Seorang remaja perempuan asal Turki bernama Melisa bunuh diri karena merasa tertekan oleh ayahnya karena sering dibully akibat gandrung akan BTS, salah satu grup KPOP yang terkenal belakangan ini. Ayah Melisa, entah apa alasannya, tidak suka anak perempuannya tersebut menyukai boyband asal Korea Selatan tersebut. Bahkan, dari beberapa berita, ayahnya menyodorkan tali agar Melisa bunuh diri secepatnya.

Menjadi fans terhadap suatu hal tentu lumrah, dan hampir seluruh manusia mempunyai idolanya masing-masing. Bahkan, beberapa orang mengidolai diri mereka sendiri. Mengidolai diri sendiri, belakangan viral dengan tajuk Self-Love, tentu bukan perkara yang buruk asalkan tidak terjebak pada pengkultusan atau idolatry yang menyebabkan perasaan "lebih baik dari yang lain".

Masalah akan muncul ketika idola salah satu kelompok dibenturkan dengan idola kelompok lainnya. Begini, kasus bunuh diri Melisa karena idolanya ditolak oleh lingkungannya hanya segilintir dari kasus-kasus pengultusan suatu figur yang dapat memancing fanatisme berlebihan. Kita tahu, fanatisme tidak baik bagi mental, individu atau komunal.

Ayah Melisa jelas salah, karena ia mempermainkan mental anak perempuannya dengan bersikap denial dan bahkan mencapnya tidak berguna karena mengidolakan BTS. Merendahkan Idola suatu kelompok akan menimbulkan masalah dan membangkitkan sikap "berani berkorban" yang masif dari diri para pengidolanya. Hal ini yang, nahasnya, terdapat pada diri Melisa dan beberapa pengidola KPOP lainnya.

Sebelum berlanjut, perlu saya terangkan bahwa dalam hal ini, saya tidak mendukung perundungan dalam bentuk apa pun. Namun, perlu kita analisis lebih lanjut fenomena idolatry yang masif ini diproduksi, sejak dulu, oleh industri media, informasi dan hiburan. 

Fenomena ini, di masa informasi dan media bergulir begitu masifnya, tentu sangat berdampak negatif bagi masyarakat. Tanpa sadar, fenomena ini memunculkan penyakit mental yang diabaikan, padahal krusial dan mampu menguasai jiwa seseorang.

Erich Fromm pernah menjelaskan dalam bukunya To Have or To Be? jika "Kita adalah apa yang kita sembah, dan yang kita sembah adalah apa yang memotivasi tindakan kita". Pengultusan suatu figur dapat menjadi motivasi atas tindakan pengidolanya.

Acap kali, tindakan itu berujung pada hal-hal yang berbau negatif. Misalnya, teranyar, kasus Melisa di atas. Sekali lagi, tindakan ayah Melisa tidak dapat dibenarkan. Namun, masalah mental Melisa yang mengultuskan BTS dan menjadikannya motivasi atas tindakannya juga tidak dapat dianggap benar.

Kasus lain, fanatisme para ultras klub sepak bola. Kerap kali ditemukan kasus tawuran yang melibatkan dua kubu fans suatu klub. Bahkan, ada beberapa peristiwa yang sampai memakan korban.

Kasus lainnya, fenomena Idolatry berlebihan pada figur politik yang tidak perlu saya jelaskan pembaca pun sudah paham dan melihat di sekeliling grup sosial virtual di mana-mana.

Lantas, apa yang menyuburkan tindakan-tindakan yang berdasarkan fanatisme akan idola tersebut? Tentu, tak lain dan tak bukan pelaku industri idola tersebut. 

Fanatisme, disadari atau tidak, mampu menggenjot ekonomi suatu industri yang membawahi figur yang diidolai itu. Diterima atau tidak, industri ini memandang para manusia yang mengultuskan produk mereka sebagai ladang emas dan bahan bakar pergerakan ekonomi mereka, para pelaku industri ini.

Kita tahu, fenomena industri hiburan Korea Selatan mampu menyebar secara masif ke seluruh dunia dan menjadikannya sebagai bahan bakar perputaran roda ekonomi mereka. Dan, kabarnya, ingin ditiru Indonesia lewat "Militer masuk kampus" dengan motivasi jika Korea Selatan memiliki wajib militer bagi warganya, mahasiswanya, dan konon wajib militer itulah yang membentuk Korea Selatan menjadi seterkenal itu.

Selain industri hiburan, fenomena idolatry ini sampai kepada tindakan pengultusan figur politik, yang mana, menjadikannya seakan figur tersebut anti-kritik. Politik yang telah tercampur fanatisme hanya akan menciptakan segerombolan kambing yang saling mengembik dengan gerombolan kambing lainnya. Akibatnya, figur tersebut tidak dapat tersentuh baik-buruknya, mana yang perlu dikritik dan mana yang perlu diapresiasi.

Lalu apa yang menjadikan fanatisme itu subur? Jelas industri buzzer di media sosial yang menyuburkannya. Lalu siapa yang menjadi korban dari industri tersebut? Lagi-lagi para fans dari masing-masing figur yang dikultuskan. Akibatnya jelas, lingkungan politik yang tidak sehat dan stagnan.

Fanatisme justru mereduksi pandangan objektif terhadap suatu tindakan yang dilakukan seorang figur politik karena terhalang persona sosok individunya. Padahal, jika tidak diliputi idolatry terhadap seorang figur, kita tentu dapat, alih-alih menilainya sebagai individu, menilai figur politik tersebut lewat tindakannya.

Terakhir, menjadi seorang fans atas suatu hal, seperti artis, boyband, figur politik atau apa pun itu, tentu diperbolehkan. Yang jadi masalah, jika fans tersebut sampai mau melakukan tindakan "tidak rasional" demi membela seseorang yang bahkan tidak pernah mengetahui jika orang yang menjadi fansnya tersebut eksis di dunia.