2 tahun lalu · 812 view · 5 menit baca · Filsafat ideologi.jpg
Ilustrasi: redaksiindonesia.com

Ideologi Para Pengkafir

Pertama-tama harus saya tegaskan bahwa judul tulisan ini adalah frasa yang bagi saya sendiri tidak tepat. Bagaimana mungkin kita dapat menyandingkan sesuatu yang baik dengan subjek yang sama sekali tak bervisi pada kebaikan itu sendiri?

Kalaupun dapat, itu hanyalah mitos belaka guna membantu menjelaskan apa yang sukar kita dapatkan padanan katanya. Upaya inilah yang kali ini saya lakukan melalui secerca tulisan bertajuk Ideologi Para Pengkafir.

Ideologi yang Pincang

Secara bahasa, ideologi berakar kata dari “idea” dan “logos”. Idea adalah ide, gagasan, konsep, cita-cita, atau impian. Sedang logos adalah ilmu atau pengetahuan. Bila disingkat, ideologi menjadi sebuah ilmu tentang ide dan segala macam istilah sejenisnya itu.

Benar bahwa makna dari istilah “ideologi” semacam ini masih dalam taraf yang cukup sederhana. Sebagaimana telah banyak kalangan kemukakan, bagaimana pun, ideologi tak boleh berhenti pada sebatas ilmu tentang ide saja.

Sebab sebagai ilmu, ideologi punya tujuan yang sangat signifikan bagi keberlangsungan hidup manusia, terutama bagi peradaban alam berpikirnya. Ketika ini sudah terbangun, maka segala-galanya pun akan sangat mudah untuk disemaikan. Itulah mengapa ideologi menjadi satu proyek prioritas yang mula-mula harus dikuatkan sedini mungkin.

Setelah sedikit tahu perihal ideologi ini, adalah mustahil untuk membenarkan bahwa ada ideologi yang tak ber-visi. Tapi karena sukarnya saya menemukan istilah lain untuknya, baiklah saya sebut saja sebagai “ideologi yang pincang”—sebuah ideologi tanpa visi, juga ideologi dengan visi tapi tak berasas pada kebenaran alias fitnah. Begitulah para pengkafir membangun ideologinya ke khalayak secara luas.

Pertanyaannya, benarkah ideologi para pengkafir itu sudah tepat kita sebut sebagai "ideologi yang pincang"? Saya akan menjelaskan ini dengan membangun satu definisi tersendiri perihal istilah “kafir” yang orang sering gunakan hanya dalam isu-isu SARA.

Siapa yang Kafir?

Konon, klaim kafir bersumber dari ajaran agama. Dan soal ini, terlepas ada-tidaknya istilah semacam itu di dalamnya, saya tak punya kuasa secuil pun untuk membeberkan. Di samping saya tak tahu mengindonesiakan tutur-tutur berbahasa Arab, sebatas mengejanya saja pun saya tak bisa, saya juga tak gemar untuk menelisik kumpulan pedoman itu secara lebih jauh, apalagi sebatas menggunakannya sebagai batu loncatan.

Meski demikian, tak berarti saya harus menghentikan tulisan ini sampai di sini hanya karena kekurangan-kekurangan mendasar semacam itu. Seperti saya sebutkan di awal, saya tetap punya definisi tersendiri perihal istilah “kafir” ini. Semoga ini bisa diartikan sebagai tanggung jawab seorang penulis.

Kafir adalah kondisi di mana seseorang tidak konsisten pada narasi kebenaran. Jika kondisi ini melekat pada diri seorang pemimpin, maka jelas, pemimpin yang demikian itu bisa kita istilahkan sebagai pemimpin kafir. Mengapa?

Satu hal yang pasti, pemimpin adalah ia yang diberi mandat kekuasaan untuk mengatur jalannya urusan dan kepentingan mereka yang dipimpinnya (rakyat). Oleh karena rakyat berbeda-berbeda secara urusan dan kepentingan di masing-masingnya, maka peran seorang pemimpin adalah bagaimana ia mampu menjadi regulator. Peran ini bertujuan guna menyalurkan hasrat-hasrat mereka yang berbeda-beda (secara tujuan) tanpa seorang pun yang harus dirugikan karenanya.

Berat memang. Tapi begitulah tugas seorang pemimpin. Jika merasa tak mampu, lalu mengapa harus memberanikan diri untuk jadi pemimpin? Dan saya kira, tak satu pun di antara mereka yang sudah berani tampil sebagai kandidat (calon pemimpin) tanpa punya kesanggupan untuk menjalankan amanah itu, baik secara institusi maupun pribadi—meski kebanyakan tidak demikian.

