Mahasiswa
4 minggu lalu · 97 view · 3 min baca menit baca · Puisi 25884_66890.jpg

Ilusi Alam

Ilusi Hutan 

Di jantung hutan ini, angin sejuk berhembus lembut dedaunan terbawa layu menari-nari seakan jatuh hati kepada sang tanah yang lembab dan basah. Tidak ada keributan manusia, yang berkuasa hanyalah bisikan-bisikan alam, lalu berbaur merdu bersama para ketilang di pagi hari.

Sinar langit tampak lemah, pecah dan tertahan oleh kelopak bunga dan juga dedaunan pepohonan. Inilah surga ilusi yang di cari-cari oleh sang musafir dari negeri yang jauh. Alam ini terkembang menjadi seorang guru, lalu berpuisi dalam ratap , seakan-akan bertasbih menjadi pengingat kepada sang langit yang maha pencipta.

Dalam renung sunyi ini, di tempat yang jauh adalah suatu kewajaran jika rindumu memberontak untuk segera berlabuh, ia melesat begitu tajam bersama sang ilusi seperti angin malam yang tak bisa ditahan oleh kedua tangan. 

Namun jarak yang membentang luas seakan menegur bagai suara bisikan yang tak terdengar oleh telinga, katanya pepatah lama "Bawalah kakimu terbang ke tempat yang jauh agar kau tahu di posisi manakah kau harus menetap."

Saat gelap membungkus langit, malam terasa jauh lebih kelam daripada perkotaan. Kemanapun wajahku menghadap mataku seakan tertutup dan buta. Yang kudengar hanyalah alam yang bernyanyi, lalu angin melengkapinya dengan nada suara yang semu, jiwa-jiwa akan terketuk untuk mendengarnya. 

Di sini, panggilan malam amat kuat menakuti jiwa-jiwa yang kosong. Janganlah membiarkan jiwamu kosong tanpa cahaya. Biarlah hidup bagai orang buta, namun jiwa dan imanmu harus tetap menyala terang seperti matahari yang abadi. 


Ilusi Lautan

Baca Juga: Istana Puisi

Inilah lautan, tempat yang amat luas dimana matahari akan terbit dan juga terbenam. Kau akan melihat bagaimana rupanya langit yang tak bertiang juga bumi yang tak ber-pasak. Di sini amat sunyi mencekam jika malam tiba.

Sepanjang waktu kau akan mendengar deru ombak dan angin yang bersiul merdu dalam ratap memuja sang langit. Inilah lautan hidup yang amat luas seakan-akan tiada akhir tiada ujung yang membatasinya. Jika sedikit saja kapalmu retak, hancur, maka badai akan segera mengamuk untuk menelanmu. 

Inilah lautan bukanlah tempat untuk menetap, juga bukan tempat untuk berenang dalam kepoya-poyaan hidup. Justru ini adalah tempat untukmu merenung dalam usaha, juga tempat persinggahanmu dalam sebuah perjalanan hidup. Sadarlah, inilah lautan kehidupan. Tempat dimana mental kapal bahtera raksasa akan di ancam oleh amukan badai setinggi gunung, tempat dimana kapal-kapal ceroboh akan lenyap tanpa jejak.

Lihatlah kapal-kapal yang besar dan mungil itu, bukankah mereka hanya beelayar sebentar, hanya singgah sebelum berlabuh ke dermaga Tuhan yang maha kekal. Sejatinya tempat ini adalah sayembara dari Tuhan..

Renungkanlah... 

Saat kau memutuskan untuk berlayar, terjun bebas kedalam lautan kehidupan ini, maka janganlah kau ingkar kepada badai yang selalu menggoda dan juga mengutukmu. Kemudikanlah angin untuk layar kapalmu yang terkembang, arahkan ke dermaga manakah kau ingin berlabuh. 

Apabila kapalmu terjebak, tersesat oleh pukulan angin di penghujung gelap, memohonlah kepada langit, lihatlah rasi bintangnya untuk menjadi petunjukmu. Karena sang langit tidak akan pernah berbohong kepada manusia.

Selagi ujung bahteramu itu belum berlabuh, saat itulah kau masih diberi waktu untuk tetap hidup. Gali lah lautan ini, kembangkan jaringmu sebagaimana mestinya engkau hidup menjadi seorang nelayan.

Tangkapanmu hari ini adalah amal yang kelak akan diperhitungkan di dermaga Tuhan.
Hari ini tidak akan pernah datang kembali sebagai mana sungai yang mengalir tanpa kembali. Jangan pernah menyia-nyiakan hidupmu walau dibagian bahtera manapun kau bernaung.


Ilusi Kota

Kota ini menyedihkan, tidak semua orang dapat mendengar suara tangisannya.
Bagaimana tidak? Punggungnya ini menjadi pelampiasan bagi manusia-manusia bejat, ditempat inilah semua ras dan suku berkumpul lalu saling pukul memukul antara satu sama lain.

Setiap tetes hujan yang jatuh adalah tangisan langit yang sedang berduka, tanahnya kepanasan seperti manusia yang kehausan di padang gurun yang luas. 

Di perempatan jalan, kota ini memang sibuk dengan kekayaannya. Setiap hari ada puluhan ribu kendaraan yang memadati jalanan. Suaranya mengaum ganas melebihi suara harimau yang sedang murka di puncak gunung yang tinggi.

Baca Juga: Puisi Bintang

Mereka berjubah dan berdasi, pembalut kakinya bagai terbuat dari butiran-butiran mutiara yang megah. Namun lihatlah, dan telusurilah tiap-tiap jengkal lorong di kota ini, pribumi menjerit di sela-sela kardus yang lusuh. Dimanakah cahayanya pangkat seorang pemimpin bersembunyi? Yang katanya cahaya itu lebih terang dari sekedar cahaya matahari dunia? Semua itu hanyalah penghianatan dan dusta. Sejatinya kota ini tetap menjerit dalam sunyi.

Entah kapan ia akan berhenti..

Apakah rahmat Tuhan sudah begitu jauh? Hingga suara jeritannya terhalang oleh jarak yang semakin menebal?

Oh tidak, suara jeritan kota ini tertahan oleh tangan penguasa yang mencekik mulutnya.

Oh Tuhan, kota ini tetap menangis, menjerit dalam kerongkongannya yang penuh darah.

Oh Tuhan, selamatkanlah kota ini, tenggelamkanlah para penguasanya..

Artikel Terkait