Pihak luar umumnya melihat hubungan antara perempuan dengan pria yang sudah berkeluarga sebagai tidak bermoral, memalukan, aib. Pandangan ini mengabaikan kenyataan bahwa bagi mereka yang menjalin hubungan ini, apa yang mereka sebut aib ini adalah cinta. 

Mereka bahkan mungkin menghayatinya sebagai cinta terindah yang pernah mereka miliki. Mereka sadar bahwa orang luar tidak dapat memahami cinta mereka yang kuat ini. Ini yang membuat mereka makin meyakini akan kekuatan dan keindahan cinta mereka. 

Kita sebagai orang luar mampu melihat dengan lebih jernih karena tidak terlibat di dalamnya. Tidak demikian dengan mereka sebagai pemeran utama dalam hubungan tersebut. 

Hubungan dengan pria yang sudah menikah umumnya didasarkan pada ilusi dan harapan. Ilusi dan harapan ini diperkuat oleh kenaifan perempuan yang umumnya belum pernah mengenal hidup berumah tangga ini. 

Berikut ini adalah beberapa ilusi, harapan, dan kenaifan yang mungkin berkembang dalam diri perempuan yang menjalin hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga.

Baru pertama kali ini dia selingkuh, dia benar-benar jatuh cinta kepada saya. 

Ketika mendengar si pria idaman mengatakan ia adalah yang pertama menggoyahkan benteng kesetiaannya, perempuan bangga dan tersanjung. Sekaligus berpikir bahwa pria di hadapannya ini sebenarnya pria ‘baik baik’ yang tidak bermaksud berselingkuh. 

Dengan mengucapkan kalimat ini, disadari atau tidak, pria mengalihkan tanggung jawab atas ketidaksetiaannya kepada si perempuan: perempuanlah yang aktif sebagai penggoyah. Sebaiknya kita tidak mudah percaya pada kalimat semacam ini, sekalipun mungkin benar demikian adanya. 

Dia tidak bahagia dengan istrinya, dia akan bahagia bersama saya

Ketidakbahagiaan dengan istri dan perkawinan yang kering sering dijadikan alasan oleh pria untuk mencari perempuan lain. Perempuan cenderung mempercayai alasan ini dan jadi memaklumi mengapa si pria mencari perempuan lain. 

Ia melihat aspek eksternal yang mendorong pria (istrinya, ketidakbahagiaan dalam perkawinan), bukan karakter si pria itu sendiri. Ia berpikir masalahnya adalah pada si istri (karakternya, fisiknya, sikapnya terhadap suami, dll). 

Ia membayangkan si istri adalah sosok yang kurang menyenangkan, tidak hangat, dsb. Sering kali perempuan terkejut ketika mendapati bahwa si istri ternyata tidak seperti yang digambarkan.  

Dalam perkawinan selalu ada titik-titik jenuh. Mereka yang belum pernah menikah mungkin tidak mengetahuinya. Perempuan ini meyakini pria idamannya ini tidak akan pernah jenuh bersamanya. 

Padahal bertemu seminggu sekali tentu tidak sama dengan melihatnya setiap hari. Bertemu di kantor tidak sama dengan melihatnya di rumah. Sifat hubungan yang terlarang juga meningkatkan gairah dan kegembiraan, apalagi ketika berjumpa dalam waktu yang terbatas. 

Ia mencintai saya, ia akan meninggalkan istrinya. 

Perempuan yang terlibat hubungan serius dengan pria yang sudah menikah umumnya mengembangkan kesimpulan meloncat. Merasa dicintai, mereka meyakini si pria akan meninggalkan istrinya. 

Bisa jadi keyakinannya benar, si pria tulus mencintainya. Tetapi mencintai perempuan lain tidak otomatis meninggalkan istri untuk perempuan ini. Perceraian bukanlah keputusan mudah, terpikir hari ini dan esok terlaksana, untuk sejumlah faktor. 

Pertama, sebagian pria beristri (tanpa bicara mengenai ajaran agama tertentu yang melarang perceraian) masih berpegang pada tanggung jawab moral terhadap ikatan perkawinannya. 

Mungkin ironis kedengarannya, tetapi mereka merasa bertanggung jawab telah menikahi istrinya dan karena itu tidak ingin pula menceraikannya. Terutama jika sebenarnya tidak ada yang salah dengan si istri, atau sebelumnya mereka telah melewati masa-masa sulit bersama. 

