"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Dia berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah [2]: Ayat 30)

Mengapa kamu mesti beribadah?

Karena saya punya Tuhan, saya ingin berbakti padanya. Kelak saya akan bahagia dunia dan akhirat jika menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 

Saya akan menempuh perjalanan spiritual. Gunanya adalah pengenalan diri. Puncaknya, saya akan mengenal Tuhan. Syariat diturunkan Tuhan, supaya saya melakoni hidup dengan benar, supaya saya selamat dunia-akhirat, supaya saya terhindar dari siksa-Nya.

Supaya saya... saya... saya....

Lalu mengapa salat berjemaah pahalanya 27 derajat dibanding salat sendiri?

Salat munfarid (sendiri), hanya ada saya. Sedang salat berjemaah, ada saya, kamu, dia, kita, dan mereka. 27 derajat itu keistimewaan bagi yang suka bersama. Jelas perintahnya supaya berinteraksi, memperhatikan kebutuhan bersama, menghormati pilihan masing-masing, harus saling ada kesepahaman, terlebih saling peduli pada keadilan bersama.

Salat sendiri keutamaannya 1 derajat, bukan nol derajat. Sebab tak ada perbuatan yang sia-sia, semua dihargai sebagai sebuah upaya yang luar biasa. Hanya saja, bersama lebih utama, orang lain perlu dipikirkan. Hal itu mengandaikan saya berpikir, orang lain yang saya pikirkan. Di lain pihak, orang lain berpikir, termasuk saya dipikirkannya.

Iman itu berangkat dari komitmen person kepada Tuhan. Segala perbuatan akan dimintai tanggung jawabnya secara individual. Akan tetapi, perlu kita sadar, di luar kita adapula person-person yang lain, ada individu-individu yang lain. 

Max Weber seolah-olah berkata, kalau masih seputar dirimu, ya, masalahmu pribadi, itu tindakan individual. Tetapi kalau masalah itu melibatkan orang lain, jadinya tindakan sosial. Individumu bisa jadi akan melibatkan individu yang lain, pun demikian sebaliknya.

Dunia ini bagai sebuah pentas pertunjukan, demikianlah kata Erving Goffman. Kita layaknya seorang aktor yang memainkan peran di atas pentas. Kita disaksikan oleh penonton, memiliki citra diri. Penonton menyambut dengan tepuk tangan. Di samping adapula ungkapan benci, keharuan, ada kesedihan, tragis dan klimaks.

Pentas tidak saja menyediakan ruang interaksi antara aktor dengan penonton, atau antara aktor satu dengan yang lainnya, tetapi ada ruang di balik layar, yakni di bilik tersembunyi sang aktor. Di sana ia tidak disaksikan sesiapa, dirinya adalah miliknya pribadi. Tak perlu citra, sebab dia tahu seperti apa dirinya, walau terkadang ia tak mengenalnya.

Ruang di balik layar adalah tempatnya individu khusus bersama Tuhan, begitu asumsi sementara orang. Para nabi berbeda, ruang khusus berawal dari balik layar, puncaknya adalah di atas pentas. Mereka adalah aktor-aktor penentu jalannya sejarah. 

Skenario atas perjumpaan yang membentuk struktur interaksi sosial, mampu diubah secara ekstrim (revolusi). Bukannya aktor-aktor itu bermain sesuai skenario kehidupan yang materialistis.

Para Nabi, terkhusus Muhammad saw. baik di balik layar maupun di atas pentas sosial, hanya satu yang ada di pikirannya; "Ummati", umatku, rakyatku, masyarakatku, orang-orang yang mengikuti kebenaran yang aku bawa, serta untuk seluruh alam; termasuk yang membangkang padaku. Jadi, Nabi itu tidak seperti kita, berbuat kebajikan demi iman yang individualistik--demi "saya".

