1 bulan lalu · 741 view · 4 menit baca · Pendidikan 55641_41050.jpg
Pixabay

Ijazah Akan Kalah

Ketika Baghdad sempat menjadi pusat peradaban dan keilmuan dunia, orang-orang ramai belajar ke sana. Bermodalkan keberanian, kesungguhan, dan biaya, mereka mendatangi guru-guru yang mahsyur pengetahuan di bidangnya masing-masing. 

Dahulu murid mencari guru, karena setiap guru telah teruji kemampuannya. 

Setiap murid yang mampu menyelesaikan pelajaran bersama gurunya akan mendapatkan sebuah sertifikat yang menandakan ia telah selesai belajar dan kini memiliki legitimasi untuk bicara sesuai ilmu yang dipelajarinya. Itulah asal muasal ijazah yang kita kenal hingga saat ini.

Sayangnya, makna ijazah sekarang direduksi sedemikian rupa. Sehingga ijazah bukan lagi penanda kemampuan seseorang dalam ilmunya, melainkan penanda bahwa ia pernah sekolah di suatu tempat tertentu. 

Meski begitu, tanpa harus teruji kemampuannya, seseorang bisa menggunakan ijazah untuk keperluan-keperluan hidup, seperti mencari kerja atau studi lanjut. Hal ini seolah lumrah saja, namun sebetulnya memiliki dampak yang sangat fundamental.

Karena ijazah tak ubahnya kertas serbaguna, orientasi pendidikan seseorang bukanlah penguasaan keahlian dan keilmuan, melainkan mendapatkan kertas tersebut. Selama kita memegang ijazah, kita akan selalu diprioritaskan di tempat mana saja kita melamar pekerjaan. 

Seseorang yang terlahir di keluarga yang berprofesi sebagai montir, dan tumbuh dengan mengenali mesin-mesin sampai memahami strukturnya, tetap akan dilupakan jika harus bersanding dengan seorang sarjana lulusan teknik mesin yang paham banyak teori tentang mesin ketika melamar kerja di perusahaan otomotif.

Sistem kehidupan manusia sekarang yang digerakkan karena kebutuhan industri menjadi penyebab utamanya. Semua tujuan pendidikan yang panjang adalah mempersiapkan manusia siap kerja untuk terus menjalankan roda perindustrian. 

Maka dari itu, jargon universitas yang mampu menjamin pekerjaan sedikitnya mampu mengangkat pamor dan meningkatkan jumlah mahasiswa baru. Sementara jargon kampus-kampus yang telah lebih dulu tenar mengenai memanusiakan manusia hanyalah kamuflase dari jargon yang sama tentang kemudahan mendapat pekerjaan.

Sebetulnya tidak ada yang salah mengenai kemudahan mengakses pekerjaan. Nyatanya manusia memang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Yang menjadi persoalan adalah degradasi kognitif tentang makna pendidikan. Jika memang pendidikan yang ada sekarang adalah untuk mendapatkan ijazah, maka pendidikan bisa dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sekarang banyak alternatif untuk menyaingi ijazah, salah satunya adalah sertifikasi keprofesian. 

Saya pernah bertemu dengan seorang lulusan sarjana pertanian yang bekerja sebagai penata rambut. Ketika saya tanya, ternyata dia melakukan pekerjaan tersebut bukan karena terpaksa, melainkan karena dia menyukai pekerjaan yang penuh ketelitian seperti itu.

Ia bercerita bahwa seorang rekannya tidak pernah kuliah di mana pun, tetapi ia memiliki posisi dan level yang sama dengannya karena memiliki sertifikat profesi penata rambut. 

Menurut keterangannya, kawannya itu mengambil kursus profesi tersebut tidak lama setelah lulus SMA. Ia menjalaninya selama enam bulan dan langsung praktik di beberapa salon dan tukang potong rambut.

Contoh lain, saya mengenal seorang kawan lulusan teknik industri yang menjadi barista di kafe yang dia rintis bersama kawannya. Ia bercerita bahwa dirinya mengambil kursus sertifikasi sebagai barista selama dua bulan dengan biaya yang cukup mahal. Sertifikat itu membuatnya lebih terpercaya dan ber-sanad dalam mempraktikkan ilmu perkopiannya.

