Dampak pandemi luar biasa kami sekeluarga rasakan. Sebagai warga negara yang baik, kami selalu taat setiap Pak Menteri LBP mengumumkan perpanjangan PPKM. Sekalipun miris dengan ketergantungan anak-anak pada aplikasi Go-Go. Alih-alih menghindarinya ketika bahan makanan di dapur tidak cukup dimasak. Hari itu Sidoarjo masuk zona kuning, diperkuat pengumuman Pak Bupati melalui media masa.

“Kita makan Kupang Lontong, yuk?” celetuk Feby penuh harap.                                 Feby anak kedua dari dua bersaudara.

Malam itu, saya, istri, dua putri saya, dan bibi asisten rumah tangga pergi mencari makan di luar. Saya sengaja memelankan laju kendaraan agar mereka dapat menikmati temaram lampu malam Sidoarjo. Setiba di depan pasar ternyata lapak kupang lontong yang biasa mangkal tidak buka alias tutup. Saya injak pedal gas dengan berharap menemukan lapak kupang lainnya.

Sepanjang perjalanan menuju pasar berikutnya, lampu baliho bergambar Mbak Puan, Mas AHY menyilaukan mata hingga tangan kiri tak berhenti mengucek. Nyaris dua tahun saya tidak berpikir jalan-jalan, ternyata banyak lapak baru yang tidak ada sebelumnya. Hanya KFC, McD yang bertahan, selebihnya Wong Solo dengan logo barunya, dan pendatang baru Ayam Goreng Suharti.

Tetapi keberuntungan rupanya belum berpihak, tiga lapak yang saya datangi semuanya tutup bahkan satu lapak konon kabarnya telah bangkrut. Hmm! Mungkinkah karena sepi pengunjung diperparah pandemi, dan akhirnya gulung tikar? Jam menunjukkan setengah sembilan malam perut mulai kehabisan kompromi.

Saya arahkan kemudi keluar keramaian menyusuri pinggiran kota. Tetap saja produk-produk non lokal yang ditemui. Saya berhentikan laju mobil di salah satu warung tenda seafood Cak Slamet. Walaupun tidak sesuai ekspektasi tetapi dorongan perut lapar hingga akhirnya kami putuskan singgah dan pesan.

        

Setelah masing-masing di belakang hidangan yang disajikan, saya sempatkan melirik Feby tanpa sungkan menyantap hidangan tanpa berdoa sebelumnya. Mungkin hidungnya tidak tahan menyerap aroma cap-jay, kali ini saya biarkan sambil berharap berdoa dalam hati. Cerita seorang teman yang punya anak seumuran Feby ada kemiripan setiap ketahuan makan sebelum berdoa, dan ketika ditegur sepontan dijawab sudah tapi dalam hati.      

Cukup sepi warung Cak Slamet, makanya kami agak leluasa berlama-lama menikmati hidangan sekalian melemaskan kaki. Terbayang di benakku, warung sekecil ini pun harus dikombinasi dengan masakan khas cina untuk menarik pengunjung. Yah… benar, cap-cay dari namanya terkesan masakan berasal negeri tirai bambu.

Apalagi lapak-lapak yang jelas-jelas memajang masakan-masakan amrik seperti yang dilihat anak-anakku tadi. Kalaupun yang serumpun seperti Wong Solo, tetap saja bukan Sidoarjo kan? Padahal kalau dihitung-hitung sejak tahun 2005 saya tinggal di Sidoarjo tidak kurang dari 10 macam khas masakan disini. Tetapi, mengapa mereka seperti tenggelam oleh masakan-masakan luar negeri atau luar kota?

Sebagai orang yang terlahir di Yogya, tentu saya terbiasa dengan masakan gudeg tetapi ketika saya memilih tinggal di Sidoarjo mau tidak mau lidahku harus beradaptasi dengan masakan yang kami tinggali saat ini. Kupang lontong salah satunya, itu belum termasuk rawon, bandeng presto dan lain-lain.

Ragam masakan lokal tergeser dengan masakan-masakan lain yang notabenenya bukan dari Sidoarjo. Rata-rata daerah lain yang pernah saya kunjungi baik dengan keluarga atau urusan pekerjaan, serupa juga kasusnya. Mustahil kalau daerah tersebut tidak ada kekhasannya, atau jangan-jangan terkendala permodalan sehingga tidak terekspose.

Saya pribadi tipikal pemamah segala tapi jangan berpikiran seperti Sumanto lo? Masakan Solo, Yogya, Banjarmasin pun oke punya. Bahkan saat saya tinggal sementara di Belgia, seminggu pertama saya berusaha tabah tawakal menyantap masakan serba daging yang menjadi andalannya. Baru setelah minggu kedua saya mendapatkan rice meskipun agak sulit saya membedakan dengan popcorn.

Gimana kalau pemodal kuliner itu setiap buka cabang di luar lokasi asalnya memasukkan konten lokal. “Alangkah indahnya, ya? Yah…. hitung-hitung CSR kurang lebihnya. Jadi brand utamanya masuk masakan khas juga turut terangkat. Itu angan-angan kosong saya, mungkin karena dilatarbelakangi lapar bercampur jengkel karena tidak dapat kupang lontong, dan akhirnya ngelantur pikirannya.

Tak terasa waktu merayap pukul 10.15 malam. Saya perhatikan mereka sudah selesai makan menyisakan Sasi yang tinggal menghabiskan seruputan terakhir jeruk hangat kesukaannya. Setelah semua selesai kami pamit dan meninggalkan warung Cak Slamet. Sebelum masuk kendaraan istri saya memberi kode dengan mengarahkan jari telunjuk kanannya ke satu tempat.

Rupanya yang saya pikirkan sama dengan yang dia pikirkan. Hanya berjarak puluhan meter dari warung Cak Slamet terpajang lapak kentucky fried sidoarjo. “Hahaha, sampai segitunya?” tawaku dalam hati.

Sesampai di rumah, lapak KFS disamping warung Cak Slamet tadi masih terngiang di otakku. Apakah bentuk manifestasi dari lamunanku tadi? Tidaklah, saya jawab sendiri. KFS hanya membolak balik tulisan agar menarik saja, tetapi resep dan adonannya tetap mengikuti koki negaranya Joe Biden sana. Artinya tidak ada konten lokalnya, meskipun ditulis kata Sidoarjo di belakangnya.

Di penghujung, jika di kota teman-teman seperti yang saya alami baru saja sangat mungkin kerisauan kalian sama dengan kerisauanku. Tetapi, hal sudut pandangnya saya serahkan sepenuhnya kepada seluruh pembaca yang budiman. Semoga ada pelajaran yang bisa kita petik.

Sekian dan terima kasih.

Wahyu Agung Prihartanto, penulis dari Sidoarjo.