Penulis
6 bulan lalu · 313 view · 3 menit baca · Filsafat 79446_55221.jpg
daerah.sindonews.com

Ilmu Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram

Secara istilah, Kawruh Jiwa dapat dipahami sebagai pengetahuan tentang jiwa. Ilmu ini banyak menganalisis fenomena jiwa dan inti pribadi manusia. Jiwa manusia dipahami sebagai sesuatu yang dapat rusak atau binasa. Jiwa yang dapat rusak dan binasa itu mengalami kelahiran dan setelah memperoleh pengalaman-pengalaman hakiki kemudian dapat dimatikan.

Dengan datangnya kematian jiwa ini, maka lenyaplah dominasi atau pengaruhnya pada pribadi seseorang. Jika jiwa seseorang telah berhasil dibersihkan atau dimatikan oleh inti pribadinya sebagai manusia, perbuatan orang tersebut akan teratur dan terarah dengan benar, sehingga hidupnya pun akan terasa damai dan tenteram atau bahagia.

Konsep dasar yang sangat penting dari pemikiran Suryomentaram adalah rasa. Kawruh Jiwa adalah konsep pengenalan diri yang merupakan hasil kontemplasinya selama puluhan tahun. Prosesnya dikenal dengan pangawikan diri atau kawruh jiwa atau bisa juga disebut sebagai fisolofi rasa.

Setiap diri memiliki rasa dan perasaan yang hanya dialami oleh dirinya sendiri. Ini artinya bahwa perasaan merupakan unsur individualitas yang paling dasar. Belajar adalah aktualisasi dari rasa ingin tahu manusia. Makan adalah aktualisasi diri dari rasa lapar.

Baca Juga: Jiwa yang Rapuh

Orang melakukan kejahatan adalah karena dorongan rasa hati yang buruk seperti iri, dengki, hasut, khawatir, atau dendam. Orang menolong sesamanya adalah karena dorongan rasa hati yang baik seperti rasa senang, rasa empati, rasa belas kasih, dan sebagainya. Puncaknya, rasa yang dikehendaki manusia dalam hidupnya adalah rasa kebahagiaan. Oleh karena itulah pengenalan diri KAS ini, selain disebut sebagai kawruh jiwa, juga sebagai kawruh begja atau ilmu kebahagiaan.

Menurut Sugiatro (2015), kawruh jiwa bukanlah agama, bukan pula berisi kepercayaan terhadap sesuatu. Kawruh jiwa bukan ilmu tentang baik dan buruk. Dalam ilmu kawruh jiwa, juga tidak ada keharusan untuk menolak atau melakukan sesuatu. Ilmu kawruh jiwa adalah ilmu mengenai jiwa dengan segala wataknya.

Dengan belajar kawruh jiwa, seseorang diharapkan dapat hidup jujur, tulus, percaya diri, tentram, tenang, penuh kasih sayang, mampu hidup berdampingan secara baik dengan sesamanya dan alam lingkungannya, serta penuh rasa damai. Keadaan tersebut akan mengantarkan seseorang kepada kehidupan yang bahagia sejati, tidak tergantung pada waktu, tempat, dan keadaan.

Dalam ilmu kawruh jiwa Suryomentaram, tiga elemen penting yang perlu untuk dipahami, yaitu Aku, Karep, dan Kramadangsa. Aku dalam ilmu kawruh jiwa adalah elemen suci yang selalu benar, tidak mementingkan diri sendiri dan penuh kasih sayang. Aku merupakan sumber kesadaran manusia. Aku adalah barang asal, sudah ada sebelum orang lahir, dan akan ada sesudah orang meninggal.

Sedangkan Karep dapat diartikan sebagai kehendak atau keinginan yang juga merupakan barang asal, sudah ada sebelum lahir, dan akan tetap ada setelah orang meninggal. Karep sangat mementingkan diri sendiri dan ingin menangnya sendiri. 

Karep sifatnya mengembang dan mengkerut, jika terpenuhi akan meningkat atau mengembang, dan akan mengkerut atau menyusut jika tidak terpenuhi. Karep memiliki rasa senang-susah, akan senang jika keinginannya terpenuhi, dan sebaliknya akan susah jika keinginannya tidak terpenuhi.

Terakhir adalah Kramadangsa, ini merupakan konsep diri pribadi yang berbeda dengan orang lain. Meneliti Kramadangsa itu mudah karena rasa tersebut menempel pada diri individu. Jadi, menurut Suryomentaram, jika disebut istilah Kramadangsa, maka istilah itu tersebut dapat diganti dengan namanya masing-masing. Dalam pengertian ini, Kramadangsa dipahami sebagai maujud. 


Suryomentaram mengatakan: “Apabila catatan-catatan itu sudah cukup banyak jumlah dan jenisnya, barulah lahir Kramadangsa, yaitu rasa yang menyatukan diri dengan semua catatan-catatan, yang berjenis-jenis itu sebagai: harta bendaku, keluargaku, bangsaku, golonganku, agamaku, ilmuku dan sebagainya. Rasa aku si Kramadangsa ini bagaikan tali pengikat barang-barang lidi dari sebuah sapu lidi. Kramadangsa ini pun barang hidup, yang hidup dalam ukuran ketiga, karena tindakannya dengan berpikir. Jadi Kramadangsa ini tukang pikir, memikirkan kebutuhan catatan-catatan di atas tadi.”

Manusia yang dikehendaki oleh Suryomentaram adalah manusia yang mampu mengenali diri yang objektif, sehingga mampu memahami hakikat rasa yang menerima catatan-catatan hidup tersebut. Kesadaran subjektif tentang hakikat rasa ini hanya dimiliki oleh orang yang sudah mencapai kedewasaan dan kematangan pribadi.

Manusia ini adalah manusia “tanpa ciri” catatan tertentu, melainkan telah membebaskan diri dari ikatan Kramadangsa. Ia sudah tumbuh dewasa melalui rasa ada sebagai Aku, yakni sebagai wujud potensial yang abadi sehingga tidak terombang-ambing oleh keinginan atau Karep-nya. Tahap ini adalah tahap di mana orang sudah memahami filsafat rasa hidup.

Kawruh jiwa melihat manusia sebagai makluk yang digerakkan oleh Aku dan Karep. Suryomentaram menuturkan bahwa “meniru itu bukan meniru, sebab yang ditiru itu tidak meniru”. Dengan hal ini, ia mengingatkan kepada manusia agar kreatif. Dalam Kawruh jiwa, ia menekankan raos tinimbang mikir, sebab pemikiran atau nalar merintangi kebebasan manusia sedangkan raos adalah sumber melahirkan tindakan yang bekerjasama dengan Aku dan Karep (keinginan).

Dapat dikatakan bahwa Kawruh Jiwa merupakan langkah untuk mencapai kehidupan yang bahagia, dengan cara mengajarkan manusia melalui pangawikan pribadi yang tidak berpusat pada pemuasan kebutuhan-kebutuhan material, melainkan bersumber dari jiwa yang tenang dan damai.


Artikel Terkait