Beberapa tahun yang lalu, saya berkunjung ke petani Surokonto Wetan, Kendal, Jawa Tengah, yang mengalami konflik persengketaan lahan perkebunan dengan pemerintah. Konon, kini dua petani yang dikriminalisasi oleh negara itu sudah bebas dari hukuman penjara.

Dalam kunjungan saya bersama Tim Guyub Bocah Yayasan Satu Nama Jawa Tengah tersebut, saya terkagum dengan pengorganisasian petani yang lagi-lagi diperankan oleh ibu-ibu rumah tangga. Terutama setelah penangkapan Kiai Nur Aziz dan Mbah Rusmin kala itu, ibu-ibu saling menguatkan satu sama lain untuk tetap melawan. 

Sementara kasus terakhir yang menimpa petani Surokonto Wetan, yaitu ditangkapnya dua petani oleh aparat keamanan dengan tuduhan pembalakan liar dan pengorganisasian massa melawan peraturan hukum itu. Adalah pola umum pemerintah menghalalkan segala cara merampas hak-hak dan ruang hidup masyarakat.

Kenyataannya, dalih hukuman dan sanksi yang ditimpakan oleh petani tidak menyurutkan perjuangan petani Surokonto Wetan dalam mempertahankan hak atas lahan yang sudah ditanami jagung dan karet. Bagi mereka, menanam adalah melawan merupakan dalil hukum alam yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dari seorang petani.

Sungguh memang benar adanya ketika saya berada di lapangan. Tanaman jagung yang sudah tumbuh tinggi dan karet yang tiap hari disadap di lahan seluas kurang lebih 127 hektare merupakan lahan yang sudah dikelola sejak nenek-moyang mereka (mbah Suryo Konto) hidup di daerah itu.

Tetapi oleh pihak perusahaan, dalam hal ini PT Semen Indonesia Tbk yang telah menukar-gulingkan (klaimnya) lahan atas pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara, Rembang, tetap bersikukuh bahwa lahan tersebut adalah tanah milik negara yang tidak diperjual-belikan seperti yang tertera pada plang-plang yang ditancapkan umumnya oleh pemerintah.

Persoalan muncul apakah lahan yang sudah digarap oleh petani Surokonto Wetan bertahun-tahun itu dibeli oleh nenek-moyang mereka berabad-abad yang lalu, ataukah justru negara dalam hal ini Perhutani yang memperjual-belikan lahan kepada investor nasional itu. Merupakan tanda tanya besar terhadap komitmen pemerintah dalam penyelesaian konflik-konflik agraria yang sering terjadi.

Kekaguman saya pada petani Surokonto Wetan dalam mempertahankan hak atas lahan itu tergambar ketika saya melihat kebahagiaan petani memotong rumput untuk makanan hewan ternak, membangun pos ronda untuk tempat berkumpul, menyadap getah karet di kebun sambil membakar singkong, atau sekadar melihat anak-anak yang ceria memainkan binatang kaki seribu.

Namun, kekaguman saya tersebut berbanding terbalik dengan imajinasi petani tentang lahan yang ditanaminya untuk kebutuhan sehari-hari, syukur-syukur bisa diperjual-belikan di pasar desa. Terpupus oleh imajinasi pemangku kebijakan publik mengusir petani dengan cara-cara represif atau menakut-nakuti melalui perangkat hukum yang ada untuk kepentingan pembangunan.

Kesadaran Petani  

Jauh-jauh hari sebelum Indonesia merdeka, Bapak Bangsa (Founding Fathers) kita banyak menuliskan gagasannya tentang kesadaran petani. Soekarno dengan Wong Cilik-nya yang bernama Kang Marhaen sering dikutip di mana-mana tentang pentingnya pertanian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Imajinasi sosiologi petani Soekarno menempatkan kesadaran petani dalam sejarah politik kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, terdapat pula penelitian yang berjudul The Peasent’s Movement in Indonesia (1927) karya Sumira Dingley atau nama samaran Iwa Kusuma Sumantri. Penelitian itu berisi tentang perjuangan dan konflik petani dengan perusahaan perkebunan Eropa, beratnya beban pajak, pemilikan tanah yang luas dan para raja-raja lokal, aktivitas lintah darat Cina dan para haji, juga tentang petani tak berpendidikan yang tidak mengetahui hak-hak politiknya, dan berbagai pengalaman organisasi tani.

Imajinasi Soekarno dan Iwa Kusuma Sumantri tentang petani dalam karya-karyanya itu merupakan kesadaran ekonomi-politik bangsa Indonesia terhadap kondisi petani yang dirugikan. 

Jika Iwa Kusuma Sumantri menunjukkan berbagai perlawanan petani dalam sejarah Indonesia akibat penguasaan lahan oleh pemilik modal, maka Soekarno menjelaskan bahwa petani adalah mereka yang mempunyai alat produksi tapi dieksploitasi oleh sistem kolonial.

Imajinasi petani Soekarno lebih mengedepankan kesatuan identitas sebagai bentuk strategi politik dalam perjuangan melawan kolonial, sehingga Marhaen lebih cenderung merupakan pernyataan ideologis. Maka imajinasi petani menurut Iwa Kusuma Sumantri adalah kesadaran mengagraria yang dimiliki oleh petani. (Luthfi, 2011)

Bahwa ia melihat sejarah kolonialisme di Indonesia sebagai sejarah agraria dan berbagai persoalan agraria yang ada di dalamnya merupakan kesadaran politik. Terutama petani melakukan pergerakan sebagai respons dari sistem penguasaan sumber-sumber agraria yang ada, maka imajinasi petani itu sesungguhnya adalah keadilan agraria.

Imajinasi petani Surokonto Wetan itu adalah memori kolektif keadilan yang diperjuangkan. Mungkin tidak berlebihan jika saya menegaskan bahwa kenyataan yang teralami oleh petani saat ini adalah cipta, rasa, dan karsa tentang persoalan kebangsaan kita yang gawat tentang penguasaan struktur agraria di Indonesia.