Kedua contoh di atas menunjukkan satu hal; sertifikasi profesi mengungguli ijazah dalam hal efektivitas dan durasi. Selain bisa ditempuh dengan lebih cepat, hal yang dipelajari lebih praktis dan terarah. 

Sekarang, justru perusahaan dan institusi mulai melirik sertifikasi profesi sebagai bentuk jaminan atas kemampuan seseorang.

Berkembangnya cara belajar secara global juga ikut memengaruhi hal ini. Munculnya istilah Massive Open Online Courses (MOOCs) atau kursus terbuka berskala besar yang menjamur di internet juga membantu sertifikasi profesi untuk naik daun. 

Sekarang, seseorang bisa mengambil kelas koding di skillshared atau futurelearn dan membayar beberapa puluh dolar untuk dikirimi sertifikat kemampuannya. Tentu saja sertifikat ini didapat seusai menyelesaikan pelajaran dan menjalani tes yang tersedia.

Terbukanya akses untuk mendapatkan sertifikat profesi ini juga terjadi karena pasar industri yang menuntut demikian. Artinya, selama tujuan pendidikan dikebiri menjadi hanya sebatas mendapat pekerjaan, maka tidak ada gunanya mendapat ijazah. 

Sertifikat profesi jelas jauh lebih menguntungkan dari berbagai sisi. Sekali lagi, jika tujuan pendidikan memang hanya mengarah kepada pencarian kerja.

Cacat dalam Pendidikan Kita

Pola pendidikan Indonesia sejak SD hingga SMA adalah belajar dan ujian, sebuah pola yang membentuk seseorang menjadi penurut dan patuh. 

Ketika lulus sekolah, seseorang berusaha mencari tempat yang memiliki pola serupa, dan hal tersebut ditemukan di dunia industri di mana seseorang akan bekerja dan diberi penilaian dengan sistem reward and punishment.

Sementara beban-beban pendidikan yang lain, seperti pengenalan diri, berpikir kritis, wirausaha, dan soft skills, kesemuanya dipelajari sekaligus ketika kuliah. Ki Hajar Dewantara dahulu merumuskan alur pendidikan yang ideal, yang entah kenapa tidak pernah diterapkan oleh sekolah di Indonesia. 

Beliau mengenalkan bahwa taman siswa (SD) diperuntukkan sebagai sarana pembentukan karakter dan pengenalan terhadap diri dan lingkungan. 

Pada masa ini, siswa tidak perlu jago bahasa Inggris atau mengerti bahasa pemrograman. Yang terpenting, dia memahami nilai-nilai dalam hidup dan mulai mengetahui apa yang disukai dan tidak disukainya.

Ketika siswa menginjak usia remaja (SMP), siswa mulai mengasah kepekaan dirinya terhadap hal apa yang paling menarik minatnya, sekaligus dibarengi dengan mempelajari ilmu-ilmu yang bisa mendukung perkembangannya. 

Barulah saat beranjak dewasa (SMA) siswa mempelajari bagaimana mengembangkan kemampuannya sebagai sesuatu yang dilakoninya dalam hidup. Sementara universitas menjadi tempat aktualisasi diri dan proses mengenali dunia nyata secara terstruktur dan logis.

Pada awalnya, sekolah Taman Siswa yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara memang dibangun dengan wacana perlawanan terhadap penindasan. Lebih dalam lagi, pendidikan bertujuan membebaskan diri dari penjajahan pikiran sehingga manusia bisa mandiri secara akal. 

Manusia yang merdeka sejak dalam pikiran akan sulit bertahan dalam dunia industri sekarang karena mereka akan tumbuh menjadi jiwa-jiwa yang berani dan bebas. Mereka percaya yang akan menghidupi mereka adalah keunggulan dan segala pengalaman yang mereka miliki, bukan selembar kertas sakti ataupun orang dalam.