Imaji terpenjara dalam kurungan ayam
Menjelajahi serut belati itu pada pohon-pohon bambu
Seperti bergelugu, aku, menjawab segala pertanyaan
Kedunguan demi kedunguan

Tak ada Ibu yang memanggil menuju peraduan
Tak ada mitos Batara Kala di hari-hari yang gerhana
Terkadang pada langit di atas pohonan jati yang lurus itu
Kita tahu, kita pernah menjadi berani

Gejuk

Aku suka melihat engkau menari
Sebab aku tahu dibalik molek,
Engkau telah sekaligus melepaskan jarak
Jiwa ke udara, mata kepada penonton
Lekuk, tekuk, dan gejuk, langkah kaki
Juga senggolan dan sebat
Sampur, menjelajahi liris ketubuhanmu
Itu sebabnya, aku suka sekali melihat engkau menari
Sebab di pinggulmu itu, di gerak, tanganmu yang gemulai
Cara matamu menetap ke tiap tekuk, gelang, dan sanggul
Ketika tersemat bunga-bunga itu
Tidak hanya asap, wangi, tubuhmu
asli menyuar

Absurd

Absurditas-absurditas menua
Menandai kali mati
Ritual mengingat dengan dupa
Sesaji malam Bulan Purnama
Menjelajah lekukan pohon Pinus
Perkuburan purba di bebatu
Absurditas ini maukah engkau miliki?

Sepilihan Puisi Pagi

Sepilihan pagi yang berlalu
tenggelam sejenak di matamu di bulan Juli
Menyeringai seperti bayang-bayang
Gelap menidurkan aku dengan rintih
Riuh rendah memeram ingatan
Balai-balai di sebuah dukuh,
dirobohkan puting beliung
Tak ada satu pun ronggeng menari

Mencuri Ingatan

Subtil dalam setiap helaian
setipis sutra putih kain satin
Membiru memburu pada pukul tujuh
Ingatan dan kesadaran apakah berkelindan?
Ada yang mencuri ingatan, malam-malam

Perburuan

Perburuan dan percobaan, penculikan mata-mata
Rusa yang diternak memakan rerumputan dengan riangnya
Si betina memanggil anak-anaknya, waktu minum susu
Di kolam ikan, ular air menari-nari seperti belut menyanyi do re mi
Kita di halaman yang hitam putih, sedikit agak biru 

Samsa 

Gregor Samsa beranak pinak di luar cerita
di luar angkasa, di planet-planet baru
Bersinar seperti bintang kejora di bulan Desember
Sayap Samsa telah melewati atmosfir
Melebar dan meluber di Horison
Senja tiba, matahari tenggelam
Kunang-kunang menari di pepohonan
Tak hanya Manhattan

Merajut

Jiwa yang menggapai-gapai
Seperti sulam sutra kain-kain orang Timur
Menelaah detik-detik zaman
Bertaut kadang terlerai
Ulat sutra yang muda itu
Merajut di atas dahan-dahan

Koalisi

Koalisi bercerita itu membangun diri
Sejak setahun lalu, menjelma nyanyian
Lugu, sendu, dan terkadang dramatis
Demi sekotak nasi setiap pukul delapan
Sebenarnya uang pulsa dan telepon
Tagihannya lunas hanya dengan 2 juta saja
Menjelma koalisi bercerita itu
Rintihan kesedihan seperti kura-kura

Sumir

Paling sumir sekalipun
Tak seliat ini
Magma buncah
Gunung seperti meleleh
Aliran sungai menderas
Meraba anak rusa di rerumputan

Tak Ada Neptunus

Tak ada Neptunus esok hari
Planet berputar seperti di dalam mimpi
Seperti ledakan dari mosi
Mengerti, mengerti, mengerti
Hari hari semoga berlalu pergi
Di bawah langit biru itu berdiri

Alap-alap 

Alap-alap yang hitam bulunya
Terbang melesat jauh tinggi
Seperti guruh di awan awan
Didengarkan jagad dirgantara
Ombak tenang merapal do'a-do'a 

Melesat dan membumi
Menerjang dan menghadang
Terbang!!!

Rumah & Puisi

Rumah dan puisi
Menyulam janji seperti puan
pada masa depan
Tetapi janji adalah janji
Bukan sumpah yang musti lunas

Maramu di atas kain putih
Bentangnya hingga ke hulu
Berlalu lalang mencari pegangan
Sahaya pada seutas tali dan kayu jati
Mengikat diri atau diikatkan
Ikrar kami sampailah mati

Ruang

Bulan purnama bergantung di langit
Mengisi ruang-ruang kosong
Tak dapat dipandang hanya sekelebat
Tamatlah ia pada riwayat
Hikayat Majusi dan jalan sutera
Menekuk ribuan kilometer dari tujuh legenda

Dimana engkau akan menjelma
Takdir tak biasa 

Menepi pada garis-garis waktu
atau membara di tengah hujan

Menelikung satu dua atau melipat jarak sahaja

Nostalgia telah habis, hari baru seperti sumbat
Kolam-kolam koi diisi mata air dari gunung yang tinggi
Bunga-bunga mekar setiap pagi, kuncuplah sebagaimana
Pukul tiga

Pukul lima ia tidur sesuka hatinya

Berdamai

Berdamai di dalam cerita Timur dan Barat
Seperti menjarah waksu si pedagang susu di kalam kelabu
Remah daun di ujung sepatu, seperti pukul tujuh
Seperti pagi itu; wangi daun jambu, wangi daun mahoni
wangi pinus, wangi bunga-bunga di rerumputan,
wangi sepasang mawar dan krisan putih di jelaga
Sementara bunga kamboja menyaksikannya

Lapis

Lapis di atas piring-piring
Seperti kue, seperti gorengan,
Seperti baju Bapakmu
Seperti hari-hari yang telah berlalu
Siapakah menantu?

Mencintaimu atau tak mencintaimu?

"Kita ini juragan atau babu?"
Tanyamu

Aku adalah Nyonya pemilik rumah

Tikung

Menikung dari Barat
Angin Timur sangatlah kencang
Jangan bercinta jangan pacaran
Bagaimana jika kularang-larang?
Panggil saja Rosihana
Ia perempuan telah dewasa

Bagaimana jika bercumbu
Tetapi jangan mengendap-endap
Mengapa bersembunyi di balik pintu
Kau sudah besar, jangan begitu