Kebijakan pemerintah pada 6-17 Mei tentang larangan untuk mudik memberikan hikmah besar bagi saya. Hikmah tersebut adalah pertama kalinya momen Idulfitri saya lalui di Jakarta. Sedangkan Idulfitri tahun lalu saya memilih bertahan di kota Denpasar, Bali. Sudah dua kali Idulfitri saya memilih menahan diri untuk mudik.

Hikmah lainnya adalah ketika memutuskan Idulfitri di Masjid Sunda Kelapa, kawasan Menteng, Jakarta, Senin, 13 Mei 2021, khatib yang bertugas adalah Jimly Asshiddiqie, salah seorang Begawan Hukum Tata Negara di Indonesia. Sepanjang yang saya coba ingat dalam ceramahnya, tulisan ini mencoba untuk mengurai pemikiran Jimly Asshiddiqie yang terdapat banyak pesan moral di dalamnya.

Bulan Ramadan, bagi Jimly, dimaknai sebagai momen yang tepat untuk memperdekat diri dengan Al-Quran sekaligus meningkatkan rasa empati sosial kepada sesama di tengah masa pandemi. Sikap tersebut diyakini untuk menyempurnakan ibadah puasa dengan pembersihan jiwa (tazkiyatunnafs) dari kotoran dan debu kehidupan untuk memperoleh rahmat dan ampunan Allah.

Puncaknya adalah meraih kefitraan sebagai insentif keimanan yang sudah teruji selama bulan Ramadan. Modal kefitrahan tersebut, yang digunakan untuk menjalankan tugas-tugas kemanusiaan sebagai hamba Allah, sekaligus peran sebagai wakil Allah sebagai khalifah di muka bumi.

Mengutip sabda Nabi Muhammad Saw, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menyambung silaturrahim.” Masih dalam konteks yang sama, dalam hadits lain, nabi juga menegaskan, “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk dipercepat siksanya di dunia ini, selain siksa di akhirat  nanti, kecuali dosa memutus silaturahim.

Oleh sebab itu dalam bingkai kemanusiaan, hubungan silaturrahim antar umat Islam, dan juga sesama warga negara yang beraneka ragam identitas agama, suku, politik, ekonomi, dan budaya harus dijaga dengan baik demi terbangunnya kebersamaan untuk kemajuan.

Keberagaman dengan bekal spirit kemenangan Idulfitri, diharapkan dapat meningkatkan semangat persaudaraan untuk memperluas agenda kolaborasi di segala bidang kehidupan. Sebagaimana yang diperintahkan Al-Quran, “Bekerjasamalah kamu, bergotong royonglah dan berkolaborasilah satu sama lain dalam dan untuk kebajikan dan ketaqwaan kepada Allah, bukan dalam dosa dan sikap permusuhan satu dengan yang lain.

Jimly juga menyoroti situasi disrupsi yang disebabkan perkembangan teknologi, termasuk konsekuensi sulitnya mengendalikan arus kebebasan yang menyesaki ruang-ruang publik saat ini. Suasana kebebasan yang tidak terkendali tersebut yang berpotensi besar dapat merobek persatuan dan semangat persaudaraan dalam kehidupan bersama.

Di sisi lain, kebebasan secara alamiah juga lebih  sering menguntungkan pihak-pihak yang memang berada pada stratifikasi sosial lebih tinggi. Baik dari segi kekayaan ekonomi maupun dari segi kekuasaan politik. Dalam situasi tersebut, keduanya lebih sering diuntungkan dengan adanya kebebasan karena melimpahnya sumber daya dan kuatnya otoritas. Akibat yang dapat dirasakan adalah semakin melebarnya kesenjangan antara yang miskin dan kaya dan antara yang berkuasa dan tidak berkuasa.

Di tengah menguatnya situasi tersebut, secara tidak langsung menyebabkan terjadinya krisis multidimensi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara saat ini. Terlebih saat ini tengah ancaman pandemi Covid-19 yang tidak dapat diprediksi kapan berakhirnya.

Salah satu yang menjadi kunci penyelesaian adalah kebersamaan di antara segenap umat dan bangsa untuk bergotong royong menyelesaikan krisis di segala lini kehidupan sebagai misi kemanusiaan yang tidak boleh purna dalam misinya. Maka diperlukan keseimbangan antara kebebasan, keadilan, dan kesetaraan. Keseimbangan tersebut, secara tidak langsung terinspirasi dengan semboyan  dalam Revolusi Prancis pada tahun 1789 yakni “Liberty, Equality, and Fraternity”, atau kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.

Berdasarkan pembacaan sosial Jimly, kehidupan umat manusia saat ini cenderung terjebak dalam iklim yang serba bebas yang ditentukan dan didikte oleh pasar. Bahkan termasuk kehidupan umat di Indonesia. Secara menarik, Jimly mengategorisasikan kehidupan yang berorientasikan pada pasar menjadi dua yakni berdasarkan pasar kekayaan (ekonomi pasar bebas) dan pasar kekuasaan (politik pasar bebas).

