Mahasiswa
1 bulan lalu · 2543 view · 5 min baca · Gaya Hidup 36986_88261.jpg
Foto: RRI

IMM Lebih Religius dari Sobat Hijrah dan Sejenisnya

Setelah melakukan berbagai pengamatan, ternyata jarang sekali saya temukan tulisan tentang IMM di Qureta. Para pembaca, bahkan redaktur Qureta sekalipun, saya yakin masih asing di telinganya kata IMM. 

Sebenarnya apa sih IMM Itu?

Oke, saya jelaskan, IMM itu akronim dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, organisasi mahasiswa Islam moderat yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, seperti organisasi kemahasiswaan Islam moderat lainnya seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan PMII yang memiliki afiliasi dengan NU.

Di sini saya, yang juga ikut IMM, mau berbagai keresahan yang saya alami.

Memang sedih sekali punya organisasi-organisasi yang berafiliasi ke Muhammadiyah, mulai dianggap tidak lucu, garing, anti-budaya, hingga jarangnya dibahas di Qureta.

Di tataran organisasi kepemudaan Muhammadiyah seperti IMM ini, warisan gen kesedihan dari bapak kami, Muhammadiyah, turut kami dapati. Namun, tipe kesedihannya itu sangat khas mahasiswa kekinian. 

Bukan akibat ibu kos galak, kantong kering ataupun kejombloan, namun harus melihat fakta bahwa kami harus berhadap-hadapan dengan rival komunitas mahasiswa lain yang mahatenar, mahadahsyat, dan mahasyar’ie: Komunitas Hijrah.  


Ya, komunitas hijrah kawan-kawan. Beberapa anak IMM bermigrasi (eksodus) dan lebih memilih komunitas ini. Hal tersebut menjadi problem sangat besar di setiap organisasi kemahasiswaan yang sangat membutuhkan kader penerus. 

Kalau semuanya pergi, lantas siapa yang meneruskan roda perjuangan ini? Prabowo? Sangat mustahil.

Ragam dan variasi alasan kerap saya temui. Dari yang katanya anak IMM kurang kajian keagamaannya, anak IMM sering telat salat, jarang ngaji, pakaiannya kurang islami, dan alasan yang paling buanyyakk ditemui, yaitu keseringan belajar filsafat. 

Jika saya kerucutkan, kenapa mereka memilih pindah haluan, ialah karena satu sebab: IMM kurang religius.

Saya berpikir keras setelah itu. Jadi organisasi kemahasiswaan yang menginduk ke persyarikatan yang punya lebih dari 5000-an masjid itu kurang religius? Organisasi mahasiswa yang jelas-jelas nama belakangnya dinisbahkan langsung ke “Muhammad” itu kalah religiusnya dibanding sobat hijrah yang aktif ikut kajian pra-nikah?  

Sebenarnya makna religius dalam benak mereka itu seperti apa? Benarkah IMM kalah religius dibandingkan sobat-sobat hijrah tersebut?

Religius, jika kita lihat menurut maknanya dalam KBBI, itu berarti bersifat religi/keagamaan; atau lebih gampangnya, itu ialah segala hal yang bersangkut-paut dengan religi/agama. 

Model keterikatan manusia dengan agama pun tidak bisa dipukul rata menjadi satu model. Menurut Pradana Boy ZTF, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang, dimensi religiusitas/agama, dalam konteks ini agama Islam, itu dibagi menjadi tiga hal: (1) sgama (Islam) sebagai doktrin dasar akidah, syariat, akhlak; (2) Islam sebagai praktik dan ekspresi budaya; (3) Islam sebagai disiplin ilmu.

Namun sangat disayangkan, alam pikiran mayoritas umat Islam di Indonesia tempo hari, jika mendengar kata “religius”, pasti merujuk pada hal-hal keagamaan yang bersifat ritual (praktik/ekspresi budaya). 

Seperti salat tepat waktu, berpakaian syar’ie, sering ikut kajian siroh nabawiyyah, hingga mengubah kata ganti orang kedua menjadi antum


Maka jangan heran, fenomena-fenomena hijrah sekarang, umumnya kalangan mahasiswa, masih dipahami pada tataran ritual dan simbol. Misal, hijrah dari yang tak bercadar menjadi bercadar, hijrah dari pakai celana isbal ke cingkrang, dari yang tak berjenggot ke berjenggot, hingga hijrah dari yang semula kaosnya tertulis “MacBeth” berubah menjadi “I Love Muhammad”, dan lain sejenisnya.

