nanti.