25697_93390.jpg
koran-jakarta
Lainnya · 5 menit baca

Imajinasi Batu Menjadi Kertas

Ketika bicara mengenai kertas, saya jadi teringat cerita Oppung Raja Goda ( Kakek ), kalau mereka dulu sekolah tidak memakai kertas, mereka hanya memakai lee ( berupa Sabak)  bahan yang terbuat dari batu seperti papan tulis mini yang berfungsi sebagai kertas atau buku tulis . kalau di ibaratkan ke zaman now seperti gadget dan HP android yang kita pakai sekarang. Lee bukan kertas, tetapi batu  sarana menulis di zamannya.

 Di zamannya setiap orang memiliki lee, mereka menulis dan membaca dengan lee, setelah selesai belajar mereka menghapusnnya, mereka tetap bisa sekolah dan bisa menulis dengan lancar dan berhitung dengan cepat. Dizaman itu mereka belum mengenal kertas, mungkin setelah membaca tulisan ini, pembaca akan bertanya berapa sih umur kakeknya?. Oppung saya berumur 94 tahun dia sekolah di ELS zaman belanda dan hanya kelas 1 yang setara dengan kelas 1 SD.

Oppung saya pernah bilang,  apakah alat tulis berupa sabak ini bisa menjadi alat tulis yang modern dan menyenangkan, bisa dibawa kemana-mana. Dengan keluguan nya dia mengatakan, kalau sabak ini dikembangkan menjadi alat tulis penciptanya akan menguasai dunia. Saya pun berpikir kok begitu yakinnya dia mengatakan seperti itu.

Walaupun tidak ada kertas tetapi mereka bisa menulis, membaca, berhitung. Uniknya adalah mereka pintar-pintar dan bisa menghasilkan karya. Daya ingat luar biasa dan mereka bisa menggambar, mengukur bagai seorang insyniur, bicara pengetahuan mereka tidak kalah.

Di zaman bapak saya sekolah tahun 50 an kertas sudah ada, alat tulis telah ada seperti buku tulis, pulpen dan lainnya, namun kertas belum begitu banyak, kertas digunakan secukupnya. dengan adanya kertas kakek saya pun jadi mengenal kertas. Bapak saya pernah cerita, suatu ketika kakek melihat alat tulis dari kertas, dia tercengang, sambil memperhatikan buku tulis bapak saya dia berkata “ apa ini, seperti kue lapis enak ada warna-warni”, dia mengira buku yang terbuat dari kertas itu kue lapis”

Cerita lucu lagi mengenai kertas,  oppung saya tidak mau menulis di buku tulis, dia lebih senang, menulis di kotak rokok atau di bungkus rokok, mungkin dia selalu teringat dengan lee ( sabak) alat tulis yang selalu mereka pakai. Cerita ini memberikan pengetahuan baru bagi kita, bahwa ketergantungan manusia akan kertas bukan tidak mungkin di minimalis.

Di zaman saya sekolah, semua serba kertas, buku tulis di beli harus ada satu lusin biar bisa ganti-ganti, apalagi ada gambar artis atau gambar Doraeman serta gambar satria baja hitam, ketertarikan akan sampul buku tulis membuat siswa zaman dulu terlena. Ketergantungan akan kertas semakin melekat tidak bisa terhilangkan, bisnis kertas meningkat, kertas antara kebutuhan dan bisnis. Teringat disaat orang tua tidak mau membeli buku sekolah kita akan uring-uringan.

Maka tidak salah dinyanyian lagu batak pun di buat ilustrasi, mengenai pemakaian kertas alat tulis. Dalam lagu itu, Orang tua mengingatkan anaknya untuk berhemat, dimana pulpen dan pensil yang dipakai anak di ilustrasikan itu dengan tulang-tulang yang dalam tubuhnya dan kertas yang kita pakai di ilustrasikanlah itu dengan kulit yang diseluruh tubuh. Filosofi ini mengingatkan kita untuk berhemat dalam pemakaian kertas.

Kalau di evaluasi atau di kross cek kembali, apakah di zaman oppung saya  yang tidak memamakai kertas mereka kalah? mereka belum kalah dalam menulis, berhitung dan berkarya. Apakah ada korelasi kertas terhadap peningkatan kualitas manusia? atau kertas hanya menjadi sarana saja dalam peradaban manusia.