Saya lumayan jengkel tatkala melihat anak-anak IMM yang meninggalkan tanggung jawab organisasi karena alasan hijrah. Aduh, memang menjalankan amanah itu bukan termasuk syariat Islam yang wajib dilaksanakan?

Ada juga yang tiba-tiba keluar saja dari kepengurusan tanpa ada keterangan karena ingin mengarungi suasana hidup baru yang lebih islami. Bukannya minta izin atau tabayyun itu menjadi kewajiban agama? Hmm; subur eksistensinya, namun gersang esensi.

Lagi pula, saya sangat tidak setuju jikalau IMM dikatakan tidak religius. Saya berani membandingkan mana yang lebih religius antara IMM dan Sobat Hijrah.

Saya memakai tiga pembagian dimensi religius di atas sebagai parameter. Pertama, agama sebagai doktrin dasar. 

Doktrin dasar agama itu salah satunya ialah akidah. Dalam ranah akidah, sudah pasti antara IMM dan Sobat Hijrah sama-sama mempercayai bahwa Allah itu ialah Rabb alam semesta dan Muhammad itu Rasulullah. Di sini IMM dan Sobat Hijrah setara.

Dimensi kedua, yaitu tentang Islam sebagai ekspresi budaya. Di sini biasanya justifikasi terjadi. Sobat hijrah merasa lebih agamis jika telah menanggalkan simbol-simbol tertentu, dan beralih ke simbol-simbol lain yang seolah-olah lebih islami. 

Peralihan simbol itu tidak hanya berjalan sendiri, namun sering diikuti oleh klaim diri lebih islami daripada sobat yang belum berhijrah.

Namun, implikasinya menjadi berbahaya. Mereka mulai menjaga jarak dari orang-orang yang dianggap tidak islami/syar’i hingga mudahnya mulut melontarkan penghakiman-penghakiman atas sesuatu. Masih ingat kasus Tengku Wisnu dan Zaskia Sungkar, kan?

Islam sebagai praktik dan ekspresi budaya pun bermakna bahwa ajaran-ajaran pokok yang bersifat tetap, abadi, universal, dan kosmopolit pada faktanya bisa menampakkan diri dalam ekspresi sosial budaya berbeda-beda ketika berdialektika dengan aneka ragam masyarakat, ditambah lagi ragam mazhab dan pemikiran agama. 


Ada yang menganggap celana cingkrang dan niqob itu sunnah, namun juga ada juga yang berkeyakinan bahwa itu bukan sunnah.

Contohnya, Muhammadiyah berfatwa bahwa cadar itu bukan sunah dan pakai celana isbal itu nggak mutlak dosa, asal tidak sombong; dan Muhammadiyah pun tidak mungkin tanpa dasar yang kuat dalam membuat fatwa tersebut. 

Maka sangat naif jika menilai syar’ie atau tidaknya seseorang dari simbol yang ia pakai. Di sini antara IMM dan Sobat hijrah dipersilahkan memakai simbol/busana masing-masing yang menurut mereka syar’ie. 

Bukankah anak IMM juga sering telat salat lima waktu? Yakin kalau sudah “hijrah” bisa sepenuhnya salat lima waktu tepat waktu di masjid? Jikalau suatu saat ketika mau salat malah ingin BAB, bagaimana ? Mau ditahan? Kan, tidak baik? 

Islam pun memberikan keringanan untuk masbuq; selama mengikuti prosedur masbuq, masih dikatakan Islami. Kecuali, sudah telat salat tapi tidak mau mengganti rokaat yang kurang, nah seperti itulah yang tidak syar'ie.

Di poin Islam sebagai disiplin Ilmu. IMM-lah yang lebih kafah. IMM tu sering sekali diskusi tentang Filsafat, terutama filsafat Islam. Pembahasan Filsafat Islam itu harus runtut, mulai belajar dari filsafat pra-Sokrates, pasca-Sokrates, Hellenisme, Skolastik, sejarah Nabi, Ilmu Kalam, dan baru belajar Filsafat Islam. 

Jika langsung mempelajari filsuf muslim, misal al-Farabi dan al-Kindi, pasti tidak mendapatkan pemahaman yang paripurna. Karena pemikiran filsuf muslim itu terpengaruh filsuf barat. Kurang religius apa anak IMM itu?

Lagi pula, anak IMM belajar filsafat itu dalam rangka meneladani tradisi umat Islam pada era keemasan, yaitu era Abbasyiah yang kuat tradisi filsafatnya. 

Sobat hijrah, pernahkah belajar Islam se-dalam itu? Jadi siapa yang lebih religius? Jawabannya ada di judul.

Artikel Terkait