Webinar di zaman pandemic gini banyak bermunculan. Mulai dari tema parenting, bisnis, kuliner, pendidikan, fotografi,hukum, kesehatan dan banyak lagi yang lainnya.

Dengan banyaknya webinar akhirnya kita jadi kenal para ahli di bidangnya.karena mereka jadi banyak muncul di webinar. Keren gak sih. Karena kalau ikut seminar mereka bukan dalam versi webinar pasti harus menyediakan fee investasi yang gak sedikit jumlah rupiahnya.

Beragam tema webinar yang menarik dan ada tulisan gratis di flyer nya bisa bikin khilaf. Khilaf bikin daftar di banyak webinar yang pelaksanaannya berbarengan. 

Riweh gak sih, riweh lah. Gimana gak riweh khan kita harus atur caranya biar bisa hadir di dua kegiatan itu. Tapi kalau punya peranti lebih dari satu sih aman. Dua-duanya bisa dihadiri. Satu pakai Hp satu lagi pakai Laptop misalnya.

Resikonya bisa dapet cuma dapet ilmu dari satu webinar atau malah gak dapet dua-duanya. Amsyong  dong? Iya lah karena harus ganti-gantian fokus pada dua webinar sulit sih. 

Atau hanya fokus pada satu webinar dan mengalahkan webinar yang lain. Di webinar yang lain hanya terlihat hadir padahal tidak menyimak. So hati-hati saat klik link pendaftaran pastikan waktu pelaksanaannya gak berbarengan ya.

Saat kita sudah mendaftar pada satu webinar kemudian kita akan diarahkan untuk join pada salah satu grup biasanya kalau gak whatapp ya telegram. Nah dengan kita join di grup whatapp atau telegram tersebut auto deh kita bakalan banyak dapet share-share an pelatihan ataupun webinar lainnya dari anggota grup, padahal webinar yang kita ikutin belum selesai.

Terkadang memang banyak anggota grup yang menyelam sambil minum air, jadi numpang buka lapak di grup pelatihan. Mau ngingetin kok ya gak enak gitu,sungkan, biasa khan kalau orang timur suka ga enakan gitu. Tapi kok yang nge-share ngerasa enak aja ya, hehe.

Karena kadang gak nyambung juga info web yang dishare. Atau malah peserta ikutan nge-share pelatihan yang akan dia adakan di jam yang sama pula kegiatan zoomnya, apa gak sakit hati tuh panitianya. Makanya, kadang panitia suka close grup karena kelakuan anggota yang suka buka lapak sembarangan kek gini. Yah biar peserta lebih fokus juga sih. Makasih panitia.

Kalau udah gini kamu harus bintangin info penting dari panitia supaya mudah nyarinya pas dibutuhin. Atau kalau di telegram kamu langsung forward to saved massage. Sekali lagi ini untuk memudahkan pencarian file saat dibutuhkan, karena biasanya sudah ketumpuk sama chat yang bejibun. 

Apa share-share iklan itu jadi faktor yang bikin kita peserta webinar jadi gak nangkep materi? Padahal panitia dah nyiapin nara sumber yang keren banget secara keilmuan dan jam terbangnya juga dah banyak. Tapi tetep aja kadang peserta webinar setelah sebulan terima sertifikat pas ditanya “webinar ini isinya apa?” trus inget-inget dan gada yang nempel di otak.

Sebenernya bukan salah penyelenggara webinar kalau kita ikutan webinar trus kok gak mudeng sama materinya. Padahal dari judul webinarnya dah bagus banget. Dan pematerinya juga bukan kaleng-kaleng, pematerinya praktisi langsung di bidangnya.

Hanya saja kadang peserta webinar hanya fokus pada mengejar sertifikat. Secara sertifikat ini yang akan digunakan untuk melamar pekerjaan atau syarat seleksi jabatan tertentu. Atau gak seperti kasus diatas, ikutan webinar yang ternyata pelaksanaanya berbarengan.

Sehingga niat hanya mencari sertifikat webinar yang berbarengan ini membuat peserta webinar hanya hadir di webinar dengan mute audio dan off camera dari awal sampai akhir. Dan hanya mencari link absensi. Dan ribut kalau sertifikat belum diterima.

Meskipun sebenarnya tidak semua peserta webinar seperti ini, banyak juga yang memang haus ilmu pengetahuan dan ingin update teknologi atau ingin mengetahui ilmu baru selain ilmu atau profesi yang digelutinya sekarang.

Tapi khan sayang kalau sudah daftar webinar, meskipun gratis, trus cuma dapet sertifikat dan buang kuota demi pantengin nama tetap ada di layar zoom. Apalagi pembicaranya keren pula dalam artian praktisi, pasti banyak info baru yang belum pernah kita dengar.

Dan lagi pula kapan lagi bisa dapat ilmu dari professor langsung kalau gak gara gara pandemic gini. Jadi mending sambil pegang pulpen sama kertas sambil orat-oret apa yang disampaikan professor. 

Semestinya kalau ada tugas di pelatihan atau workshopnya usahakan kerjain sendiri jangan minta sama peserta lainnya. Sekali lagi jarang jarang hasil tugas kita dikoreksi langsung ma professor lohhh…

Trus, kalau ternyata berbarengan usahakan lihat tayangan ulangnya di youtube. Karena biasanya panitia berbaik hati menyiapkan tayangan hasil webinarnya di youtube. Dan jangan lupa subscribe chanel panpelnya.

Hal lainnya yang bikin peserta gak mudeng sama materinya bisa jadi karena webinarnya dilakukan satu arah. Jadi, hanya nara sumber saja yang bicara tidak ada komunikasi dua arah antara audien dengan nara sumber. Meski kalau pun dibuka komunikasi dua arah belum tentu bertanya juga, tapi minimal bisa mengkonfirmasi pemahaman lah.

Salinan materi dari nara sumber ini juga penting loh selain coretan yang sudah dibuat. Jadi, saat sertifikat bersanding dengan salinan materi ada di drive kita. Minimal bisa kita lihat dan baca lagi untuk memahami kembali informasi yang pernah didapat waktu webinar.

Kalau sudah gini sih, ikut banyak webinar pasti bikin pinter. Iya gak sih.