Zaman berganti zaman sikap dan perilaku manusia terhadap kertas menjadi berubah, kertas bukan hanya media tulis dan media pendidikan tetapi kertas menjadi  lahan bisnis yang mumpuni dan menjadi hal yang penting dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Cerita diatas bukan berarti penulis tidak suka dengan kehidupan kertas saat ini, tetapi bagaimana kertas menjadi sarana dan prasarana pendidikan yang produktif, media pendidikan telah berubah menjadi menjadi kertas digital, zaman batu yang berbentuk lee, sabak telah berubah menjadi android digital. Apa yang telah diceritakan oppung saya mengenai sabak telah terwujud.

Pernah oppung saya bilang “andai saja sabak ini bisa punya baterai dan bisa dibawa kemana-mana belajarnya akan lebih menarik” kini apa yang telah oppung bilang telah terjadi sekarang telah dihasilkan sabak dengan teknologi android dan digital. Semua manusia beralih dari kertas ke digital.

Namun apakah sepenuhnya manusia meninggalkan kertas?, kemenduan hati manusia akan kertas dan digital salah satu bukti keserakahan dan pemborosan. Tidak disangka dan tidak diduga kini batu menjadi digital yang menjadi media baca, tulis dan media informasi. Dunia bergerak cepat, siapa yang lambat akan tertelan zaman.

Kalaulah kita berandai-andai! Kalau kertas tidak ada, apakah manusia tidak bisa menulis, membaca dan berhitung. Apakah kertas yang membuat manusia bisa menulis, membaca dan berhitung. Mungkin pertanyaan sangat radikal, namun perlu kita analisa dan di kaji. Terbukti di zaman oppung saya tidak ada kertas namun mereka bisa menulis, membaca dan berhitung.

Karena di zaman dulu manusia hanya memikirkan bagaimana supaya bisa menulis, membaca dan berhitung dengan mudah dan cepat. Imajinasi telah terwujud ternyata android dan gadget yang kita pakai hari adalah hasil dari imajinasi orang zaman dulu.

Bagaimana dengan kertas saat ini apakah media digital telah mengurangi pemakaian kertas? di zaman ini kemenduan kertas dan teknologi tidak bisa di redam karena ada koridor bisnis yang memacu kepada predator dengan mangsanya.

Cerita mengenai bagaimana kertas menjadi hal yang penting dalam kehidupan manusia telah membawa jawaban tersendiri, dalam tiga zaman mulai dari zaman oppung saya, ada perbedaan yang signifikan mengenai fungsi kertas, cerita ini memberikan kepada kita pembelajaran bahwa untuk alat tulis, membaca dan berhitung fungsi kertas bisa kita hilangkan. Tidak menutup kemungkinan bahwa ketergantungan manusia akan kertas bisa berubah.

Dilematis antara fungsi kertas menjadi bahan pertimbangan bagi untuk mengurangi kemenduan kita terhadap kertas dan teknologi, kalau di zaman dulu kertas bisa diminimalis kenapa di zaman now tidak bisa?. Kesadaran dan kebijaksaan kita dalam mengatur pemakaian kertas bisa dilakukan dengan melihat tupoksi kertas sebagai peradaban.

Bukan tidak bisa kertas di manajemen dengan baik, agar keseimbangan kehidupan terjadi, judul tulisan memberi kita kesadaran mungkinkah batu bisa jadi kertas, ternyata mungkin. Hanya saja kemenduaan manusia akan kertas itulah yang harus kita hilangkan. Teknologi digital yang mengubah batu menjadi kertas kita manfaatkanlah sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan penghematan pemakaian kertas.

Ketergantungan manusia akan kertas menjadi refleksi kita semua,atas dasar itu, sehingga dikembangkan teknologi untuk bisa memenuhi keinginan manusia. Jangan karena kita telah menemukan teknologi digital, manusia menjadi boros dan serakah serta mendua hati terhadap kertas dan teknologi digital. Perubahan dan kesadaran akan timbul jika mengerti apa arti, filosofi dan tupoksi kertas dalam kehidupan manusia.