Padahal berdasarkan HR Ibnu Hibban, Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baiknya tempat adalah masjid dan seburuk-buruknya tempat adalah pasar.” Ini sejalan dengan hadits lain HR Muslim, “Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid. Dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar.

Pesan yang terkandung dalam hadits-hadits tersebut tentang pasar sesungguhnya dapat dimaknai secara simbolik, bukan saja terkait dengan pasar secara fisik—melainkan juga dalam arti perilaku dan cara berpikir.

Dalam konteks pasar kekuasaan/politik pasar bebas, demokrasi politik yang berkembang secara masif dalam praktek bernegara dengan menjadikan jabatan-jabatan  kenegaraan dan pemerintahan sebagai komoditas yang diperebutkan melalui pemilu, lelang jabatan, dan proses lain yang bersifat kompetitif.

Bersamaan dengan itu, dalam konteks pasar kekayaan/ekonomi pasar bebas—praktek iklim ekonomi kita berdenyut berdasarkan mekanisme ekonomi pasar yang yang bebas dan terbuka dengan kecenderungan berhalauan kapitalisme yang kini menjangkiti hampir di keseluruhan negara di dunia.

Jika dalam perkembangan ekonomi dan politik pasar bebas ini dibiarkan, diabaikan, atau bahkan tidak dilawan tanpa kendali nilai-nilai moral dan spiritual dalam ajaran agama, maka niscaya akan terjebak dan terperangkap seperti halnya yang diungkapkan Rasulullah perihal tempat terburuk adalah pasar. Sedangkan keburukan adalah tempat setan-setan kehidupan yang selalu diidentikan dengan belenggu hawa nafsu.

Sebaliknya, tempat terbaik sebagaimana disebutkan Rasulullah adalah masjid juga mengandung simbol moralitas dan spiritualitas, termasuk makna tentang peran masjid untuk membimbing, mengarahkan, dan mengendalikan belenggu hawa nafsu umat di lingkungan pasar kekuasaan dan pasar kekayaan yang dialami oleh segelintir elite.

Jika tidak ada keseimbangan nilai moralitas dan spiritualitas yang dapat dijumpai di masjid atau rumah ibadah agama lainnya sebagai simbol keyakinan kemanusiaan pada Tuhan—maka akan dengan mudahnya dirobohkan oleh hawa nafsu seperti kesombongan, keserakahan, dll. Letak pentingnya dan penghormatan peran masjid dan rumah ibadah agama lainnya ini sejalan dengan Surat Al-Hajj ayat 40, isinya:

Orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.

Ayat tersebut sesungguhnya juga dapat dimaknai bahwa masjid dan rumah ibadah lain, tempat biasa nama Allah Swt banyak disebut dan diagung-agungkan dapat menjadi penolong yang mampu membentengi dari nilai-nilai materialisme kehidupan manusia. Selain juga bentuk penghormatan Islam kepada rumah ibadah agama lain  tentang eksistensi kebebasan beragama.

Oleh karena itu kehidupan yang berselimutkan hawa nafsu menyebabkan segala aspek kehidupan dikomodifikasikan sedemikian rupa. Di antaranya jabatan kekuasaan yang dikomoditi untuk dipertandingkan dan diperebutkan dengan segala cara—tanpa memikirkan benar salahnya dan baik buruknya.

Pada akhirnya kekuasaan yang beririsan langsung dengan kekayaan yang berorientasikan komoditas, menyebabkan keduanya tidak lagi dipahami sebagai rizki sekaligus amanah dari Allah sebagai sarana pengabdian kepada sesama untuk membangun kepentingan umum. Melainkan terus dieksploitasi guna untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih besar. Jabatan yang lebih tinggi dan kekayaan yang semakin melimpah.

Secara umum pokok pikiran kritis yang disampaikan Jimly, semakin mempertegas posisinya sebagai cendekiawan—termasuk keberpihakannya kepada kaum lemah yang terpinggirkan (mustadhafin) baik secara kultural maupun struktural.

Kondisi tersebut sekaligus tidak bisa dipisahkan dengan dari dominasi oligarki yang selama ini mengakar kuat untuk memainkan agenda kekuasaan sekaligus kekayaan sebagai modal dominan hegemonistik. Ia dengan baik memotret persoalan kemanusiaan secara komprehensif dengan memasukan nilai moralitas dan spiritualitas agama sebagai basis perlawanannya.

Bagi Jimly, Idulfitri momen yang tepat untuk membongkar kesadaran kolektif untuk bersama-sama dalam solidaritas kemanusiaan, menjawab segala bentuk ketimpangan sosial sebagai bentuk perlawanan dominasi struktural. Wallahu a’lam bishawab.