Tentu sering kita temui seseorang yang pada awalnya memberi janji untuk menjalankan amanah, tetapi setelah jadi pemimpin, ia enggan bertanggungjawab pada janji-janji yang ia lontarkan sendiri. Semisal, di masa kampanye ia gencar mengumbar janji akan memberi fasilitas pendidikan gratis bagi mereka yang tidak mampu, tetapi setelah ia terpilih, ia tak kunjung jua memberi pembuktian itu.

Malah, atas nama pendidikan, ia justru menjadikan fasilitas pendidikan bak sebuah industri pengepul modal.

Contoh lainnya bisa kita utarakan, seperti berjanji akan membangun infrastruktur berupa sarana akomodasi warga, atau akan membangun permukiman layak bagi mereka. Lagi-lagi, setelah jadi pemimpin, ia tak jua merealisasikannya. Bahkan, yang justru jadi prioritas kerjanya bertolak belakang dari apa sebelumnya ia umbar di masa kampanye.

Semua contoh di atas adalah bentuk dari keingkaran seorang pemimpin. Keingkaran ketika berjanji inilah yang saya sebut sebagai tindakan kafir. Bahwa yang ingkar adalah yang kafir, sederhananya begitu. Jadi, pemimpin kafir adalah pemimpin yang tidak amanah. Pemimpin kafir adalah ia yang ingkar pada janji, tak punya pelaksanaan atas kata-katanya sendiri.

Lagi-lagi saya sadar, makna yang saya bangun ini tentu saja akan dinilai secara berbeda oleh orang yang berbeda pula. Tak usah saya gambarkan bagi yang sudah sepemahaman, tapi bagi yang tidak alias kontra, terutama yang sering kutip-kutip ajaran agama seenak dengkulnya, istilah “menyimpang” atau “sesat pikir” akan sangat gamblang mereka lekatkan pada diri si penulis.

Tapi itu tak masalah. Toh tiap orang memang dilahirkan secara berbeda, termasuk dalam hal mendefinisikan segala sesuatu. Tetapi yang masalah adalah ketika ada orang yang ambisius memaksakan kehendaknya. Yang berbeda-beda itu ingin ia seragamkan menjadi satu menurut alam berpikir ia sendiri. Itu namanya egois.

***

Berdasar gugusan wacana di atas, saya jadi gagal paham ketika banyak kalangan menyebut Ahok sebagai orang kafir atau pemimpin kafir—kasus ini sekadar sebagai contoh saja. Jika alasan pengutaraan itu berlandas pada ingkar janjinya Ahok sebagai pemimpin, saya kira tak jadi masalah. Ahok dalam konteks ini memang sebagai pemimpin kafir. Amanah tak ia jalankan. Kerja-kerjanya gagal membawa Jakarta menjadi lebih baik.

Tapi kita patut bertanya, benarkah Ahok bertindak demikian? Selama jadi pemimpin, amanah yang seperti apakah yang ia tidak indahkan? Bahkan ketika ia masih berstatus sebagai Wakil Gubernur mendampingi Jokowi, tak adakah kerja-kerja yang ia sudah lakukan dalam rangka membawa Jakarta menjadi lebih baik? Di sinilah Pram harus kita munculkan: seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran.

Artinya, kita jangan sampai terjebak hanya pada dimensi like or dislike saja. Hanya karena tak suka misalnya, apapun yang ia lakukan, benar atau salah, selalu kita nilai salah. Begitu sebaliknya. Hanya karena suka, segala apa yang ia perbuat, salah atau benar, semuanya jadi benar di mata kita. Ini sama halnya dengan para pencinta berat: jika cinta sudah melekat, tai kucing pun berasa coklat.

Selanjutnya, ketika alasan pengutaraan itu hanya dilandaskan pada isu SARA, semisal Ahok adalah nonmuslim dan karena itu kafir, di sinilah yang jadi masalah besar. Ini sekaligus sebagai alasan yang bagi saya sangat-sangat dangkal alias tak masuk akal.

Meski saya tidak ahli dalam hal menebar pendapat berlandas ajaran agama, saya berani bertaruh, tak pernah ada ajaran sekolot itu dalam agama. Itu hanya ada dalam tafsir sebagai buah konstruktif manusia atas dalil-dalil belaka.

Terlepas darinya, sebagai ujung dari tulisan ini, saya hanya hendak menekankan bahwa ideologi nyatanya tidak melulu berbuah baik. Ideologi juga bisa tersalahi kodratnya, terutama ketika itu berada di tangan para pengkafir, kelompok yang gemar mengumbar dalil tanpa argumentasi yang rasional dan dengan tujuan menebar benci pada sesama. Begitulah ideologi pincang itu berjalan, sebuah ideologi yang ber-visi tapi tidak pada kebenaran dan atau kebaikan bagi semua.

Artikel Terkait