Kedua, memiliki perempuan kedua merupakan ketidaksetiaan. Padahal manusia cenderung tidak bangga dengan predikat tidak setia. Sulit bagi kita mengakui bahwa kita tidak setia. Ketidaksetiaan merupakan lambang kegagalan bagi manusia “normal”. Ketidaksetiaan tidak hanya melukai orang yang dikhianati, tetapi juga orang yang melanggar kesetiaan itu sendiri. 

Meninggalkan istri yang dinikahi di depan keluarga, kerabat, teman-teman, di altar gereja, dalam masjid, atau tempat sakral lainnya untuk seorang perempuan kedua bukanlah keputusan mudah. Ide ini mengguncang ego dan mengacaukan konsep diri seseorang.

Ketiga, dalam kehidupan perkawinan, seburuk apa pun relasi mereka yang terlibat di dalamnya, mereka telah mengembangkan kebiasaan-kebiasaan bersama. Tidak semudah itu memisahkan diri dari seseorang yang dengannya kita sudah terbiasa, orang yang telah mengenal kita baik-buruknya. 

Ide menjalani hidup baru dengan perempuan yang hanya ia temui mungkin seminggu sekali bisa jadi menakutkan. Sesuatu yang baru umumnya menantang sekaligus mengancam. Berbeda dengan kebiasaan, yang telah akrab dengan kita, meski tidak lagi memberi efek kejutan.  

Keempat, ketika berbicara mengenai pria beristri, kita sering lupa bahwa pria ini juga umumnya telah memiliki anak. Mungkin mereka bukan suami yang setia, tetapi mereka adalah yang ayah yang bertanggung jawab. 

Bisa jadi mereka dapat menyakiti istri (bahkan sudah terbukti menyakiti), tetapi mereka tidak akan menyakiti anak-anaknya dengan bercerai dari ibu mereka untuk hidup bersama perempuan lain.  

Dalam hal ini, kita perlu berbicara mengenai zona aman. Pria beristri sulit meninggalkan zona amannya. Bayangkan konsekuensi yang harus ia hadapi, nama baik yang harus ia jaga. Pria-pria ini bisa jadi pria yang punya reputasi baik di masyarakat. 

Kenyataan ini menyakitkan untuk didengar, tetapi perlu diketahui bahwa mereka umumnya tidak punya keberanian untuk ‘merusak’ citra mereka. 

Bayangkan jika kita yang ada di posisinya, dapatkah kita dengan mudah meninggalkan keluarga yang telah kita bentuk demi perempuan atau laki-laki lain? Persoalannya di sini bukan lagi cinta atau tidak cinta, hal yang sering kali sulit dipahami perempuan yang cenderung melihat persoalan ini dari segi perasaan.

Seiring berjalannya waktu perempuan kedua akan menyadari ilusi-ilusinya. Pada sebagian perempuan, kesadaran ini membentuk kemauan untuk memutuskan hubungan. Namun umumnya terlebih dahulu muncul mekanisme penyangkalan.

Manusia cenderung menyangkal kenyataan yang merusak khayalannya. Salah satunya adalah dengan mengembangkan availability heuristic

Ia akan mencari data-data yang meneguhkan harapan dan keyakinannya, yang bisa menegakkan kembali ilusinya yang digoyang kenyataan. Ia akan menyukai kisah-kisah suami yang tidak mencintai istrinya, yang menikah karena alasan-alasan lain selain cinta, yang benar-benar mencintai perempuan kedua, dan yang akhirnya menceraikan istrinya untuk bersatu dengan si perempuan ini. 

Berapa banyak kisah nyata seperti ini? Tentu tidak banyak. Tetapi yang sedikit ini menjadi tersedia (available) dalam memorinya dan menggembungkan harapan mereka yang menciut ketika berbenturan dengan kenyataan. 

Suatu hari nanti, pangeranku kan bercerai. Sebuah harapan yang tidak pernah mati pada diri perempuan kedua. Ya, suatu hari nanti… suatu hari yang mungkin tak akan pernah datang. 

Jika Anda saat ini mencintai laki-laki yang sudah berkeluarga, dan mengalami salah satu dari ilusi dan harapan di atas, tentu saya tidak meragukan ketulusan cinta Anda. Tetapi semoga tulisan ini dapat membantu Anda untuk merenungkan kembali sampai kapan Anda akan terus memupuk harapan mengenai masa depan hubungan Anda dengannya.