Alam dan hukum alam tersembunyi di balik malam. Tuhan berkata, biarlah Newton ada! Dan semuanya akan terang benderang” (Alexander Pope)

Saat ini umat manusia sedang memasuki era baru yang sangat radikal dan belum pernah dicapai sebelumnya. Peradaban manusia, disadari atau tidak, telah sampai pada suatu titik dimana kendali atas sebuah perubahan menjadi sesuatu yang semakin sulit untuk dilakukan. Capaian ilmu pengetahuan saat ini seakan-akan telah melewati batas-batas yang di masa lalau dianggap suatu hal yang mustahil.

Teknologi big data, artificial intelligence, machine learning, dan sejenisnya seolah menjadi “dewa” baru yang mampu, tidak hanya sekedar menyelesaikan suatu problematika kehidupan, namun juga mampu menciptakan hal-hal baru yang jauh di luar jangkauan nalar manusia kebanyakan.

Pada abad ini pula, manusia mencapai suatu keadaan dimana kondisi-kondisi yang pada masa lalu dianggap sebuah malapetaka yang sulit untuk dielakkan sekarang seolah-olah hanya sekedar menjadi lelucon yang tampak menggelikan. Perang, wabah penyakit dan kelaparan merupakan musuh utama umat manusia selama berabad-abad, namun pada abad ini, terjadi perubahan yang sangat dramatis dimana serbuk gula lebih mematikan daripada serbuk mesiu (Selama tahun 2012 perang membunuh 120.00 jiwa dan diabetes membunuh 1,5 juta jiwa) dan penderita obeitas menjadi jauh lebih banyak daripada busung lapar.

Pada masa-masa lampau, mempunyai keturunan yang tidak sesuai harapan mungkin dianggap sebuah kutukan dan hukuman dari Tuhan, namun sekarang rekontruksi dan rekayasa DNA hampir pasti mampu menciptakan manusia-manusia “sempurna” yang tentu saja sesuai dengan kehendak perekayasanya.

Sistem syaraf yang dulu mungkin dianggap sebagai given sekarang sudah mampu direkayasa dengan teknologi sistem syaraf buatan yang dapat ditanamkan baik dalam organisme hidup maupun dalam mesin yang bisa memberikan kemampuan hampir sama dengan kemampuan syaraf sesungguhnya.

Penemuan-penemuan dan capaian-capaian ilmu pengetahuan di abad ini seolah-olah mengangkangi berbagai macam mitos yang selama beberapa abad menjadi sesuatu yang sakral. Penemuan-penemuan tersebut juga melahirkan sebuah dunia yang benar-benar baru beserta tantangan-tantangan baru yang menyertainya.

Paradoks ilmu pengetahuan

Ilmu pengetahuan lahir atau lebih tepatnya dilahirkan dengan tujuan menyelesaikan problematika kehidupan. Ilmu pengetahuan juga bisa berfungsi sebagai alat untuk meramalkan sesuatu di masa yang akan datang dengan harapan bencana tidak datang lagi di kemudian hari atau jikalau datang, manusia sudah siap dengan solusi untuk mengatasinya.

Ilmu ekonomi muncul untuk mensejahterakan, disamping itu juga digunakan untuk mencegah krisis ekonomi muncul dikemudian hari. Ilmu meteorologi dan klimatologi dilahirkan untuk mepredikasi cuaca dikemudian hari dan dengan ilmu itu, kita bisa mengantisipasi bencana yang mungkin datang dikemudian hari. Intinya adalah, ilmu pengetahuan bisa mejadi pegangan kita dalam menghadapi hari esok dengan berbagai prediksi yang telah dipetakan.

Namun celakanya, perubahan ternyata selaras dengan ilmu pengetahuan itu sendiri. Semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, semakin pesat pula perubahan yang terjadi. Sehingga jika kita mencapai pada suatu titik dimana perkembangan ilmu pengetahuan berkembang secara radikal, perubahan juga akan terjadi secara lebih radikal dan tentu saja dalam tempo yang semakin singkat.

