Pagi buta di ujung desa yang kaya dana BLT (Bantuan Langsung Tunai), dipecahkan suara-suara keributan. Desa yang semestinya bisa mandiri tanpa bantuan ini itu jika tak ada monopoli tembakau. 

Sekelompok anak muda yang baru saja mudik dari menimbah ilmu di kota menjadi pusat perhatian warga. 

Mereka para pemuda sedang membuat grafiti kacau di tembok pembatas pekarangan milik seorang juragan tempe itu. Pemiliknya naik pitam. 

Dua kubu adu mulut itu unik sekali. 

“Tenang, Pak, nanti dicat lagi,” jawab seorang dari mereka.

“Kalian tak beradab!” kata si pemilik tembok tebal itu.

“Kemarahan atas praktik agama yang brutal!” balas seseorang dari pemuda-pemuda itu.

“Apa katamu?!” 

“Kami tak pernah baku hantam berselisih tentang Fisika Klasik dan Modern mengenai cahaya dan Bapak berselisih tentang cahaya Tuhan dengan mengkafirkan, memolisikan, bahkan membunuh!” balas mereka hampir serentak sambil pergi tanpa beban. 

Saudagar tembakau kaya itu hanya berdiri melongo sambil terus melihat coretan-coretan liar grafiti di temboknya.

Kata-kata halfwit, blockhead, cretin, imbecile, dullard, moron, simpleton, clod yang tergambar artistik ala grafiti itu seolah menyihirnya. Maksudnya, gak paham artinya!

Malam beranjak, seekor makhluk gelap merayapi dinding-dinding grafiti itu. Deru nafas ekstremisme keluar berhembus keras dari lubang-lubang besar hidungnya. 

Ekornya yang tajam menancap ke sana ke mari mencari sasaran yang dianggap lunak baginya, walaupun itu tembok keras.

Tidak ada diskursus sekalipun dalam hati (entah punya atau tidak) makhluk itu. Semua baginya adalah “Aku yang benar!”.

“Hi, makhluk hitam!” suara itu memantul tajam di permukaan tembok penuh grafiti itu.

“Siapa kau?” tanya makhluk hitam berekor itu.

“Aku adalah Ignoramus Gedabrus,” jawab suara itu.

Tanpa basa-basi lagi dan sepertinya sudah mengalami interferensi kesamaan keangkuhan, kesoktahuan, dan keakuan, kedua jasad dan suara itu bersatu. 

Kini, Makhluk hitam berekor itu mempunyai inang baru, Ignoramus Gedabrus.

Cakar-cakar tajam mulai menggores tembok penuh grafiti para pemuda itu. Namun, begitu aneh, gerakannya hanya mondar-mandir vertikal di permukaan tembok. Seolah ingin membaca dan tahu arti kata-kata yang ditulis secara grafiti tersebut. 

“Aku pasti bisa!” khas pongah makhluk hitam itu sambil terus melelehkan liurnya yang tak habis-habis menentes bak lem kayu itu. 

“Aku adalah ahli agama, gini saja, kok, gak bisa!” hibur makhluk hitam berekor tajam itu. 

Ekstremis-ekstremis agama itu mulai mengumpulkan premis-premis pengetahuannya yang dibacanya dari kitab suci.

Hanya dibaca saja. 

Tulisan grafiti di tembok itu adalah data-data empiris. Sedang yang ia miliki hanyalah “religious experiences” yang dibangun dengan tajamnya kuku-kuku itu. Dibangun dengan liur-liur sapu bersih keakuan. 

Makhluk hitam itu sesaat berhenti mondar-mandir. Sepertinya kehabisan akal untuk mengerti arti coretan-coretan grafiti tersebut. Bertanyalah ke inangnya, “Kau! Bantulah aku. Apa arti ini semua?”

“Loh, katanya kau Raja ilmu?” jawab inang.

“Sialan!” hardik makhluk hitam.

Kembali ia mondar-mandir mempertontonkan kuku-kukunya.

“Wujud kokoh dan kuat yang tak disertai ilmu memiliki martabat yang rendah, inferior, hmmmm,” gumum inang.

Gumamnya tak didengar si makhluk hitam.

“Bukannya aku dilahirkan dengan nomenklatur mulia, bukan dengan kebebalan?!!” makhluk itu mulai marah dari yang marah.

