Penulis
1 tahun lalu · 1386 view · 3 menit baca · Filsafat 20013_27953.jpg
godisrealtoday

Imanen dan Transenden

Ada dinding pemisah yang sangat tajam antara posisi imanen dan transenden. Sebagai wilayah meta-empirik, transenden sering kali tidak bisa dipahami bahkan sekadar menggunakan akal sehat. Dalam tradisi agama atau sekadar penghayat kepercayaan non-normatif, dua kata itu dapat dimediasi oleh yang profan dan sakral.

Agaknya istilah terakhir di atas jauh lebih mudah dipahami dalam melihat struktur realitas berdasarkan sifat dasarnya. Karena, manusia selalu melihat segala sesuatu melalui sudut pandang yang itu mewarnai cara kebermaknaan realitas di hadapannya. Yang profan, di samping bersifat material, juga berubah-ubah. Sakral lebih merupakan dimensi transpersonal di mana manusia meleburkan intensinya pada satu titik kecenderungan yang sakral tersebut.

Imanen sering menduduki posisi yang duniawi, material, kesementaraan, berubah-ubah, dan tidak memiliki makna yang pasti di hadapan realitas yang maha mutlak, yang lalu manusia melebur dalam makna itu. Yang transenden sebaliknya, ia selalu mengisi keterdalaman dari segala sesuatu, selalu berada di balik yang nyata, di balik kemungkinan yang tak mungkin dikatakan.

Kasus kaum realis yang mentok pada wilayah fisik, menunjukkan jalan buntu pada idealisme yang mula-mula berawal dari pertentangan-pertentangan epistemik di tengah hasrat akan pemahaman yang lebih mendalam tentang kenderungan transendental. Meski, jalan buntu yang mereka hadapi, selalu saja menemukan titik celah untuk maju sampai tak terhingga.

Kaum realis percaya bahwa realitas pada prinsipnya berdiri sendiri di luar kesadaran. Tanpa ada pengaruh subjektivitas manusia, alam semesta telah berdiri tegak di atas tiang materi-materi. Hal ini menimbulkan reaksi keras dari kaum formalis yang percaya bahwa ada pengaruh kesadaran dalam realitas. Itu artinya bahwa realitas tidak benar-benar berdiri sendiri secara apa adanya.

Imanensi diri membawa kecenderungan-kecenderungan pada sikap perubahan yang terus-menerus terjadi tanpa diiringi oleh superioritas kesadaran transenden. Meskipun, ada satu kepercayaan bahwa transendensi diri dimulai dari satu kekuatan yang berpijak pada dimensi imanen dan ini memberikan satu pijakan fundamental di mana ruang transenden itu diderivasikan.

Dari sudut materi, ruang meta-empirik tidak memiliki arti apa-apa kecuali spekulasi subjektif yang tidak memiliki landasan strukturalnya. Hanya ketika ia difungsikan sebagai “ada” dalam dirinya sendiri, maka tidak ada satu entitas yang dapat terpahami memalui mekanisme yang dikembangkan pada fungsi di luar pengadanya.

Entitas objektif yang mengarah pada status ontologis, hanya merupakan satu sudut pandang dari kepercayaan terhadap sesuatu yang “kasat mata” namun dapat dipahami secara linier tanpa menggunakan logika dalam segala bentuknya. Bagaimana ini dipahami, tanpa mematahkan argumentasi fungsional dari struktur realitas, tampaknya sikap ontologis memberi cara bagaimana ia dapat mewujud dalam mekanisme yang terstruktur dalam realitas di luar dirinya.

Dalam cara bagaimana orang beragama, yang profan dan sakral sering kali memudahkan dalam memahami struktur realitas yang dasar-dasarnya dapat dipahami secara apa adanya diluar kesadaran subjektif yang mengada. Namun demikian, transformasi idealistik terhadap sikap sakral tidak memiliki arti apa-apa ketika struktur binernya digugat dengan mencari kelemahan-kelemahan terhadap kategori di mana ia memiliki landasan dan diciptakan.

Transenden, yang dipahami sebagai mencakup segala-galanya, mengatasi segala sesuatu dan substansi-substansi dari setiap entitas, pada akhirnya hanyalah sebatang materi tumpul yang dipahami secara berbeda-beda dalam isi kepala yang berubah-ubah. Ini suatu sikap dangkal yang muncul dari kriteria-kriteria materi yang secara sempit memiliki arti energi yang berubah-ubah secara kasat mata.

Ketika yang imanen distrukturkan memalui mediasi bahasa ketika bahasa hanya sebatas sesuatu yang mencerminkan realitas, namun demikian, bahasa tampaknya adalah realitas itu sendiri yang di dalamnya banyak memuat instrumen-instrumen ideologis yang memungkinan kepercayaan hadir dalam bagian terkecilnya. Sebatas mencerminkan tidaklah memenuhi pemahaman akan arti terdalam dari sebuah kedalaman.

Dari situlah lalu, imanensi tidak hanya memuat materi-materi, spekulasi-spekulasi, dan perubahan yang tak pasti, tetapi secara tidak terlihat imanensi menghadirkan endapan-endapan transendensi melalui kerangka ideologis yang tertanam secara kuat pada wilayah bahasa yang mederivasikan posisi imanan para kondisi ruang dan waktu yang berbeda.

Ini tidak perlu dipahami sebagai suatu pertentangan yang mutlak terbedakan sejak dahulu kala, bahwa di dalamnya memuat banyak kontradiksi-kontradiksi, sebuah makna yang tumpang tindih satu sama lain, tidak tetap sekaligus tetap. Semestinya ini tidak disudutkan sebagai sebuah kesalahan mendasar dari kriteria yang pernah dipahami sebelumnya. Rasio kolektif harus beranjak dari sini untuk menentukan absolutisme dari imanensi yang transenden.

Tentu saja, pemahaman yang berbeda dan memang berbeda boleh-boleh saja, ini bukan urusan mutlak-mutlakan dalam menilai sesuatu, hanya menguak satu sisi lain dari dua entitas yang tampaknya selalu dipertentangkan melalui mediasi bahasa yang selalu luput dalam menggambarkan struktur realitas yang pada prinsipnya selalu berkesinambungan satu sama lain tanpa harus melihat pada posisi hierarkisnya atau secara vertikal terbedakan. Ini sudah inheren dalam dirinya sendiri.