Pencapaian di era revolusi industri pertama di akhir abad 18 mungkin bisa digunakan sampai hampir 200 tahun kedepan dan telah dijadikan pegangan oleh negara-negara kapitalis guna memprediksi dan mnegendalikan dunia. Namun di era revolusi industri keempat ini, jangankan 50 tahun kedepan, 10 tahun kedepan pun mungkin kita tidak akan tahu apa yang akan tejadi dan hasil teknologinya pun mungkin sudah ketinggalan zaman. Keadaan itulah yang bisa disebut dengan paradoks ilmu pengetahuan.

Jika kita refleksikan dalam era sekarang, kita akan sadar bahwa kita sekarang sedang hidup di era ketidakpastian. Namun kabar baiknya, ilmu pengetahuan tetaplah mencerahkan. Dan yang harus diingat, walaupun ilmu pengetahuan tidak akan menunjukkan kita mana pilihan yang paling tepat, namun ilmu pengetahuan memberikan kita lebih banyak pilihan yang bisa kita gunakan.

Peran dunia pendidikan

Guna menyikapi perubahan yang sangat radikal tersebut, mau tidak mau dan siap tidak siap, dunia pendidikan harus menyesuaikan diri. Dunia pendidikan dan seluruh elemen-elemen yang terlibat didalamnya harus berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Pendidikan harus bisa membuka cakrawala peserta didik seluas-luasnya sehingga mereka mampu melihat dan memanfaatkan peluang yang ada.

Pendidikan harus mampu melahirkan inovator-inovator handal yang bisa mengelola sumber daya yang tersedia dan mampu melihat serta memanfaatkan peluang yang ada. Untuk memulai hal tersebut, bisa dimulai dari sang pendidik yang merupakan bagian integral dari dunia pendidikan.

Seorang pendidik tidak mungkin lagi mengajarkan sesuatu yang dia dapatkan 20 tahun yang lalu ke peserta didiknya. Selain keilmuan yang mungkin sudah tidak relevan, kondisi sosial dan psikologis peserta didik juga sudah sangat jauh berbeda dibandingkan 20 tahun yang lalu.

Pendidik, baik itu Guru, Dosen atau yang lainnya mau tidak mau harus menjadi manusia pembelajar, manusia yang terus memperbarui diri mereka sesuai dengan perkembangan zaman. Saya berani katakan, jika mereka tidak mau belajar dan terus meng-upgrade diri, sudah sepantasnya pendidik tersebut masuk dalam keranjang sampah.

Disamping itu, seorang pendidik harus mampu membuka diri atas perubahan. Bagaimana mungkin pendidik bisa membuka cakrawala peserta didiknya jika cakrawala mereka sendiri saja sangat sempit? Pendidik harus mampu menambah sebanyak-banyaknya sudut pandang peserta didik tentang arti kesuksesan dan jalan untuk mencapainya bukan malah menyempitkan sudut pandang mereka dengan doktrin seolah-olah hanya menjalani suatu profesi tertentu untuk menuju sebuah kesuksesan dan kebahagiaan.

Pendidik harus sadar, mereka bukan satu-satunya sumber pengetahuan dan bisa jadi peserta didik jauh lebih tahu dalam beberapa hal. Dengan begitu pendidik akan lebih arif dan bijaksana dalam mendidik anak didik mereka. Kekolotan dan kekerdilan fikiran seorang pendidik hanya akan memperpanjang mata rantai kebodohan dan celakanya, banyak pendidik yang tidak sadar mereka sedang melakukannya.

Sampai detik ini saya masih percaya bahwa pendidikan bisa diandalkan dalam dunia serba ketidakpastian. Karena disadari atau tidak pendidikan mempunyai peran yang sangat vital dalam membawa umat manusia sampai pada titik ini. Karena dari rahim pendidikanlah ilmu pengetahuan dilahirkan. Dan walaupun ilmu pengetahuan tidak akan memberitahu pilihan mana yang harus kita ambil, namun mereka menciptakan lebih banyak peuang yang bisa kita gunakan. Karena sesungguhnya ilmu pengetahuan adalah mencerahkan.