Akhir-akhir ini, menjelang Idulfitri, media sosial mainstream seperti Facebook, Twitter, maupun Instagram dihebohkan dengan berbagai meme terkait jawaban-jawaban yang harus dipersiapkan para perantau ketika mudik ke kampung halaman. Tentu fenomena di media sosial tersebut adalah hal yang lumrah dan biasa. 

Saya sendiri bahkan menganggap hal tersebut adalah hal sepele yang tidak perlu dibesar-besarkan. Namun, acap kali Idulfitri memang menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian mahasiswa perantau yang hidupnya mungkin tidak heroik-heroik amat seperti saya. 

Jangankan hanya untuk menjadi partisipan aktivis-aktivis (kiri) yang (katanya) getol memperjuangkan kesejahteraan rakyat itu, lha wong ngurusin masalah perut saja saya masih bingung besok mau makan apa. Peduli setan Sudjiwo Tedjo mau bilang saya menghina Tuhan. Realitas kadang memang tidak sesederhana imajinasi manusia. Toh juga kita tak pernah tahu Tuhan merasa terhina atau tidak. 

Kembali ke masalah Idulfitri. Idealnya, momen tersebut menjadi momen suka cita di mana kita dapat melepas kerinduan dengan orang-orang tersayang di kampung halaman, seperti keluarga, teman masa kecil, maupun tetangga setelah sekian lama tak pernah bertemu.

Namun, framing di media sosial memang sudah telanjur membuat sebagian dari kita terkesan lebai dan reaksioner dalam menanggapi pertanyan-pertanyaan ketika Idulfitri. Padahal pertanyaan-pertanyaan seperti kapan nikah, kapan wisuda, kerja di mana, adalah pertanyaan-pertanyaan lumrah yang sifatnya hanya basa-basi. 

Atau barangkali, basa-basi bukan lagi menjadi identitas kita sebagai bangsa Timur yang (katanya) ramah terhadap sesama? Hidup kadang terlalu serius untuk dinikmati. 

Kalau kita telisik lebih jauh ke belakang, sebagaimana diungkapkan oleh Yuval Noah Harari dalam Sapiens, basa-basi menjadi hal yang tidak dapat dilepaskan dari riwayat perkembangan manusia, di samping kemampuan mengorganisasi dan imajinasi.

Dengan basa-basi, manusia menjadi tahu mana yang baik mana yang buruk, mana kawan mana lawan, setidaknya menurut mereka sendiri.

Contoh kecil dan nyata adalah perkumpulan emak-emak di kampung dan desa. Tanpa basa-basi (menggosip), barangkali keakraban menjadi hal yang mustahil, ikatan emosional hanya bualan semu, dan solidaritas hanyalah kata tanpa makna.

Distorsi identitas menjadikan Idulfitri sebagai momok yang menakutkan. Term "orang-orang tersayang di kampung halaman" seketika berubah menjadi "hantu-hantu yang menakutkan". 

Entah apa yang ditakutkan, atau kita hanya takut pada konsekuensi yang dihasilkan dari kehendak bebas kita sendiri? Benar kata Sartre, manusia memang dikutuk untuk bebas, dan kebebasan itu pula juga menjadi kutukan.

Seorang teman pernah mengatakan pada saya bahwa jodoh dan rezeki adalah hal yang terlalu sensitif untuk diperbincangkan. Memang benar adanya, saya tidak menampik itu semua. Akan tetapi, bukankah hal-hal yang sensitif tersebut dapat diubah menjadi menarik dan menimbulkan canda tawa? 

Bahkan, anak kecil yang menangis pun dapat berubah tertawa riang dalam hitungan detik. Mau alasan hal itu nggak jeruk to jeruk atau apple to apple karena kita terlalu dewasa? Haisshhh, terkadang dewasa memang menjadi sebuah kutukan. 

Implikasi dari ketakutan itu adalah ketidaksudian untuk membahas hal-hal sensitif tersebut. Padahal itu semua adalah konsekuensi dari kebebasan yang kita lakukan, atau sedikit banyak mungkin juga campur tangan Tuhan, namun kita ingkari. Sehingga, sebagian dari kita (meminjam istilah Sartre) menganggap orang lain adalah neraka yang menyeramkan.

Sebagian dari kita mungkin sudah masuk pada neraka yang kita buat sendiri. Dari kegagapan kita memaknai kutukan kebebasan, dan dari ketakutan yang kita pilih sendiri. Memang manusia tak bisa menghindar dari faktisitas-faktisitas di luar kendali diri. Namun, tak ada salahnya mencoba menertawakan kutukan itu. 

Harusnya, kebebasan kita maknai secara universal, supaya terhindar dari split personality. Hal-hal yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebagian dari kita mungkin dianggap sebagai sesuatu yang sensitif, dapat kita tertawakan dengan mudahnya apabila kita juga menganggap bahwa pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan adalah bagian dari kebebasan mereka untuk berekspresi. 

Bukankah kebebasan individu juga dibatasi oleh kebebasan orang lain?

Ah, benar rupanya. Kita mungkin sudah masuk pada neraka yang kita buat sendiri. Takut pada segala hal yang bagi mereka lumrah namun kita anggap menjatuhkan harga diri. 

Toh juga jawaban-jawaban dari semua itu juga konsekuensi dari kehendak bebas kita selama ini. Atau jangan-jangan kita sendiri yang terlalu tinggi menghargai diri sendiri. Manusia memang banyak gengsinya. 

Terlepas dari nyaman tidaknya kita dengan berbagai pertanyaan sensitif yang mereka lontarkan, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa semua itu hanyalah basa-basi.

Jangan sampai kita menganggap orang tua dan orang-orang kampung lainnya sebagai orang kuno hanya karena pertanyaan-pertanyaan primordial macam jodoh ataupun rezeki. Jangan sampai kita merasa tinggi dari mereka hingga mengesampingkan aspek silaturahmi hanya untuk menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang kita anggap sensitif.

Barangkali benar apa yang dikatakan W.S Rendra, apa gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran atau apa saja, ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata: “Di sini aku merasa asing dan sepi!”