Ikhlas dan syukur merupakan prototype konsep hidup sehat, bahagia dan berkah. Bukankah sehat dan bahagia menjadi ending harapan hampir seluruh manusia di dunia. Berkah artinya bertambahnya kebaikan. Ada juga ulama yang mengatakan berkah adalah kebaikan yang berlimpah baik material maupun spiritual. Hanya saja ikhlas dan syukur itu mudah diucapkan tetapi sulit dijalankan.


Logikanya bagaimana mau bersyukur jika tidak puas, dan merasa kecewa atas apa yang kita dapatkan ternyata jauh dari target. Sebagian ketidaksyukuran tersebut disebabkan karena kita terbiasa menghargai segala sesuatu dari  bukan dari proses. Hal ini telah terjadi berkepanjangan sehingga menjadi budaya yang salah kaprah di masyarakat.


Benih Tidak Bersyukur

Sebagai contoh yang sederhana, dalam dunia pendidikan. Pada perolehan nilai pelajaran maupun mata kuliah anak kita, seyogyanya sebagai orang tua cukup hanya menytandarkan nilai baik saja. Meskipun sebagai orang tua perlu menyampaikan pada anak untuk selalu mendapat nilai yang terbaik semampu mereka dapat. Adapun hasil tidak harus menjadi ranking I atau lebih tinggi dari yang lain. Pada beberapa sekolah yang maju sudah tidak ada lagi perhitungan ranking atau juara. Meskipun tetap ada grading penilaian pelajaran/ kuliah seperti A, B, s.d. E.


Demikian hal tersebut meluas sampai masuk dalam kehidupan sehari-hari. Hingga pada akhirnya dalam kehidupan pun terbentuk standar output model yaitu membandingkan dengan orang lain (comparison). Hasilnya tentu sudah dapat dibaca, selalu ada kalimat; bersyukur saya lebih bagus daripada dia. Dia lebih buruk daripada nganu dan ngani. Dan hal itu sudah menjadi konvensional kelirumologi, demikian istilah Jayasuprana dulu.


***

Rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri atau jargon Jawa mengatakan sawang sinawang. Kita tidak sadar bahwa jargon-jargon tersebut menjadi pegangan serta tumbuh subur seiring berjalannya cara pandang orang yang selalu melihat dari performance dan materi. Kita tidak sadar bahwa hal ini menjadi toksik bagi masyarakat kita.


Padahal tidak selamanya demikian. Tuhan Maha Adil, semua sudah diberikan sesuai dengan takarannya. Bahasa religinya setiap mahluk hidup sudah ada hitungan rejeki masing-masing. Kita hanya wajib berikhtiar semampu kita adapun hasilnya Tuhan yang menentukan. Hidup dan mati diatur Tuhan, dan sepanjang sudah berusaha jika sudah rejeki tidak akan lari kemana.


Sebagai contoh, saya sedikit mengisahkan sebuah cerita dari rekan saya. Sebut saja nama teman saya, Rani. Rani kelihatan hidup nyaman, bahagia dan berkecukupan. Suaminya ganteng dan pegawai BUMN terpandang dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan belum bonus kerjanya. Rani dibawakan mobil sendiri, dan kemana-mana nyetir mobil sendiri, keren bagi saya. Tetapi Belakangan ini saya tahu ternyata dia ditinggal suaminya untuk nikah lagi tanpa izin, bahkan sekarang suaminya ghosting.


Cerita sawang sinawang yang lain seperti yang diceritakan teman saya. Ada lagi masyarakat yang kelihatannya berlebih, memiliki mobil mahal, rumah bagus, atau mobil beberapa, rumah juga beberapa. Ada juga yang rurmahnya bagus, memiliki kendaraan dan gawai yang mahal tetapi sebenarnya untuk makan dan mencukupi kebutuhan primer sekunder saja susah. Masyarakat tidak tahu bahwa setelah pandemi covid-19 telah membuat banyak orang kehilangan pekerjaan, sehingga berakibat dia tidak dapat mengangsur, membiayai kesehatan dan jatuh miskin.


Rupanya ini yang dinamakan positif palsu (kaya palsu), dan hal ini yang sering menyulitkan teman-teman PKH mendefinisikan eligibilitas miskin pada masyarakat. Betul saja data Dinas Sosial sering menipu. Sebab manakala terjadi guncangan ekonomi, maka masyarakat yang mendekati mampu jelas jatuh ke miskin. Sementara data eligibilitas sangat berpengaruh pada besarnya angka kemiskinan. Hal inilah yang membuat data base kemiskinan menjadi tidak valid.


Belajar Menerima Keadaan

Semua itu akan berbeda ceritanya manakala seseorang hidup seadanya,  dengan apa-apa yang serba sederhana. Pada orang yang bersikap demikian akan lebih tahan terhadap guncangan ekonomi. Tidak salah jika mas Ippho Santosa berpesan untuk Sabtu (selalu aku beli tunai). Jauhi sistem kredit apalagi kartu kredit. Bukannya tidak boleh kredit, melainkan harus betul-betul diperhitungkan dengan perencanaan yang bijak. Kita harus kuat menahan nafsu dan godaan barang/ modal serta lebih menerima keadaan. 


***

Lalu bagaimana untuk memperoleh barang yang kita inginkan? Tentu saja dengan menabung. Berbeda dengan generasi digital native (gen Z) yang dianggap lebih mengetahui teori financial planner dalam keluarga (menurut Prita Ghozi dalam sebuah wawancara), maka generasi X dan generasi sebelumnya dianggap bertanggung jawab terhadap toxic culture tersebut. 


Toksik culture harus segera diputus rantai penularannya. Hal itu disebabkan jika masih terpelihara maka masyarakat sulit untuk dapat bersikap ikhlas dan dapat bersyukur yang merupakan prasyarat untuk meningkatkan indeks bahagia.


Bersyukur atas hal terkecil yang bisa dicapai atau didapat. Bersyukur atas proses yang dijalani. Bukan karena lebih baik dari orang lain, melainkan bersyukur sudah melewati stase perjalanan hidup dengan penuh perjuangan untuk kebaikan yang berlebih (berkah).


Bukankah salah satu hikmah covid-19 yaitu tahu  bahwa dengan bahagia dapat meningkatkan imun tubuh. Artinya bahagia itu dapat menyehatkan. Ikhlas dan bersyukur dapat mengurangi beban psikologi (stress) yang menjadi dampak baru bagi masyarakat pasca lonjakan kedua covid-19.


Seperti kita ketahui lonjakan kedua covid telah menimbulkan banyak korban, yang berdampak gangguan psikologis yang mendalam karena kehilangan orang yang menanggung beban keluarga.  Hanya kita yang dapat menenteramkan jiwa sendiri. Sampai di sini semakin kita sadar betapa pentingnya ikhlas dan bersyukur dalam menjalani kehidupan.