3 bulan lalu · 2518 view · 2 min baca menit baca · Politik 49494_96964.jpg
Kompas

Ijtimak Lembaga Quick Count: Jokowi Menang

Saiful Mujani, melalui catatannya Perihal Quick Count, menegaskan kemenangan paslon 01 (Jokowi-Ma’ruf) atas 02 (Prabowo-Sandi) di Pilpres 2019 sebagai hasil ijtimak—tentu bukan ijtimak ulama, tetapi ijtimak dari sejumlah lembaga quick count kredibel seperti SMRC, Indikator Politik Indonesia, Charta Politika, dan Cyrus Network.

“Berbeda dengan 2014, Pilpres 2019 ini ditandai oleh tak ada satu pun lembaga quick count yang melaporkan hasilnya terbalik. Ada semacam ijtimak lembaga quick count tentang hasil Pilpres ini: 01 menang atas 02 dengan selisih sangat signifikan.”

Catatan Saiful ini penting sekali kita simak. Sembari menunggu hasil rekapitulasi dari KPU, setidaknya quick count memberi secercah sinar di tengah gelapnya perkiraan hasil Pilpres. Quick count punya fungsi meredam potensi spekulasi liar yang bertebaran yang itu hanya akan memicu polemik, terutama antarpendukung paslon.

“Berkat ilmu pengetahuan lewat quick count, spekulasi yang tak bertanggung jawab bisa kita kurangi. Sangat alamiah kalau manusia ingin tahu segera. Ketidakpastian adalah sumber spekulasi dan kekisruhan. Quick count ikut meredam ini.”


Yang jauh lebih penting, kata Saiful, quick count menjadi instrumen untuk jadi pembanding hasil KPU nanti. Bila keduanya beda ekstrem, misalnya menunjukkan hasilnya terbalik, maka pasti ada yang salah, entah itu dari quick count maupun KPU.

“Kalau tak ada quick count, kita tak punya alat untuk mengecek kualitas kerja KPU yang dibiayai mahal oleh rakyat. Quick count memastikan apakah Pemilu kita Jurdil (jujur dan adil) atau tidak.”

Berkat quick count lagi, lanjut Saiful, warga punya informasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Partisipasi politik dan kesaksian warga secara langsung adalah legitimasi demokratik atas Pemilu kali ini.

*Lebih jelasnya terkait ijtimak lembaga quick count di atas bisa dibaca di sini: Hasil Pilpres 2019 versi Quick Count.

Hasil yang Konsisten

Sebelum pemilihan, tanda-tanda kemenangan 01 atas 02 memang sudah mencolok. Berdasarkan hasil survei eletabilitas periode 24 – 31 Januari 2019 yang Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) rilis misalnya, di situ menunjukkan kedigdayaan Jokowi-Ma’ruf sebesar 54,9 persen atas Prabowo-Sandi yang hanya meraup 32,1 persen. Sisanya, 13 persen, datang dari mereka yang belum memilih atau tidak tahu.

Pada periode 24 Februari – 5 Maret 2019, lagi-lagi menampilkan keunggulan elektabilitas petahana, bahkan meningkat, yakni 57,6 persen. Adapun penantang, capaiannya menurun ke titik 31,8 persen.


Hingga survei elektabilitas terbaru SMRC periode 5 – 8 April 2019, kondisi serupa masih bercokol: 56,8 persen versus 37 persen. Maka tak salah jika quick count SMRC per sebelum tulisan ini tayang menunjukkan angka 54,83 persen untuk Jokowi-Ma’ruf dan 45,17 persen untuk Prabowo-Sandi dengan suara yang masuk sebesar 99,83 persen.

Hasil yang konsisten ini jelas masuk akal. Kita harus mengingat survei-survei elektabilitas sebelumnya yang memang nyaris tak berubah. Lalu atas dasar apa lagi kita menyangkalnya? Yang ilmiah kok mau dilawan?

Artikel Terkait