Segala urusan kita, jika tujuannya adalah demi kebaikan "saya", itu tidak sedang mencontoh Nabi. Meskipun secara fashion style, cara makan, cara minum, dan cara bertutur kata diklaim mengikuti Nabi. Bukan, melainkan nabi berlaku apapun, semua adalah untuk "umatku".

Termasuk dalam hal melawan wabah Covid-19, kita perlu mempertanyakan, apakah di pikiran kita segala hal yang kita lakukan adalah demi kebaikan "saya"? Itu iman yang individualistik.

Paradigma sudah harus berubah, jika kita benar-benar mencontoh Nabi, mulailah berpikir segala sesuatu demi "umatku". Kita mendengar arahan dari berbagai pihak untuk melawan wabah Covid-19, semata untuk kemaslahatan umat.

Tidak baik kita menjadi orang-orang bebal. Tatkala otoritas keagamaan di negeri ini mengimbau jauhi kerumunan, termasuk rumah ibadah, salat jumat, salat berjemaah dan lain sebagainya, tak patut kita tersinggung dengan mengangkat ke permukaan iman individualistik itu. 

Tak perlu kita marah-marah dan selalu menyalahkan pemikiran yang berbeda, misalnya dengan, "Iya, kamu imbau masyarakat jauhi masjid, kalau datang murka, bukan hanya kalian yang kena, tetapi juga 'saya'", lagi-lagi ada kata "saya".

Prinsip itu menjadi benar jika ia berada di luar kondisi darurat. Olehnya dalam Islam ada istilah "Rukshah", keringanan untuk menjalankan perintah agama, dengan syarat harus memenuhi kategori kondisi darurat. 

Sekali lagi, konteksnya bukan karena "saya juga ikut kena", tetapi ini kondisi darurat. Dimana jika "saya" bertahan dengan ghirah keimanan saya yang seperti biasanya (tak mengenal kondisi darurat wabah), maka bukan "hanya saya yang kena musibah, tetapi juga orang banyak"--umat.

Jadi, bawalah iman semesta, iman yang fungsional. Keimanan kita mesti diwujudkan dalam fungsi sosial, yakin kepada Allah bukan saja untuk "saya" masuk surga, tetapi untuk menjadi khalifah, menjadi wakil Tuhan di muka bumi. Itulah fungsi yang dijalankan oleh para Nabi. 

Jika sekadar ibadah saja, kita baru pada tahap individual, itu baru memenuhi ranah kehidupan di balik layar. Mestinya dibarengi dengan pemenuhan di atas pentas sosial, iman harus berfungsi menyelamatkan. Paradigma harus seperti itu.

Mestinya iman itu harus mengejawantah dalam maksimalisasi berpikir dan bertindak. Tidak hanya terjebak dengan hal-hal yang tampak dipermukaan sebagai yang baik, namun sejatinya membahayakan. 

Atau sebaliknya, hal sepintas terlihat sebagai keingkaran, namun sejatinya ia menyelamatkan. Kali ini kita harus lebih percaya pada akal, ketimbang lebih percaya pada mata.

Saat ini, selama masih darurat wabah Covid-19, yang kita butuhkan bukan melihat sikap menjauhi masjid sebagai fenomena keingkaran pribadi, sebab kelihatannya kita menuruti nafsu dunia demi selamat dari kematian. 

Bukan, yang kita butuhkan adalah melihat masalah ini secara lebih luas, ada banyak orang yang harus selamat dari kematian, dan kemudian setelah itu mereka akan melanjutkan tugas-tugas kekhalifahan yang lebih besar jika wabah telah selesai.

Seyogianya, kita yang secara individual menyebut diri dengan "saya", perlu mendengarkan para ahli yang sudah berpikir keras untuk "umat". Dengan begitu, sesungguhnya kita sudah termasuk orang yang bekerjasama dalam menjauhi mudharat. Kita menjadi agen-agen kebaikan, aktor-aktor yang berperan menebar kebaikan di atas pentas peradaban umat manusia.