Idul adha beserta ritual salat telah usai dilaksanakan, yang sejak beberapa minggu dinanti oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia. Ada banyak ragam cara untuk menyambutnya, sebagian menyambutnya dengan berpuasa dan sebagian lagi menyambutnya dengan berburu baju baru serta aneka ragam kue.

Sejak malam idul adha, suara takbir berkumandang dari berbagai penjuru desa melalui pengeras suara. Dengan merdunya takbir dikumandangkan, menambah keindahan malam yang disinari kerlap-kerlip bintang di luar angkasa sana. Betapa indahnya ciptaan Tuhan. Tak henti saya merenungi alam kosmos ini, hingga subuh tiba.

Di saat khotbah disampaikan oleh khatib, otak saya berpikir keras untuk sekedar memahami isi khotbah yang menggunakan bahasa Arab tersebut. Bagaimana tidak begitu, saya yang tidak mahir berbahasa Arab atau pun memahaminya, harus mendengarkan khotbah dengan bahasa asing itu. Tidak hanya saya, juga ada banyak jamaah yang tidak paham akan isi khotbah itu.

Karena jamaah shalat idul adha di Masjid tadi, mayoritas terdiri dari petani, sisanya, ada yang santri juga ada yang mahasiswa. Satu pun tidak ada yang keturunan Arab atau bahkan orang Arab asli. Jadi, saya berani menyimpulkan bahwa, mayoritas jamaah tidak memahami isi khotbah yang berbahasa Arab tadi.

Meskipun ada santri dan beberapa mahasiswa perguruan tinggi Islam, tidak semua dari mereka memahami keseluruhan isi khotbah tersebut. Mungkin hanya beberapa kalimat yang mereka pahami dari sekian banyak teks khotbah yang dibacakan. Maklumlah, sudah lama tidak bersentuhan dengan bahasa Arab.

Ada banyak ekspresi yang saya lihat dari muka-muka jamaah. Ada yang kelihatan serius, senyum, tertawa dan bahkan ada yang kelihatan khusuk hingga terlelap tidur. Saya hanya mampu menerka, apa kiranya yang membuat mereka memasang berbagai macam ekspresi itu, karena ada isi khotbah yang lucu, menyedihkan atau bahkan menakutkan hingga ada yang memilih tidur atau sekadar tertidur.

Entahlah, jawaban itu ada pada mereka masing-masing. Yang jelas, saya menyayangkan penyampaian khotbah shalat Idul Adha tadi, yang menggunakan bahasa Arab. Bahasa yang tidak dipahami oleh mayoritas jamaah. Sehingga, pesan yang ingin disampaikan pada jamaah tidak tersampaikan dan khotbahnya menjadi sia-sia.

Kenapa saya bilang sia-sia, tentu karena mereka tidak mampu menangkap pesan-pesan yang ingin disampaikan Islam melalui khotbah shalat idul adha tersebut. Sehingga, khotbah tersebut sama sekali tidak pernah memberikan pengaruh baik, secara psikologis maupun keimanan yang transenden pada kehidupan pribadi dan sosial dalam ber-Bangsa dan ber-Islam.

Sehingga tidak ada bedanya antara yang mendengarkan khotbah dan yang tidak, antara sebelum dan sesudah mendengarkannya. Wajar, sayyidina Ali mewanti-wanti kepada para sahabat yang  lain agar senantiasa menyampaikan kotbah atau ceramah sesuai dengan kadar kemampuan lawan bicaranya atau jamaahnya, dengan statemennya yang begitu populer ”Khotibunnasa Ala Qadri Uqulihim”. 

Padahal, dari sedikit yang saya pahami bahwa isi khotbah itu mengandung pesan-pesan kemanusiaan. Seperti anjuran berkurban, mengasihi anak yatim, fakir miskin dan mempererat silaturrahmi dengan sesama. Bisa ditarik sebuah kesimpulan dari rangkaian kalimat-kalimat  teks khotbah tersebut bahwa, idul adha punya semangat egalitarian dan liberian antar sesama.

Islam memandang sama semua umat manusia baik, tidak membedakan dari suku, agama, ras dan golongan mana ia berasal. Semua harus diperlakukan sama, sebagaimana layaknya manusia harus diperlakukan.

Yang membedakan di antara mereka adalah perbuatannya. Sebagaimana pada galibnya, manusia ada yang baik, juga ada yang jahat. Ada yang menindas, juga ada yang tertindas. ada yang menipu, juga ada yang ditipu.

Sehingga, Islam menyeru kepada umatnya melalui khotbah idul adha, untuk membebaskan diri dan manusia lainnya dari segala bentuk perbuatan jahat, penjajahan, penindasan serta eksploitasi satu manusia atas manusia yang lain. Tentu, hal ini dalam rangka memanusiakan manusia.

Pesan-pesan kemanusiaan dalam khotbah idul adha tersebut, sangat relevan dengan kondisi  hari ini. suatu kondisi, di mana krisis kemanusiaan sedang melanda seluruh umat manusia, tanpa terkecuali. Termasuk Indonesia. Seperti halnya di Palestina, ada banyak nyawa yang hilang oleh keberutalan tentara Israel. Juga ada nyawa-nyawa warga rohingnya yang sengaja dirampas oleh tentara-tentara Myanmar.

Di negeri lain, ada banyak kaum kapital dengan perkasanya menjajah dan menindas kaum melarat. Juga ada banyak penguasa yang dengan pongahnya menghisap darah-darah rakyatnya. Tidak luput, juga di Indonesia, ada banyak kelompok dan golongan yang dengan lantangnya menghujat, mencaci dan memaki kelompok dan golongan yang lain karena perbedaan. Yang lain mengkafirkan dan yang lain mengkufurkan.

Tiada hentinya, rakyat kecil selalu dibodohi dan ditindas oleh para penguasanya yang serakah. Mereka juga manusia, sama seperti mereka, para penguasa. Juga ingin hidup nyaman dan bebas dari segala bentuk penindasan yang tak berprikemanusiaan.

Namun, pesan-pesan khotbah idul adha ini hanya akan sia-sia, sebagaimana saya katakan di atas, lantaran mereka (jamaah) tidak memahami nilai-nilai yang hendak disampaikan dalam pesan khotbah tersebut. Hal ini tidak berbanding lurus dengan maksud disampaikannya khotbah tersebut, yang tentunya supaya mampu direfleksikan dengan bentuk kerja nyata dalam kehidupan ber-Bangsa dan ber-Islam

Jika boleh, izinkan saya memberikan saran, tanpa ada maksud dan tujuan menggurui siapapun, jika ingin menyampaikan khotbah lagi di lain waktu, maka alangkah lebih baiknya, jika khotbah berbahasa Arab tersebut diterjemakan ke dalam bahasa lokal setempat, supaya khotbahnya tidak sia-sia. Ingat, tulisan ini hanya untuk para Khatib!