Ada sebuah pos beberapa waktu lalu di salah satu forum daring terbesar di Korea Selatan, Pann. Si penulis pos tersebut bertanya bagaimana caranya ia dapat berhenti menyukai grup idola favoritnya. Ia meminta komentar yang realistis terhadap dunia hiburan Korea Selatan untuk melakukan reality check (membandingkan antara imajinasi dengan kenyataan) atas fantasi-fantasi yang dimiliki terhadap idolanya.

Tentu beberapa komentar yang mengikuti sangat menohok. Ada yang mengatakan jika ketika seorang penggemar sibuk membela idolanya, idolanya malah sibuk mencari nomor perempuan atau lelaki lain ke sana kemari untuk dikencani. Ada juga yang membandingkan idola sebagai suatu bentuk gigolo atau pelacur yang melayani penggemarnya dengan imbalan uang.

Tentu komentar-komentar tersebut terlalu kasar, sekalipun tepat ke sasaran, karena penulis merasa perbandingan tersebut sangat tidak sesuai.

Idola K-pop pada dasarnya adalah penghibur (entertainer) seperti pelawak, aktor atau penyanyi biasanya. Membandingkan mereka dengan pelacuran adalah sesuatu yang keliru, karena fan service yang diberikan tidak pernah melampaui batasan-batasan sosial yang ada.

Tentu perbandingan tersebut sangatlah jahat dan merusak citra grup-grup idola yang ada. Karena jika melihat para idola dalam sudut pandang penghibur, perbandingan yang paling dekat dengan mereka adalah geisha (atau gisaeng di Korea).

Idola-idola adalah versi modern dari gisaeng atau geisha, terlepas dari jenis kelaminnya. Mereka dilatih dan dididik untuk melakukan satu fungsi, yaitu menghibur.

Penting bagi kita menyadari bahwa seperti halnya komentar di atas, geisha sering disalahartikan sebagai pelacur Jepang dalam imajinasi masyarakat modern. Namun, geisha bukanlah pelacur dan konotasi negatif tersebut datang dari masyarakat Barat yang tidak memahami dunia hiburan dari Timur yang eksotis.

Dahulu, pelacur-pelacur dari Jepang sering dilabeli oleh mucikari-mucikari mereka sebagai “geisha” sebagai semacam merek jual. Ini karena merek tersebut terdengar eksotis dan asing di telinga pria-pria Barat hidung belang. Pelabelan ini melekat seiring waktu dan membuat profesi geisha dianggap suatu hal yang rendahan bagi masyarakat di luar Jepang. Akibatnya, ada semacam asosiasi yang tidak benar antara geisha dan pelacur-pelacur yang didatangkan dari Jepang.

Dalam Geisha, Harlot, Strangler, Star: A Woman, Sex, and Moral Values in Modern Japan (2005), William Johnston menulis bahwa sebelum era Restorasi Meiji, geisha yang tersohor di masa lalu setara dengan “supermodel, penyanyi terkenal dan aktris film digabung menjadi satu”. Geisha adalah “perlambang dari budaya dan kesenian yang luhur karena tidak melibatkan adanya aktivitas seksual dalam pekerjaan mereka”.

Seorang geisha dilatih sejak muda dan kemudian menghabiskan banyak waktu dalam kehidupannya untuk “gei” dari nama mereka, yang berarti “hiburan atau kesenian”. Kata “gei” tersebut mencakup bermain musik, bernyanyi atau menari, yang melambangkan bahwa profesi ini murni semata-mata menghibur dan menyenangkan hati, terutama para bangsawan dan pejabat-pejabat Jepang masa itu.

Mereka menjadi penghibur di tempat-tempat hiburan dulu dan kini dengan menyediakan musik-musik yang dianggap memiliki derajat tinggi, dibandingkan musik-musik rakyat jelata yang dianggap vulgar. Kehidupan mereka sepenuhnya dibaktikan dan bergantung kepada para pembesar tersebut yang menggunakan jasa mereka.

Ketika para geisha ini telah mencapai umur yang matang, mereka akan pensiun. Beberapa akan memilih menikah, tapi beberapa lagi akan beralih ke pelacuran (yūjo), profesi yang “lebih menjanjikan” daripada menjadi geisha.

