Mahasiswa
1 bulan lalu · 142 view · 3 min baca menit baca · Filsafat 13973_66010.jpg

Ilmu dalam Perspektif Islam dan Barat

Baik Islam maupun Barat, keduanya sama-sama menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang amat sangat penting. Dalam pandangan Islam, tidak terhitung betapa banyaknya ayat al-Qur’an dan Hadis Rasulullah s.a.w. yang berbicara tentang pentingnya ilmu.

Kedudukan para penuntut ilmu pun dinilai sama dengan mujahid yang sedang berjuang di jalan Allah s.w.t. Di samping itu, orang yang memiliki ilmu dipandang sebagai pewaris tahta kenabian setelah diutusnya nabi terakhir, Nabi Muhammad s.a.w.

Dalam peradaban Barat pun demikian pula. Peran Barat tidak bisa dilepaskan dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Semenjak dari masa keemasan Yunani dengan Filsafat-nya, mencapai puncaknya ketika revolusi industri, sampai sekarang pun Barat masih menjadi ujung tombak bagi peradaban ilmu.

Akan tetapi walaupun demikian, baik Islam maupun Barat, keduanya memiliki pandangan yang berbeda terkait dengan hakikat ilmu. Islam mengakui bahwa ilmu itu adalah milik Allah s.w.t. Sekuat apa pun manusia berusaha untuk menggapainya, jika tanpa kuasa dari Sang Pemilik ilmu, maka manusia tidak akan mampu untuk meraih dan menggapainya.

Sekalipun semuanya bergantung kepada kehendak Allah s.w.t., lalu manusia berlepas tangan sajakah? Maka ini pun adalah kesalahan. Manusia tetap beredar di jalannya, berusaha mencari ilmu, karena biasanya proses tidak akan pernah mengkhianati hasil. Jadi, dalam pandangan Islam, ilmu pada hakikatnya adalah milik Allah s.w.t.

Berbeda dengan konsep ilmu yang berkembang pada peradaban Barat. Bagi mereka, ilmu hanya akan bisa diusahakan melalui akal dan panca indra semata. Selagi manusia mau berusaha menggunakan akalnya, maka mereka akan mendapatkan ilmu.


Namun, ketika mereka berhenti menggunakan akalnya, maka disitulah manusia dianggap tiada. Bagi mereka peran akal lebih dominan dibandingkan dengan wahyu, dan bahkan mereka tidak mengakui otoritas wahyu sebagai sumber ilmu.

Jadi, dalam memandang hakikat ilmu, Islam dan Barat memiliki pandangan yang berbeda. Jika Islam mengatakan ilmu adalah milik Allah s.w.t., dan bersumber dari-Nya, maka Barat mengatakan bahwa ilmu itu bersumber dari akal dan panca indra manusia.

Dari sisi objek, baik Islam maupun Barat sama-sama mengakui bahwa ilmu itu memiliki objek formal dan objek materil. Namun, yang menjadi permasalahannnya adalah apakah objek ilmu itu hanya terdapat pada alam fisik saja atau melebihi itu semua sampai menembus alam metafisik. Di sinilah letak perbedaan pandangan antara Islam dan Barat.

Epistemologi Islam mengakui bahwa objek ilmu itu berada pada alam fisik yang bisa dirasa dan dipikirkan, kemudian juga termasuk alam metafisik, yang tidak bisa dijangkau oleh akal dan indra manusia. Maka di sini, Islam menggunakan konsep wahyu untuk memahaminya.

Adapun epistemologi Barat, mereka tidak mengakui adanya alam metafisik tersebut. Bagi mereka objek ilmu itu hanyalah apa yang bisa diindra dan apa yang bisa dipikirkan oleh akal manusia. Oleh karenanya, jika sesuatu berhubungan dengan alam metafisik, maka itu bukan bagian dari ilmu.

Di sinilah letak perbedaan antara konsep Islam dan Barat dalam menyikapi objek ilmu. Bagi Islam objek ilmu itu meliputi alam fisik dan metafisik. Sedangkan Barat hanya mengakui terbatas pada alam fisik saja.

Di sisi lain, Islam mengakui bahwa ilmu itu bersumber dari akal atau rasio manusia. Islam juga mengakui bahwa ilmu bersumber dari pengalaman-pengalaman manusia. Islam juga mengakui intuisi sebagai sumber ilmu. Terlebih lagi, wahyu merupakan sumber pamungkas ilmu dalam konsep Islam.


Wahyu berada pada urutan pertama dan menempati posisi yang sangat penting dibandingkan dengan sumber-sumber lainnya. Karena kebenaran wahyu itu bersifat mutlak dan benar-benar berasal dari Allah s.w.t.

Berbeda dengan Barat, mereka menafikan wahyu dan intuisi sebagai sumber ilmu. Baginya sumber ilmu itu hanya ada dua macam, yaitu akal dan pengalaman manusia. Bagi mereka yang menganut paham rasionalisme, ilmu itu bersumber dari akalnya. Ilmu itu bersumber dari pengalaman, bagi mereka yang menganut paham empirisme.

Dari sisi orientasi, Islam memahami bahwa ilmu itu akan mengantarkan manusia kepada pengakuan akan kebesaran Tuhan-nya, pengakuan akan adanya yang Maha Besar di antara yang besar, pengakuan bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia, tidak ada yang pantas ditakuti kecuali Dia.

Jadi, muara ilmu itu adalah pengakuan akan eksistensi Tuhan, yaitu Allah s.w.t. Di samping itu, semakin banyak ilmu seseorang, maka akan bertambah rasa takutnya kepada Sang Pencipta. Bukan malah bertambah angkuh dan sombong, tetapi dengan ilmu ia semakin mengenal Tuhan-nya dan bertambah ketakutan kepada-Nya.

Berbeda dengan Barat, dalam konsep mereka, ilmu itu tidak bermuara kepada Tuhan. Karena mereka tidak mengakui adanya wahyu sebagai sumber ilmu, maka ilmu yang mereka miliki itu tidak akan membawanya kepada kebenaran.

Artikel Terkait