2 minggu lalu · 1305 view · 3 min baca · Politik 87848_52155.jpg
Dakwatuna

Iduladha, Ingat Ahok, Sang Kurban

Sudah tiga tahun ini, merayakan Iduladha selalu tebersit ingatan mengenai Basuki Tjahaja Purnama. Selama ini, kita melihat bagaimana Ahok sudah berkurban dengan amat sangat di DKI Jakarta. Selama ia menjadi gubernur meneruskan Joko Widodo di DKI Jakarta, orang ini memperlihatkan bagaimana ia mengurbankan waktunya untuk sebuah pengabdian.

Basuki Tjahaja Purnama, seorang politisi yang sudah bebas, pernah menjadi orang yang mengurbankan dirinya dengan baik. Ia menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Bahkan rela sampai pulang malam demi kemajuan Jakarta yang masih tersisa sampai saat ini.

Saya melihat bagaimana orang ini sudah membangun Jakarta dengan luar biasa. Ia mengubah wajah Jakarta yang dikenal kumuh, macet, banjir, dan preman menjadi Jakarta yang bersih, lancar, tidak banjir, dan tertata. Setiap tugas yang ia jalankan sendiri, maupun yang ia delegasikan ke bawahannya, dijalankan dengan sangat baik.

Sudah beberapa kali Iduladha dirayakan pasca-lengsernya Ahok dari kursi gubernur, penulis selalu mengingat Ahok. Di dalam mengurbankan ternak, saya selalu teringat oleh sosok ini, sosok yang membangun bangsa ini melalui Jakarta.

Jika kita lihat dari perspektif kurban, Ahok ini adalah kurban yang hidup. Kurban kok hidup? Bagaimana logika penulis? Dalam hal ini, kurban tidak harus mati.

Kurban dalam konteks keagamaan adalah sarana membersihkan diri dari segala dosa. Ahok datang ke Jakarta sebagai kurban untuk membersihkan Jakarta dari segala kerusakan yang ada.


Dosa-dosa Jakarta itu sebenarnya banyak. Seperti yang sudah penulis sebutkan di atas, yakni banjir, macet, preman, dan kumuh. Dia datang untuk membersihkan yang kotor-kotor itu. Darahnya mungkin tidak dialirkan, meski banyak para demonstran yang ingin Ahok mati.

Tapi jujur saja, bagi saya, Ahok benar-benar sudah berkurban dengan luar biasa dalam menjalankan roda pemerintahan ini. Dia adalah urban planner alias penata kota. Dia menata kota dengan sangat baik. Apa yang dikerjakan tidak lepas dari dedikasi yang ia tumpahkan selama ini ke hadirat warga Jakarta.

Dia datang ke haribaan rakyat Jakarta, disumpah untuk sesuatu yang besar, yakni menjadi pelayan rakyat. Dia adalah sosok yang sangat cocok disebut dengan servant leader, pemimpin yang melayani.

Sayangnya, rakyat saat itu sepertinya kurang puas melihat bagaimana pengurbanan Ahok. Mereka menuntut lebih. Mereka ingin Ahok benar-benar dipenjara. Bahkan tidak sedikit orang yang ingin Ahok digantung di JPO, tempat mereka berdemo. Spanduk-spanduk “gantung Ahok di sini” menjadi spanduk yang mengerikan.

Mengingat tradisi kurban adalah sarana meminta pengampunan, penulis melihat bahwa Ahok ini adalah kurban hidup, yang menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan sangat baik. Bahkan meski emosi berkecamuk saat ia dipenjara, ia tidak menunjukkan kekecewaan.

Ahok sang kurban itu menjadi manusia yang jauh lebih bersinar. Penjara tidak bisa menutup ide-idenya. Bahkan tulisan-tulisannya beredar viral di media sosial dan media pemberitaan. Langkahnya di Mako Brimob menjadi cahaya tersendiri bagi para pendukungnya.

Hari ini, kita akan menyambut Iduladha. Pemotongan kurban sapi dan kambing sudah siap dilakukan esok hari. Darah para hewan siap ditumpahkan. Dagingnya dibagikan ke setiap warga yang membutuhkan.

Kebijakan Ahok dulu perihal memotong hewan kurban seperti sapi dan kambing sempat mengalami polemik. Banyak sekali orang-orang yang menggunakan kesempatan ini untuk mengejek Ahok.

Padahal kita tahu, motivasi Ahok melarang pemotongan di pinggir jalan adalah demi kebersihan dan menghindari kontaminasi virus yang ada.

Tapi, politisi busuk banyak yang tidak suka dan sengaja mengobok air keruh itu. Ahok lagi-lagi dicap sebagai antiagama. Padahal sudah jelas, dia adalah kurban yang menjadikan Jakarta lebih baik lagi. Tapi, memang orang yang buta mata dan buta hati tidak pernah bisa melihat pengurbanan Ahok di Jakarta ini.


Mereka menggunakan cara-cara busuk untuk mencabut Ahok dari kursi Gubernur DKI Jakarta. Dia menjalankan tugasnya dengan baik.

Padahal sudah jelas bahwa mereka hanya ingin meletakkan gubernur yang lemah, agar uang bisa mengalir ke kantong-kantong mereka yang selama ini kering. Agar bisa makan lobster setiap hari, ketika rakyat kecil hanya bisa makan nasi barang sehari sekali.

Para politisi busuk itu akhirnya senang, mendapatkan gubernur yang lemah dan bisa dikerjain. 550 juta jadi sampah dalam waktu kurang setahun. Anggaran dibesar-besarkan.

Semua partai bungkam. Kritik hanya sebatas kritik tanpa tindak lanjut. Mereka saat ini seharusnya berterima kasih kepada Ahok yang sudah menjadi kurban untuk warga Jakarta.

Maka dalam momen Iduladha ini, kiranya kita kembali mengingat Ahok, yang sudah disembelih hak politiknya, demi keamanan dan stabilitas bangsa ini. Mengingat Iduladha, penulis selalu merindukan Ahok yang saat ini, meski sudah bebas, hak politiknya sudah habis. Untuk apa? Untuk memasang standar tertinggi.

Artikel Terkait