Ikhlas merupakan perilaku seseorang dalam mengerjakan sesuatu yang hanya mengharapkan ridho Allah Ta’ala, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ikhlas berarti tulus hati. Dalam hal hubungan sesama manusia, ikhlas adalah memberikan sesuatu dengan ketulusan hati. Sementara itu, keikhlasan juga memiliki arti kerelaan.

Satu-satunya hamba Allah yang tidak bisa disesatkan oleh iblis adalah orang yang ikhlas. Seperti yang ada dalam surat Shad ayat 82 dan surat Al-Hijr ayat 40, berikut ini.

Surat Shad ayat 82 :
‎قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Arab-Latin: Qāla fa bi'izzatika la`ugwiyannahum ajma'īn 

Terjemah Arti: Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya."

Surat Al-Hijr ayat 40 :

‎إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ
Arab-Latin: Illā 'ibādaka min-humul-mukhlaṣīn

Terjemah Arti: Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka".

Maksud dari surat di atas adalah iblis akan menyesatkan hamba-hamba Allah kecuali hamba-Nya yang ikhlas. Dalam bahasa arab orang yang ikhlas ada dua yaitu mukhlis dan mukhlas. Mukhlis merupakan orang yang berusaha ikhlas sedangkan mukhlas adalah orang yang Allah instal didalam hatinya perasaan ikhlas.

Ikhlas itu mudah diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Banyak dari kita yang masih mengharapkan imbalan apabila sehabis menolong seseorang dan mengharapkan pujian dari orang lain karena kita telah melakukan perbuatan baik. Seseorang yang ikhlas saat berbuat baik maka ia tidak membutuhkan ucapan terima kasih atau balasan dari orang tersebut, Imam Nawawi رحمه الله berkata : “Bagi orang-orang yang ikhlas, tidak ada bedanya antara pujian & celaan manusia”. Karena yang mereka cari adalah ridha Allah, maka pujian manusia tidak membuat mereka terbang, sebagaimana celaan manusia tidak membuat mereka tumbang.”

Kita diharuskan ikhlas dalam menghadapi sesuatu karena apabila kita ikhlas maka kita akan lebih kuat dalam menghadapi hal tersebut dan membuat diri kita lebih dekat dengan Allah. Seperti yang terdapat dalam hadist An- Nasa’I “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang murni (Ikhlas) hanya untuk-Nya, dan dicari wajah Allah dengan amalan tersebut.” [HR. An-Nasa’I no. 3140, dishahihkan Al-Albani]. Sebab keikhlasan itu amalan hati, yang hanya bisa kita rasakan dan buktikan dengan amal shaleh, serta yang hanya bisa Allah nilai dan kasih balasan. Jika kita tidak ikhlas maka kita tidak akan mendapat pahala melainkan ibadah atau amal yang kita lakukan itu sia-sia dan tidak mendapatkan keberkahan.

Adapun 3 Contoh Perilaku Ikhlas :

Ketika ada orang yang terkena musibah kita membantunya tanpa memamerkan bantuan kita kepada orang banyak dan tanpa mengharapkan imbalan darinya,

Membantu orang tua membersihkan rumah tanpa syarat seperti meminta hadiah,

Ketika ada masjid yang membutuhkan dana kita ikhlas membantu masjid tersebut dengan mengeluarkan uang kita, tanpa meminta imbalan dalam bentuk apapun melsinksn hanya mengharapkan ridho dari-Nya.

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 36 :

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”

Sebagai orang islam kita harus dengan hikmat memaknai ayat di atas. Janganlah kita mempersekutukan Allah serta berbuat baiklah dengan ikhlas kepada sesama manusia, terlebih lagi kepada kedua orang tua. Carilah keridhoan bukan imbalan apalagi pujian, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan suka membangga-banggakan diri.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 264 Allah SWT juga berfirman

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

Artinya : "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."

Janganlah kita mengungkit pemberian kita karena ini adalah perbuatan tercela dan merusak kebaikan yang sudah kita lakukan. Jika kita memberi sesuatu maka niatkanlah ikhlas karena Allah, bila pemberian tersebut adalah sedekah. Dan bila pemberian itu adalah hadiah, maka niatkanlah sebagai bentuk pendekatan diri antara kita dengan orang yang kita berikan hadiah dengan tetap melandasinya karena Allah SWT.

Maka dari itu marilah kita menambah rasa keikhlasan kita dengan cara meningkatkan amal shaleh, agar kita tidak termasuk ke dalam orang yang sombong dan haus akan pujian. Jadilah orang yang paling ikhlas, bukan hanya sekedar baik. Sebab dalam kebaikan belum tentu ada keikhlasan, tetapi orang yang ikhlas sudah pasti baik. Semoga kita termasuk kedalam orang yang baik dan selalu ikhlas. Aamiin!