Di masa serba online-online dan mengagungkan kecepatan ini, kita perlu jeda sejenak untuk mengatur napas serta merekonstruksi ulang tujuan hidup. Duduk tafakur dan belajar bersyukur.

Rehat tersebut guna merefleksikan banyak hal, seperti memaknai pelbagai peristiwa yang telah dilakoni, maupun menguak rahasia-rahasia yang tersembunyi dari benda-benda di sekitar kita. Toh siapa tahu, kehadiran benda-benda yang sering kita abaikan, kadang menyimpan semesta pengetahuan.

Ada banyak tempat yang bisa dijadikan medium untuk merenung, juga bejibun hal yang dapat dipikirkan. Terlebih lagi ketika kita menyelami riuhnya semesta internet, perigi inspirasi untuk dijadikan kawan berdialog tidak pernah kerontang, juga gersang.

Bagi saya, tempat yang menjadi favorit untuk menggali dengan khidmat dan khusyuk perihal makna dari ragam peristiwa yang telah menjadi kenangan adalah toilet. Di tempat yang menjadi kiblat untuk melaksanakan ritual membuang segala jenis air tersebut, kadang saya juga memikirkan fungsi dari benda-benda yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Nah, setelah bermeditasi beberapa menit sambil menunaikan ritual rutin sehabis bangun tidur di pagi hari, saya menemukan fungsi yang paripurna dari ikat pinggang. Ternyata, benda yang berjodoh dengan celana ini, selain menghadirkan estetika, juga menyimpan tujuan yang begitu mulia.

Sebagaimana lazim diketahui, ikat pinggang sering digunakan untuk mengencangkan celana agar tidak melorot. Namun, selain fungsi konvensionalnya, ikat pinggang juga memiliki peran yang begitu luhur, agung, bahkan mencengangkan.

Dalam tulisan yang teramat jauh dari mazhab ilmiah ini, saya tidak akan berbicara tentang teori konspirasi ikat pinggang atau cocoklogi tentangnya. Lha, biarlah seluk-beluk ilmu-ilmu tersebut cukup dimiliki oleh Babang Jerinx SID.

Baiklah, mari kita kupas secara perlahan tentang fungsi ikat pinggang yang belum begitu familier, meskipun lebaran kali kita rayakan dengan cara tidak pulang kampung. Oke, mari siapkan masker, sabun cuci tangan, dan bongkar segala jenis hoaks.

Perlu diketahui, ikat pinggang juga dapat dijadikan sebagai Alat Pelindung Diri (APD). Tentunya APD di sini berbeda dengan APD milik tenaga medis yang bertugas untuk menangani  pasien positif corona.

Dalam konteks ini, ikat pinggang dapat dijadikan senjata untuk bertahan dari serangan orang-orang yang ingin mencelakakan atau mencederai kita. Misalnya begal, rampok, atau koruptor.

Bagaimana caranya bekerja? Begini, ikat pinggang dapat dijadikan senjata pemungkas untuk memukul mundur begal dan segala tetek bengeknya. Tentunya dengan dikombinasikan berbagai keahlian bela diri, silat, maupun kepandaian mengendalikan empat elemen sebagaimana Avatar Aang.

Seperti yang terdapat dalam cerita silat zaman bahela, kadang para jawara menggunakan ikat pinggangnya sebagai cambuk. Dari cersil tersebut, dapat kita petik sebuah inspirasi bahwa ikat pinggang juga dapat digunakan untuk membuat babak belur orang-orang yang memiliki sifat amoral itu.

Dapat dipastikan trik yang mengadopsi cersil tersebut dapat berjalan sebagaimana mestinya. Dengan catatan, begal maupun saudara-saudaranya dilihat dari sudut pandang mana pun terlihat lemah dari kita.

Oke. Jangan lupakan juga, di dalam film Detective Conan maupun Batman, ikat pinggang mereka banyak menyimpan beragam alat, untuk menunjang kinerja agar maksimal. Pun begitu pula dalam serial Kamen Rider, ikat pinggang atau belt juga dijadikan tokoh utamanya untuk berubah wujud, kemudian mengalahkan para monster di tiap episodenya.

Selain berafiliasi dengan perlindungan diri, ikat pinggang juga dapat menjadi medium untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Nah, sampailah kita pada poin yang menggoncang nalar ini. Untuk memulainya, kita awali dengan ucapan basmalah.

Begini, sebagai seseorang yang pernah menjadi santri di pondok pesantren tradisional, tentunya diwajibkan menggunakan sarung. Kewajiban tersebut meliputi proses belajar di ruang kelas maupun di rumah para ustaz.

Nah, di sinilah kadang menjadi masalah bagi santri yang baru menggunakan sarung dan bingung untuk memperkuat simpulnya, sehingga diperlukan jasa dari ikat pinggang.  Bisa dibayangkan, bagi yang belum berkawan akrab dengan sarung, ada ras was-was yang menghantui ketika berjalan, yakni secara tiba-tiba sarung melorot dengan alasan longgar.

Wah, jika hal ini terjadi, dapat dipastikan malu menjadi sultan seketika, terlebih lagi tanpa memakai celana dalam. Bagi yang mentalnya sudah terasah, mereka akan memasangnya kembali dan bersikap acuh tak acuh. Namun bagi pemalu akan mundur perlahan-perlahan bahkan memilih keluar dari pondok.

Ketika hal terakhir ini menjadi pilihan, maka cita-cita dari kedua orang tuanya juga turut berakhir. Begitu pula kesempatan bagi si santri untuk memperdalam ilmu agama pun menjadi ambyar. Sehingga tujuan yang teramat mulia seperti mengenal Tuhan yang diidam-idamkan tidak bisa tercapai karena kealpaan hadirnya ikat pinggang.

Selain kedua fungsi tersebut, ikat pinggang juga dapat digunakan untuk melakukan survival di tengah wabah ini, sebagaimana yang sering diucapkan oleh orang-orang: kini saatnya  mengencangkan ikat pinggang di tengah ketidakpastian nasib menghadapi pandemi dan bayangan mantan.