Seorang idola K-Pop juga menjalani hidup yang tidak jauh berbeda dengan geisha tersebut. Beberapa sudah menjadi trainee sejak mereka kecil.

Seperti contoh, anggota boy band Seventeen telah dilatih bersama-sama sejak mereka usia sekolah dasar. Para penggemar telah menyaksikan bagaimana mereka tumbuh besar dari para trainee muda yang menggemaskan menjadi idola-idola pria yang banyak memiliki penggemar perempuan.

Begitu juga dengan anggota girl group Oh My Girl. Anggota mereka seperti Seunghee sudah aktif bernyanyi di panggung-panggung sejak ia masih TK. Jiho menjadi trainee secara diam-diam tanpa pengetahuan teman-temannya. Binnie telah menghabiskan masa kecilnya untuk menjadi aktris cilik di beberapa drama dan film.

Semua contoh di atas, seperti halnya semua idola Korea lain yang tidak mungkin disebutkan satu-satu, mendedikasikan hidup mereka untuk “gei” seperti yang para geisha lakukan.

Idola K-Pop bukan hanya sekadar musik atau bernyanyi, melainkan bagaimana mereka memuaskan hati penggemarnya. Mereka akan memakai kostum-kostum, membuat parodi film atau drama atau mementaskan lagu-lagu kesukaan penggemar mereka demi penggemar mereka.

Kemudian, mereka akan sebisa mungkin berkomunikasi dengan penggemarnya. Terkadang mereka melakukannya saat sesi tanda tangan. Terkadang mereka melakukan siaran langsung di Vlive, Instagram atau Youtube.

Sebagai imbalan, para penggemar akan membeli album-album mereka sebanyak mungkin, memutar lagu-lagu mereka secara daring (online) atau melakukan voting sebanyak-banyaknya bagi idola mereka di acara-acara musik. Adanya hubungan timbal balik ini terjadi di semua grup-grup idola K-Pop, baik itu boy band atau girl group. Penggemar akan mengorbankan segalanya dari dirinya untuk idola-idola mereka dan “gei” yang idola mereka berikan bagi diri mereka.

Dulu, tidak sedikit dari para bangsawan yang menginginkan hiburan lebih dari pementasan musik para geisha, yakni tubuhnya. Banyak yang digoda untuk menjadi kekasih para bangsawan.

Tapi, jika seorang geisha melakukan itu, ia harus melepaskan profesinya dan kode etik geisha cukup tegas: tidak boleh ada hubungan seksual dengan pelanggan. Menjadi geisha juga berarti menjaga kehormatan dan batasan-batasan itu sangat jelas dalam komunitas mereka, yang sayangnya tidak dipahami oleh penikmat-penikmat hiburan mereka.

Inilah yang membedakan idola-idola dengan para geisha. Jika keahlian geisha hanya dikonsumsi oleh para pembesar, idola-idola kini telah menjadi milik masyarakat umum.

Meski begitu, mentalitas yang muncul ternyata tidak berubah. Beberapa penggemar menganggap “gei” yang dijual para idola ini seakan menjadikan idola tersebut milik mereka. Inilah yang melahirkan mentalitas sasaeng, penggemar-penggemar yang beracun yang mengusik kehidupan pribadi idola mereka.

Dengan membandingkan geisha dengan idola K-Pop ini penulis berharap bahwa beberapa penggemar harus melepaskan imajinasi mereka terhadap idolanya. Kadang mereka berpikir idola mereka adalah milik mereka yang tidak berpacaran atau tidak akan menikah dengan orang lain. Penulis mendengar banyak kisah tentang penggemar yang rela menghabiskan uangnya untuk pergi ke Korea Selatan hanya untuk menemui idola mereka.

Puluhan kopi album diborong untuk mereka dapat masuk ke sesi tanda tangan (fansign). Perilaku ini sering disebut sebagai “dedikasi”. Sayangnya, dedikasi ini memerlukan sumber daya yang besar. Ada yang rela menghabiskan gajinya, ada yang menggunakan tabungannya.

Kita harus ingat bahwa idola-idola K-Pop sama seperti para geisha. Mereka akan selalu menjadi pujaan oleh orang-orang yang membayar mereka untuk hiburan yang diberikan, tapi tidak akan pernah bisa dimiliki oleh orang-orang tersebut.