Saya yang kelahiran tahun 80an adalah generasi yang perasaan, pikiran dan mentalnya yang sudah direcoki oleh orde baru. Alam bawah sadar saya bila melihat orang tionghoa selalu saja membawa perasaan marah dan sinis seakan-akan merekalah penindas kehidupan kita selama ini.

Rasa terancam dan inferior adalah rasa yang dipelihara oleh negara saat itu di dalam diri rakyatnya, agar mudah dikendalikan dan diatur oleh negara.

Perasaan dan pikiran ini bertahan cukup lama dalam diri saya, namun alam selalu punya cara sendiri dalam merekonstruksi pikiran manusia itu sendiri. Sejarah hidup saya mulai dikikis perlahan dengan saya harus sekolah di marabahan.

Di tempat ini saya sekolah di pesantren yang dikelola oleh kyai yang keturunan dari syekh Muhammad Arsyad al Banjary dari istri yang keturunan Tionghoa, sehingga paras kyai nampak oriental. Tapi mereka menganggap dirinya sebagai dayak bakumpai.

Inilah yang mengubah pemikiran saya, bahwa persilangan budaya sudah berlangsung lama dan sudah mengakar kuat di masyarakat kita.

Stigma akan orang Tionghoa di sekitar kita mungkin belum banyak berubah. Namun di daerah Kalimantan Selatan, stigma ini dipendam dalam di alam bawah sadar masyarakat.

Karena itu, ketika dibangkitkan dari alam bawah sadar, akan menyeruak dalam bentuk kekerasan. Maka itu pembongkaran stigma ini harus terus dilakukan dan menjadi tanggung jawab semua pihak.

Perayaan Imlek yang begitu meriah didepan umum dan melibatkan banyak orang adalah cara paling sederhana untuk menghilangkan stigma ini.

Di tengah masyarakat kita yang ruang publiknya sudah terlalu banyak dirampok oleh pihak-pihak yang serakah, perayaan imlek menjadi hiburan yang menarik dan selalu menjadi perhatian masyarakat kita bahkan sekarang sudah menjadi hal yang selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat kita kapan barongsai beraksi dikampung mereka.

Atraksi Barongsai di depan Klenteng Nurani Suci yang dilaksanakan tahun lalu menjadi agenda yang paling ditunggu oleh masyarakat kita.

Kalau kita mau melek sejarah, upaya stigmasisasi ini pada awalnya dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan diteruskan dengan sangat baik oleh Pemerintah Orde Baru. Perlawanan akan hal ini pernah dilakukan oleh seorang sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Pram beliau akrab dipanggil, pada tahun 1960 menerbitkan buku sejarahnya yang pertama, Hoakiau di Indonesia.

Dalam buku ini Pram menjelaskan bahwa dalam darah kita, yang mengklaim darah asli Indonesia, sudah lama tercampur dengan darah Tionghoa. Namun usaha ini seakan-akan hilang ditelan sejarah, dan kembali menyeruak setelah Abdurrahman Wahid menjadi pemimpin negara ini.

Gus Dur panggilan bagi Abdurrahman Wahid waktu itu langsung mencabut inpres nomor 14/tahun 1967 dengan mengeluarkan Keputusan Presiden nomor 6 tahun 2000 dan menyuruh menteri dalam negeri waktu itu Soerjadi Soedirja untuk juga mencabut edaran menteri tahun 1978  yang mengatur agama resmi.

Sehingga imlek dan cap go meh sekarang sudah bisa dilakukan secara bebas. Inilah kenapa Gus Dur dianugerahi Bapak Tionghoa oleh masyarakat Tionghoa pada masa itu juga.

Dalam hal ini kita belajar, bahwa pemahaman akan etnisitas dalam pikiran kita perlu dibongkar lagi karena tidak ada etnis yang asli di Indonesia ini. Semuanya sudah mewarnai Indonesia dengan warna masing-masing. Dan jadilah Indonesia sekarang yang indah dengan banyak warna.

Pemerintah sekarang ini sudah beberapa kali gagal dalam mengelola banyak warna tersebut hingga menjadikan kasus-kasus kekerasan atas dasar perbedaan baik itu agama, kepercayaan dan suku mulai mewabah dan memiliki pola yang sama, mulai dari Kerusuhan Tolikara, pembakaran gereja Aceh Singkil, pengusiran paksa eks Gafatar di Mempawah dan yang terakhir Pengusiran Jemaat Ahmadiyah di Bangka.

Kasus-kasus ini seakan-akan dibiarkan dan tidak diselesaikan dengan penegakan hukum yang adil, sehingga ini membuat preseden yang buruk bagi bangsa kita sendiri.

Inilah saatnya kita seluruh elemen bangsa untuk mulai membangun suasana  yang kondusif bagi kehidupan dalam perbedaan, Indonesia yang bagi Pramoedya Ananta Toer masih bingung diambil dari mana, sudah harus menjadi tempat yang nyaman dan tenang bagi kita semua.

Semua stigma dan prasangka buruk harus mulai dihilangkan sehingga kita bisa hidup nyaman, sebagaimana lirik salah satu lagu lawas yang mungkin jarang terdengar,

Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada di sini
Rumah kita
Rumah kita Ada di sini.”