Semakin beragamnya ilmu di tengah masyarakat, ternyata justru membuat semakin hilangnya daya kritis kita. Tentu ini menjadi sebuah pertanyaan. Mengapa justru di tengah era banjir informasi saat ini daya pikir kita justru semakin tumpul? Kita justru memilih membeo dengan pemikiran kelompok mayoritas tanpa tahu kenapa berpikir begitu.

Saya melihat dalam banyak diskusi di dunia maya dan dunia nyata. Kebenaran yang sudah dibuktikan lewat puluhan observasi dibantah hanya dengan kata “tidak percaya” tanpa ada penjelasan yang konkret. Hal ini tentu mengundang masalah serius karena kita hidup dalam zaman modern, di mana persoalan epistemologi haruslah bisa dijelaskan dengan jelas.

Saya menemukan faktor terbesar dari gagalnya rakyat Indonesia menjadi pribadi yang kritis karena sistem pendidikan yang hanya terfokus pada masalah Tuhan. Menciptakan individu-individu yang hanya siap patuh tanpa berani bertanya. Persoalan bermula di amademen ke-4 UUD 1945 pasal 31 ayat 3 yang menyebutkan bahwa tujuan dari pendidikan itu adalah meningkatkan iman dan ketaqwaan.

Iman dan taqwa adalah salah satu bahasa agama yang berarti patuh dan tunduk. Dengan adanya klausul ini, maka peserta didik diminta hanya menjadi pribadi penghafal ayat kitab suci, karena salah satu ciri dari ketaqwaan adalah mampu menghafal teks suci. Dengan demikian, kita menghilangkan kesempatan kita untuk untuk berpikir kritis.

Hasilnya bisa ditebak, kita berada di urutan 52 dari 55 negara yang di survei oleh PISA. Kalah jauh dari Vietnam yang berada di urutan 8. Anggaran pendidikan yang tersebar di dua kementerian, yaitu kementerian agama dan kementerian pendidikan, ternyata tidak berhasil membuat rakyat kita menjadi lebih pintar.

Lepas dari Jerat Dogma

Mengubah haluan dari pendidikan berbasis tujuan surga, menjadi semata tujuan dunia tentu akan memerahkan kuping kaum konservatif. Tapi itulah cara sebenarnya untuk bersaing di abad ke-21. Pertanyaan global hari ini yang harus kita pecahkan adalah persoalan-persoalan sekuler yang semuanya membutuhkan kemampuan berpikir out of the box dan kemampuan mensinkronkan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu.

Sangat banyak sekali orang yang menguasai dengan baik bidang ilmunya, namun dalam banyak kesempatan harus membantah hal yang dia telah pelajari. Contoh nyata dari hal ini adalah ketika tersebarnya kasus difteri di Indonesia.

Kelompok dokter anti vaksin dan pemuka agama anti vaksin menyebarkan propaganda bahwa vaksin itu haram. Padahal kita semua tahu, difteri adalah penyakit yang bisa diobati. Tapi dengan dalih haram, kita korbankan nyawa manusia karena kebodohan kita.

Kejadian ini adalah salah satu bukti konkret, ketika ilmu yang dipelajari semata-mata tidak dibarengi dengan kemampuan berpikir logis dan kritis. Sang dokter yang anti vaksin tentu mendengar atau membaca pendapat dari pemuka agamanya dan pemuka agamanya kemungkinan mendengar kabar tersebut dari tulisan sampah di internet.

Hal yang terbayang dalam benak kita adalah kenapa dokter yang secara IQ lebih pintar dan menguasai persoalan medis harus tunduk pada perkataan pemuka agama? Saya menyebut fenomena ini sebagai “thoughtless hegemony”. Seperti istilahnya, thoughtless, yang berarti kurangnya berpikir dan hegemony yang berarti dominasi. Thoughtless hegemony adalah sikap tunduk dan tidak berani berpikir manakala suatu hal telah ditulis oleh kitab suci.

Kejadian thoughtless hegemony ini sebenarnya sudah mewabah kebanyak bidang ilmu lain mulai dari politik, biologi, hingga filsafat. Ilmu agama menggerogoti kebenaran faktual yang dibawa oleh sains. Sains dipaksa untuk menyesuaikan dengan kebenaran agama.

Akibat dari hal ini adalah generasi kita menjadi generasi yang hobi mengaitkan segala hal dengan agama. Maka jangan salahkan ketika muncul fenomena cocoklogi dan hoax di internet. Semua persoalan itu bermula dari sikap pasif kita yang tidak berani berpikir.

Lalu pertanyaannya, bagaimana lepas dari jerat dogma ini? Meminta dihapuskannya pelajaran agama kepada pemerintah sama saja dengan memancing amarah kelompok konservatif. Saya justru melihat cara terbaik membanguan daya kritis masyarakat kita adalah melalui filsafat.

Lewat filsafat, orang-orang harus dibiasakan untuk berpikir dan berdiskusi hal-hal yang sifatnya pokok. Tidak hanya menerima sebuah cara berpikir monoton. Inilah yang tidak ada dalam kurikulum kita, semua hal dituntut harus seragam, tapi peserta didik tidak tahu kenapa ia harus seragam.

600 tahun lalu, cara berpikir filsafat berhasil membuat Eropa keluar dari abad kegelapan. Ketika itu, agama masih diajarkan berbarengan dengan ilmu sekuler lainnya. Lalu pelan-pelan masyarakat bisa memilah bahwa dalam kehidupan modern pelajaran agama selayaknya menjadi urusan pribadi dan tidak diajarkan di kelas-kelas. Lalu orang Eropa mulai sadar bahwa jawaban surgawi tidak selamanya cocok dengan jawaban duniawi.

Tantangan terberat pengajaran filsafat saat ini di Indonesia adalah ia jatuh layaknya pelajaran yang harus dihafalkan. Hal inilah yang penulis alami ketika masih duduk semester awal kuliah.

Hasilnya, filsafat menjadi pelajaran yang sekedar lewat tanpa tahu kenapa harus dipelajari. Perjumpaan sesungguhnya dengan filsafat justru terjadi ketika terlibat beragam diskusi yang kontras dengan ide-ide yang penulis pegang sendiri, baik di dunia nyata maupun dunia maya.