Dalam hidup ada dua situasi dan kondisi yang setia ada dan akan menemani sampai singgasana terakhir. Keburukan dengan kebaikan, kejujuran dengan kebohongan, kebodohan dengan kepintaran, sombong atau rendah hati, senang dan sedih, malam dan siang serta hitam dengan putih ataupun cahaya dan kegelapan, lalu di mana kita berdiri tergantung pilihan sendiri.

Menjadi orang baik atau buruk adalah sebuah pilihan. Cahaya adalah simbol kebaikan sedangkan kegelapan adalah simbol dari keburukan, cahaya dan kegelapan akan menjadi pilihan bagi kehidupan dunia.

Cahaya memberikan kehidupan untuk seisi semesta, begitu juga kebaikan yang dilakukan manusia selalu diiringi dengan kebahagiaan. 

Keadaan merah, kuning, hijau, biru dan putih tidak akan ada bila tidak ada cahaya. Orang yang buta tidak tahu warna hitam karena dia tidak pernah melihat warna putih, kuning, merah, hijau dan biru. Begitulah orang yang tidak percaya akan tuhan dia buta dengan apa yang ada di sekitarnya, Tuhan yang nyata wujudnya tidak bisa di lihat.

Hidung, telinga dan mata yang ada pada diri tidak bisa di lihat karena dia terlalu dekat, ada  pada diri kita. Kecuali dengan media kita akan melihatnya, begitulah Tuhan saking dekatnya, kita tidak bisa melihatnya kecuali dengan iman sebagai cahaya yang menerangi qalbu.

Bila kau pandang gunung dari kejauhan yang tampak darinya adalah biru yang gelap, hampa, sunyi tidak ada kehidupan, terkadang hati ngeriii menatapnya, tapi bila cahaya memancar ke sana tampak jelaslah hamparan pepohonan yang hijau sebagai penghuni gunung itu. 

Lain bila malam datang yang tampak adalah perapian penduduk yang tinggal untuk menetap di sana. Dan bila kau berdiri di sana baru tampak rahasia-rahasia yang tersembunyi dari kejauhan. Begitulah cahaya memanipulasi pandangan diri yang lahir.

Panasnya api kerinduan akan tidak terasa bila sang kekasih tampak dekat, kerinduan hadir bila ada sebuah jarak sebab kerinduan itu ada karena sang kekasih jauh adanya. Kalau orang kata "penawar racun kerinduan itu adalah sebuah perjumpaan, dia merupakan yang sering didambakan oleh setiap pecinta, sebab perjumpaan adalah cahaya yang menerangi hati perindu, cahaya yang membimbing pecinta".

Alam semesta tampak seperti apa tergantung cahaya yang meneranginya. Matahari kah atau Rembulan ataupun cahaya lampu pijar maupun cahaya api. Karakter dari seseorang tergantung di mana dia hidup, apa yang sering dilakukan, siapa kawan dia sehari-hari dan apa yang di kerjakan setiap hari serta apa yang di baca, didengar dan dilihat lebih sering. 

Bila dia lebih sering dalam dunia yang gelap jiwanya lebih condong hampa, dan bila dia sering di sekitar cahaya jiwanya lebih hidup.

Seorang wanita pernah berkata "hantu yang sebenarnya adalah laki-laki yang tampak alim tetapi caper ke banyak wanita". Begitulah Pandangan lahir menghipnotis kita. Dia kadang sebagai ilusi yang memanipulasi diri.

Dan seorang bijak pernah menulis pesan kepada sang waktu "Yang tampak dari bumi adalah debunya, namun di balik debunya itu ada sifat-sifat Tuhan yang mengejawantahkan. Dimensi dalamnya adalah emas permata sedangkan luarnya adalah sebongkah batu". 

Apalah gunanya sang lampu neon atau senter bila keberadaannya di bawah cahaya mentari. Mentari akan menelan cahayanya  karena dia terlalu terang sehingga sang neon tidak akan tampak. Terkadang kebaikan yang banyak akan tidak tampak dengan keburukan yang hanya satu kali.

Aku pernah berjalan di hutan belantara dia mengajarkan ku betapa ngerinya hidup dalam kegelapan tanpa sebuah cahaya, setiap langkah binatang siap menerka, jebakan pemangsa menghantui diri.

Lautan tampak begitu sangat biru pada pagi hari yang cerah, tetapi bila malam tiba hanya gelap yang tampak, dan bila rembulan datang ribuan bintang tampak terlihat jelas di lautan, begitu juga sang rembulan dia tampak menari-nari di tengah lautan, dan ikan-ikan berpesta ria menyambutnya sebagai ungkapan rasa syukur.

Orang yang bertutur kata baik, bermoral baik dan memiliki beretika dalam bergaul adalah mereka yang kalbunya penuh dengan cahaya yang bersumber dari iman. 

Cahaya yang indah adalah dia menerangi setiap jiwa di sekelilingnya, menebar kebaikan dan memberikan cahaya layaknya matahari kepada rembulan. Matahari lebih memilih memberikan cahayanya karena dia tahu malam adalah singgasana untuk sang rembulan, sedangkan dia pagi adalah wilayah kejayaannya.

Bila semesta penuh dengan cahaya semua penghuni bersukacita menyambutnya. Manusia, dan binatang mereka bertebaran di muka bumi untuk bertahan memenuhi hasrat keserakahannya.

Seorang Bernama Bambang Pamungkas pernah menulis " Kegelapan tidak dapat mengusir kegelapan, hanya cahaya yang dapat melakukannya". Begitulah juga keburukan tidak dapat dilawan dengan keburukan, hanya dapat di lawan dengan kebaikan.

Jangan pernah sedih karena sendiri, coba tengok ke langit sang mentari selalu sendiri, akan tetapi dia tetap memberikan sinarnya. Kesendirian jangan sampai membuat kita sedih karena kehadiran kita sangatlah berarti dalam tatanan masyarakat.