Hiruk pikuk Pilpres telah menjadi catatan sejarah baru bagi dunia politik di Indonesia. Para awak media seakan tak ingin melewatkan segenap aksi para politisi dan simpatisan Capres dalam bermanuver. 

Tentu ada yang bermain halus dan ada juga yang bermain kasar alias provokatif.

Banyak yang mengira, setelah Pilpres selesai, maka drama politik akan selesai. Namun ternyata hal tersebut tidak semudah mematikan lilin dengan sekali tiup. 

Setelah bertemunya Prabowo dan Jokowi yang diakhiri dengan makan sate bersama, sebagian simpatisan dari kubu 02 seakan menunjukkan keresahannya, hingga berniat ingin menggelar Ijtimak Ulama 4.

Tak hanya itu, PA 212 yang pada awalnya bersemangat dalam memberikan dukungan kepada Prabowo, bahkan mengancam akan meninggalkan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut jika Prabowo bersedia “dirangkul” oleh Jokowi.

Jika hal itu terjadi, lantas apa gunanya mengancam? Kenapa PA 212 terkesan gemar mengancam sesuatu? Kalau sudah begini, tentu akan muncul pertanyaan, apakah ada motif tertentu untuk memberikan dukungan kepada Prabowo?

Pastinya kita harus sepakat bahwa dalam berpolitik janganlah terlalu fanatik. Seperti selayaknya pertandingan tinju, meski saling pukul dan hantam, namun setelah pertandingan selesai, maka kedua petarung akan saling berpelukan dan menunjukkan sikap saling menghormati, bukan lantas menambah dendam.

Hal itu pula yang ditunjukkan oleh Jokowi dan Prabowo, di mana keduanya sempat saling berdebat, saling mementahkan argumen, dan melakukan berbagai upaya untuk dapat merebut suara rakyat. Meski ada ketegangan, namun keduanya memutuskan untuk tetap bersahabat. Hal itulah yang semestinya menjadi teladan bagi masyarakat.

Kedua Ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, juga bersepakat bahwa pertemuan antara Jokowi dan Prabowo merupakan langkah yang positif. Apalagi jika publik sudah lama menginginkan rekonsiliasi setelah polarisasi yang terjadi saat Pilpres 2019.

Jika memang rekonsiliasi sudah selesai, maka untuk apa ijtimak ulama 4 digelar? Apakah PA 212 merasa bangga jika Prabowo terus-terusan bermusuhan dengan Jokowi? Jika memang demikian adanya, tentu Ijtimak Ulama 4 merupakan agenda yang berpotensi merawat keterbelahan yang ada.

Selain itu, apabila kita urut ke belakang, saat di mana ormas-ormas Islam demikian kuat ingin menggolkan agenda mengganti Presiden, maka makin nyata pula niat mereka untuk membebaskan Habib Rizieq dari jeratan hukum. 

Mereka rupanya telah menjadikan kepulangan pimpinan FPI tersebut ke tanah air. Apalagi ormas yang sangat akrab dengan PA 212 tersebut sedang menghadapi dilema akan kemungkinan tidak diperpanjangnya izin mereka sebagai organisasi kemasyarakatan.

Tentunya menjadi sebuah kekeliruan apabila ormas seperti FPI dan PA 212 menganggap bahwa Prabowo akan tetap berada di barisan yang sama untuk mengawal pemberlakuan syariat Islam. 

Tentu hal tersebut akan menyisakan kekecewaan yang mendalam tatkala mengetahui bahwa tokoh politik yang diandalkannya ternyata berbuah pahit. Dan, bagaimanapun juga, tidak selamanya bisa digunakan sebagai kendaraan perjuangan agama.

Padahal ulama adalah tokoh yang dihormati dan disegani. Ulama merupakan sosok yang memiliki visi keislaman dan keilmuan sebagai pewaris nabi. Sehingga sebaiknya ulama tidak perlu masuk terlalu dalam di ranah kepentingan politik praktis.

Jika kita menengok NU, pelaksanaan Ijtimak dilakukan hanya untuk membahas masalah fikih dan keagamaan, bukan politik praktis. NU juga secara tegas akan menolak untuk hadir dalam Ijtimak Ulama yang digagas oleh PA 212 tersebut.

Ijitimak Ulama bisa jadi merupakan bentuk kebencian akan upaya rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo. Padahal drama Pilpres sudah berakhir. Semua elemen masyarakat tentu diharapkan untuk kembali bekerja sesuai dengan profesi dan aktivitasnya masing-masing.

Kita tentu bisa saja menduga bahwa Ijtimak Ulama 4 merupakan upaya untuk mengangkat isu-isu agama dengan kekecewaan terhadap kontestasi politik. Padahal Majelis Ulama Indonesia kembali menyerukan pentingnya menjaga situasi kondusif bangsa dan negara oleh seluruh elemen bangsa, terutama umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia.

Jika Ijtimak Ulama 4 adalah bentuk kekecewaan terhadap upaya damai, tentu kita patut mempertanyakan, apakah ulama yang tergabung dalam Ijtimak tersebut merupakan tokoh yang cinta akan perdamaian?