Kita tidak dapat pungkiri, bahwasanya munculnya beberapa aliran dalam Islam pada dasarnya berawal dari menyikapi permasalahan politik, yang pada saat itu terjadi di antara umat Islam, yang akhirnya merebak persoalan Teologi dalam Islam.

Persoalan ini bermula muncul dari permasalahan Khalifah, yakni tentang siapa orang yang berhak menjadi Khalifah dan bagaimana mekanismenya dalam pemilihan seorang Khalifah.

Di satu sisi umat Islam masih ingin mempertahankan cara lama mereka bahwa yang berhak menjadi Khalifah secara turun temurun adalah suku bangsa Quraisy saja. 

Namun sementara itu di sisi lain umat Islam menginginkan Khalifah dipilih secara demokrasi, sehingga setiap umat Islam memiliki kapasitas banyak untuk bisa ikut dalam pemilihan Khalifah.

Ego kesukuan ataupun kelompok pada saat itu saling mementingkan kelompok masing-masing, memuncak pada masa kekhalifahan Usman Bin Affan sampai pada masa Ali Bin Abi Thalib yang mereka anggap sudah menyelewengkan dari ajaran Islam, sehingga terjadilah saling bermusuhan, bahkan membunuh sesama umat Islam.

Ilmu Kalam, seperti ilmu keislaman lainnya, juga mempunyai dasarnya sendiri dari sumber al-Qur’an, baik dalam menyangkut aspek metode maupun materi.

Ilmu Kalam

Persoalan Kalam sudah muncul sejak zaman Rasulullah SAW. Meski pada masa itu belum dikenal dengan istilah “Ilmu Kalam”. Namun persoalan Ilmu Kalam pada masa Rasulullah dapat kita lihat dalam bentuk ajakan Rasulullah kepada umatnya untuk bertauhid, melarang perbuatan syirik, meyakini kenabian dan hal lain sebagainya.

Ilmu kalam merupakan sebuah ilmu yang mengkaji doktrin-doktrin dasar atau akidah-akidah pokok Islam. Ilmu kalam ini mengidentifikasi akidah-akidah pokok dan berupaya membuktikan keabsahannya terhadap akidah-akidah pokok tersebut.

Nah secara harfiah Kalam merupakan perkataan atau sebuah percakapan. Sedangkan menurut istilah kalam tidaklah dimaksudkan ”perkataan” atau ”pembicaraan” dalam pengertian sehari-hari melainkan dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika.

Ada juga yang mengatakan bahwa Ilmu Kalam ialah ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan (Agama Islam) dengan bukti-bukti yang meyakinkan.

Dalam perkembangannya, Ilmu Kalam ini juga berbicara tentang berbagai masalah yang berkaitan dengan keimanan serta akibat-akibatnya, seperti halnya  masalah kufur, musyrik, murtad, masalah  kehidupan akhirat dengan berbagai kenikmatan dan penderitaannya serta hal-hal yang berkaitan dengan Kalamullah yakni al-Qur’an, dan status orang-orang yang tidak beriman.

Munculnya Kalam ini terjadi ketika pertempuran antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan Raden Mu’awiyah bin Abu Sofyan di Shifbin. Peristiwa ini pun sangat merugikan Ali bin Abi Tholib ra. karena adanya sikap  Ali yang ingin mengadakan arbitrase yang menyebabkan pengikutnya  terpecah menjadi dua golongan, yakni golongan yang menerima dan menolak arbitrase.

Yang menolak arbitrase berpendapat bahwa hal itu tidak dapat diputuskan melalui arbitrase manusia, karena putusan itu hanya datang dari Allah SWT. dengan kembali kepada hukum-hukum Allah dalam al-Qur’an. Mereka menyalahkan Ali dan keluar serta memisahkan diri dari barisan Ali ( hal ini disebut dengan kaum Khawarij).

Kaum Khawarij pun memandang bahwa pihak yang menerima arbitrase ialah Ali bin Abi Thalib ra, Mu’awiyah, Amr bin ‘Ash dan Abu Musa Al-Asy’ari sebagai kabir dan  murtad karena tidak berhukum kepada Allah. Dan hal ini kemudian tidak hanya mempunyai politik saja, melainkan kepada persoalan-persoalan teologi, yang melahirkan beberapa aliran teologi.

Aliran Khawarij

 Secara etimologi Khawarij berasal dari bahasa Arab, yaitu “Kharaja”yang berarti keluar, muncul, timbul atau memberontak. Sedangkan menurut terminologi merupakan suatu sebab atau  aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar dari barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim).

Para ulama pun mendefinisikan khawarij dengan beberapa pengertian seperti menurut Abu Hasan Al-Asy’ari bahwasanya sebutan Khawarij disematkan terhadap kelompok yang memberontak terhadap Ali bin Abi Thalib (khalifah keempat di antara khulafaur rasyidin).

Abu Hasa Al-Asy’ari menjelaskan bahwa keluarnya mereka dari ketaatan pada Ali merupakan alasan kenamaan, ia berkata bahwa faktor yang menyebabkan mereka menyebut Khawarij ialah keluarnya mereka dari ketaatan pada Ali tatkala ia mengambil kebijakan at-Tahkim.

Dengan demikian  kaum Khwarij memandang diri mereka sebagai orang yang meninggalkan rumah atau kampung halamannya untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul-Nya. Kaum Khawarij  pun juga menanamkan golongan mereka terhadap kaum Syurah, yang artinya kaum yang mengorbankan dirinya untuk kepentingan keridho-an Allah SWT.

Aliran Murji’ah

Kata murji’ah berasal dari bahasa Arab “arja’a” yang memiliki arti menunda atau mengembalikan. Hal ini disebut Murji’ah karena mereka memiliki prinsip penunda penyelesaian persoalan atau konflik politik antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyyah bin Abi Sofyan.

Murji’ah ini muncul di latarbelakangi oleh persoalan politik. Setelah Usman bin Affan terbunuh, umat Islam pun terpisah menjadi dua kelompok besar, yakni kelompok Ali bin Abi Thalib dan kelompok Muawiyyah bin Sofyan.

Kemudian kelompok Ali lalu terpisah menjadi dua kelompok lagi, yakni kelompok yang setia dengan Ali atau Syiah, dan kelompok yang meninggalkan Ali bin Abi Thalib.

Sebagai lawan dari kaum Khawarij, aliran Murji’ah ini juga muncul dengan mengusung keyakinan mengenai pelaku dosa besar. Masalah yang mulanya bersifat politis akhirnya berkembang menjadi masalah teologis.

Berdasarkan ajarannya tersebut, Murji’ah menolak mengkafirkan pelaku dosa besar(berkebalikan dengan Khawarij), ia mengatakan bahwa persoalan itu hendaknya ditangguhkan hingga hari kiamat. 

Oleh sebab itu, para khalifah yang tiran pun mendukung kaum Murji’ah, karena bagi kaum Murji’ah dosa sekalipun itu benar, tetap saja tidak mengganggu atau merusak iman pelakunya. Orang yang berbuat dosa besar, tetap saja ia orang mukmin, dan bukan kafir.