88193_47401.jpg
TribunRakyat.com
Pendidikan · 3 menit baca

Ideologi Untuk Anak: Pentingnya Memilah dan Memilih Sekolah

Tak sedikit penelitian menemukan benang merah penyebaran ideologi radikal dengan gerakan politik di kampus-kampus perguruan tinggi negeri di berbagai kota besar tanah air. Bagaimana para mahasiswa, berkenalan dengan organisasi ekstra kampus, mengikuti kajian berbalut dakwah, untuk akhirnya masuk bergabung dan terindoktrinasi ideologi politik radikal.

Tak sedikit mereka, datang dari latar belakang non-religius, terpesona jargon dan doktrin, merasa menemukan pencerahan akan kebenaran agama, namun ujung-ujungnya dimanfaatkan oleh aktor-aktor politik di balik organisasi tersebut. Fenomena macam ini menggejala di kampus-kampus, sampai-sampai Kepala BNPT dalam acara “Deklarasi Semangat Bela Negara dari Semarang untuk Indonesia” yang berlangsung di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Sabtu 6 Mei 2017 menyebut:

“Penyebaran paham radikal di lingkungan kampus sekarang ini sudah sangat gawat sekali. Sudah tidak ada sekat. Kalau kita tidak gerak cepat untuk mengawasinya tentunya ini akan membahayakan terhadap anak-anak kita nantinya dan tentunya bangsa ini sendiri,” 

Namun, saya tidak akan bicara lebih jauh soal penyebaran paham radikal di kampus perguruan tinggi. Karena bagaimana pun para mahasiswa sudah dewasa, dala artian mereka lebih punya kemampuan memilah dan memilih ideologi macam apa yang akan dipegangnya. 

Yang ingin saya  diskusikan dengan Anda semua adalah, bagaimana dengan anak-anak kecil kita di SD atau SMP. Adakah kekhawatiran sama musti kita miliki atas potensi penyebaran ideologi di sana?

Seorang kawan sempat bercerita tentang anaknya yang bersekolah di sebuah SD Islam Terpadu di pinggiran ibukota. Di mana suatu hari, dia mendapati pertanyaan anaknya yang cukup mengejutkan, tentang siapa itu orang kafir dan apakah mereka bisa dibunuh. Bayangkan, anak SD bertanya hal tersebut. Selidik punya selidik, sang anak baru saja mendapat pelajaran tentang satu hadist di sekolahnya.

Seorang kawan lain, bercerita tentang anaknya yang masih SD juga, yang dimasukkan bersekolah di suatu pondok pesantren ternama, yang setelah saya ingat-ingat namanya, dikenal luas sebagai sekolah milik tokoh gerakan NII (Negara Islam Indonesia) yang kabarnya telah punah namun menurut kabar burung masih aktif beraktifitas secara klandestin.

Itu hanyalah 2 contoh cerita dari kawan-kawan dekat. Masih banyak kasus sejenis yang terkadang muncul dalam obrolan saya dan rekan-rekan, namun banyak dari kami yang kurang menanggapinya secara serius. 

Saya sendiri memandang isu ini sangat penting. Karena dalam pandangan saya, setiap sekolah, setiap pengajar, setiap kurikulum yang diajarkan ke siswa--khususnya anak-anak kita--syarat akan nilai-nilai ideologis. Dan ideologi apa yang diusung sekolah bersangkutan, akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan wawasan pendidik yang pada akhirnya membentuk kaca mata pandang anak didiknya--salah satunya anak-anak kita.

Tak semua orang tua peduli akan ideologi, khususnya agama. Bahkan sebagian cenderung cuek dan merasa cukup menyerahkannya kepada guru dan sekolah.Seolah-olah, kalau sudah menyekolahkan anak di insitusi pendidikan berlabel agama tertentu, anak-anaknya akan jadi benar orientasi agamanya.

Wets, jangan salah. Menyerahkan pendidikan Anda kita ke suatu sekolah, artinya menyerahkan pola pikir anak kita dibentuk--untuk tidak menyebut di-brainwash--oleh pengelola sekolah bersangkutan dengan ideologi yang dianutnya. Jika kemudian orang tua terkaget-kaget ketika anak-nya tiba-tiba fasih menyebut orang lain 'kafir', 'sesat', harusnya mereka sadar, ini adalah buah yang mereka petik atas ketidakpeduliannya dalam memilh sekolah dengan baik.

Pertanyaan berikutnya, salahkah sekolah berideologi? Salahkah pengelola sekolah, pendidik, guru mengenalkan ideologi terhadap anak didiknya?

Tentunya tidak salah. Dengan prasyarat, anak didiknya sudah cukup dewasa untuk bisa mencerna, memilah, memilih ideologi tersebut. Namun, jika anak didik masih anak-anak, adalah tidak patut menanamkan ideologi tertentu, tanpa sepengetahuan orang tua anak bersangkutan.

Di sisi lain, kita sebagai orang tua juga tak boleh hanya diam, manut dan nurut, menyerahkan secara penuh pendidikan ideologi anak-anak kita kepada sekolah. Menggali lebih jauh tentang apa sekolah ini, siapa guru-gurunya, siapa yayasan pengelolanya, apa ideologi dan orientasi politik dan atau agamanya amatlah penting dilakukan di awal. 

Juga, pastikan kita sadar bahwa ketika anak kita masuk ke suatu sekolah, dia akan menerima transfer ideologi tertentu dari guru-gurunya. Kesadaran orang tua akan ideologi ini akan menjadikannya paham dan bisa membayangkan sosok macam apa yang membentuk pola pikir anak kita, dan sosok macam apa anak kita nantinya akan menjadi.

Akhir kata, karena anak kita adalah amanat Yang Kuasa, sekaligus legacy kita di masa depan, adalah logis kalau kita sedari awal pandai-pandai memilah dan memilih ideologi apa yang akan memandu hidupnya. Salah satunya dengan pandai-pandai memilah dan memilih di mana dia akan sekolah, dan kepada sosok-sosok pendidik macam apa dia kita serahkah untuk diajar.

Tabik.