“Ah, kau, hanya bigot-bigot pengikut agama sepertiku,” gumam inang lagi. Gumam yang tak terdengar.

Malam berganti pagi. Mimpi berganti sadar diri. Makhluk hitam masih sendiri. Walaupun ada inang di dalam tubuhnya, tetaplah masih sendiri dalam kepongahan.

Pagi adalah hukum alam yang seragam. Sedang mimpi adalah a priori tentang realitas. Sang Makhluk hitam terjebak dalam pengetahuan bawaan yang dipraktikkan dengan kekerasan.

Swabukti tentang kehebatan dirinya tak mampu memengartikan coretan grafiti itu. Ketiadaan realitas menghasilkan delusi dan halusinasi di pagi itu. 

Ia terkungkung alam citra. Telah mengadili coretan grafiti itu sebagai sesuatu yang salah karena ketidakmampuannya untuk mengerti.

“Hi, inang!” seru Makhluk hitam.

“Ya, sudahkah mampu?” tanya inang.

Tanpa menjawab, Makhluk hitam kembali mencakar-cakar coretan grafiti itu sambil mengadu kepada Tuhannya, “Duh, Tuhan Yang Mahatahu, sudi kiranya bantu hamba ini!”

Tiga putaran mondar-mandir tak ada jawaban dari Tuhannya. Makhluk hitam makin beringas. Kali ini malah menantang inangnya sendiri.

“Jika tak bermanfaat, keluarlah kau!” hardik Makhluk hitam.

“Jangan pintakan, tapi pitamkan!” balas inang.

Tanpa pikir panjang, sesuai petunjuk inang, Makhluk hitam itu memitamkan diri. Pikiran yang tak waras makin dibuatnya semakin tak waras.

Rasional-logis ditempatkannya pada sisi terendah. Makhluk hitam berpitam dengan sesuatu yang sulit dibuktikan dengan kenyataan. Menggali dengan buas ilham ketuhanan dengan cangkul imajinasi.

Imajinasi yang terbentuk dari kebuasan keseharian, menghakimi yang tak sependapat dengan dirinya. Merasa benar dan berdiri rapuh di atas alam fisiknya. 

Sang inang hanya dapat merasakan gejolak pemikiran buntu Makhluk hitam itu. Ignoramus Gedabrus!

Begitu ganas melobangi pikiran-pikiran Makhluk hitam dengan inkonsistensi. 

Jreeng.....jreengg....jreeng.............

It was one of those nights
When you turned out the lights
And everything comes into view
She was taking her time
I was losing my mind....................

Jreeeng.....jreeng....jreengg........

Lirik lagu grup musik AC/DC itu membangunkan juragan tembakau yang kesiangan hingga telatlah salat Subuhnya.

"Kurang ajar!" hardik juragan tembakau.

"Hi, Pak! Sudah kami bersihkan coretan grafitinya, tembok ente sudah bersih!" balas seorang pemuda yang membuat grafiti kemarin.

tanpa sadar juragan yang sarungnya melorot itu meraba-raba kemaluannya, meraba dadanya, rambut, perut dan hampir sekujur tubuh dirabanya. 

Sepertinya ia memastikan sesuatu, entah ekor, warna hitam, lengket liur atau kukunya yang memang jarang dipotong itu. 

"Kami berselisih tentang Sains, namun tak sampai saling bunuh. Paling banter kami tumpahkan di grafiti," jelas seorang pemuda.

"Sedang Bapak juragan, berbunuh-bunuhan saat berselisih tentang agama!" tambah seorang pemuda lain sambil maju ke arah Juragan tembakau itu.

"Apa?" 

Seperti terkejut ketika pemuda paling ganteng di antara mereka yang berdiri rapi di belakangnya itu mengulurkan telapak tangannya kepada Si juragan.

"Terima saya sebagi mantu Bapak!" kata pemuda itu.

"Kurang ajar!" hardik Sang Juragan sambil lari mengejar gerombolan pemuda yang sudah siap ambil langka seribu. 

Tampak dari belakang, di balik lipatan sarung yang tak rapi itu, ekor hitam menyembul. 

Menari-nari lincah menancapkan ujung tajamnya ke apapun yang keras sekalipun. Batu, paving stone, tembok tetangga, kayu, hingga kepercayaan dan agama yang dianggap salah olehnya.