Era modernisasi yang kita nikmati saat ini merupakan hasil dari proses perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Perubahan tersebut disebabkan oleh globalisasi, yakni adanya transformasi dari suatu keadaan yang kurang berkembang menuju kearah yang lebih maju, dengan harapan agar tercapainya suatu tatanan kehidupan yang lebih baik. Selain itu perubahan yang terjadi dalam masyarakat memang merupakan sesuatu yang tidak dapat ditolak, karena perubahan tersebut terjadi secara alamiah sesuai dengan perkembangan daya pikir manusia.

Perubahan yang terjadi tentunya memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat. Selain memberikan dampak positif, modernisasi juga memberikan dampak negatif bagi kehidupan. Dalam tulisasn ini saya tidak ingin menyampaikan dampak positif, melainkan dampak negatif yang menyebabkan masyarakat kehilangan kesadaran terhadap realitas yang dialaminya. Ketika kesadaran masyarakat termanipulatif, tentunya akan mengantarkan pada suatu kesadaran palsu yang menyebabkan masyarakat tercerabut dari sifat otonomnya.

Kesadaran yang termanipulatif tentunya berawal dari sebuah ideologi yang bergerak secara terselubung untuk menanamkan pengaruh-pengaruh tertentu dengan berbagai cara, sehingga apa yang masyarakat alami dan jalani menjadi sesuatu yang lumrah dan wajar saja. Keadaan seperti itulah yang menyebabkan masyarkat cenderung memenuhi kebutuhan yang bersifat artifisial ketimbang kebutuhan alamiahnya.

Ideologi Sebagai Alat Manipulatif Kesadaran

Masyarakat yang hidup di era modern menampakan kepada kita bahwasanya mereka kehilangan kendali atas arah kebudayaan yang menyebabkan mereka terasing dari sesuatu yang diciptakan sendiri. Produk budaya yang dihasilkan oleh masyarakat tentunya merupakan hasil kreatifitas yang dimiliki, akan tetapi dengan semakin berkembangnya produk budaya yang diciptakan malah berdampak pada keterpisahan manusia dari sesuatu yang diciptakan sendiri, bahkan sampai mendeterminasi pkiran, hasrat, dan tindakan manusia.

Salah satu hasil produk budaya dari proses perubahan sosial dan swa-cipta manusia yakni mode produksi kapitalis. Mode produksi awalnya di ciptakan untuk membantu menghasilkan barang-barang agar dapat memenuhi kebutuhan manusia, namun dalam perkembangannya mode produksi kapitalis malah menciptakan dan menawarkan kebutuhan-kebutuhan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan manusia, sehingga melahirkan suatu kebutuhan di luar diri manusia yang pada dasarnya bukan berasal dari watak manusia itu sendiri. Kenyataan tersebut membuat kekuatan material menjadi sesuatu kenyataan obyektif yang menentukan perkembangan struktur dasar kebutuhan manusia modern.

Memahami hal tersebut, tentunya kita harus mampu membedakan antara kebutuhan manusia yang bersifat alami (berasal dari watak dasar manusia) dengan kebutuhan yang bersifat artifisial dan manipulatif (keinginan untuk kemewahan) dari mode produksi kapitalis. Kebutuhan-kebutuhan yang bersifat artifial seperti itu tentunya memengaruhi dan memaksa masyarakat dengn cara yang halus agar bisa memenuhi apa yang di inginkan sesuai dengan penawaran yang di ajukan oleh mekanisme pasar.

Mekanisme pasar yang dikendalikan oleh mode produksi kapitalis, tentunya mempunyai mekanisme yang bersifat ideologis, agar apa yang dilakukan oleh masyarakat dan cenderung untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat artifisial dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan biasa-biasa saja. Ideologi yang dijadikan sebagai kekuatan untuk meligitimasi tindakan yang dihasilkan oleh mode produksi kapitalis adalah suatu kekuatan untuk mempengaruhi, mendistorsi, dan memutarbalikan kesadaran masyarakat melalui institusi, sistem, struktur, psikis, bahkan pengetahuan sehingga masyarakat tidak menyadari bahwa mereka telah masuk pada kubangan yang bersifat manipulatif (Ahmad Fauzi; 2013).

Kebutuhan Artifisial dan Masyarakat Konsumtif

Kekuatan material yang lahir dari mode produksi kapitalis dan mempolarisasi masyarakat agar cenderung memenuhi kebutuhan yang bersifat artifisial, menyebabkan masyarakat terjebak pada simbolisme gaya hidup. Selain itu, untuk terus mempengaruhi opini masyarakat, mereka yang memiliki mode produksi kapital membuat citra yang dibentuk oleh iklan baik lewat televisi, handpone dan media lainnya dengan menayangkan berbagai macam produk yang pada dasarnya tidak terlalu dibutuhkan oleh masyarakat, karena yang ditawarkan bukanlah nilai guna melainkan pada citra dan gaya bagi masyarakat yang menggunakan. Maka ketika masyarakat memenuhi kebutuhan yang bersifat artifisial seperti itu, tentunya yang dipenuhi bukanlah nilai kemanfaatannya melainkan pada status sosial.

Dengan sifat yang seperti itu, tentunya akan melahirkan masyarakat yang tidak akan pernah merasa puas, seperti yang disampaikan oleh Jean P. Baudrillard sebagai ‘pemboros agung’, yang mengkonsumsi tanpa henti, rakus, dan serakah. Hal tersebut akan manyebabkan masyarakat teralienasi karena ulah dan perilaku konsumsinya sendiri, yang pada akhirnya melahirkan suatu kesadaran palsu yang seolah-olah terpuskan padahal kekurangan, seakan-akan makmur padahal miskin. Lebih lanjut Baudrillard menjelaskan bahwasanya, konsumsi yang dilakukan bukanlah sekedar nafsu untuk memenuhi begitu banyak komoditas yang cenderung memberikan kenikmatan, melainkan konsumsi yang dilakukan berada pada tataran pemaknaan suatu panoply objek, suatu sistem, atau kode tanda (Baudrillard, 2006).

Untuk memahami mekanisme pasar yang di produksi oleh mode produksi kapitalis, serta dilegitimasi oleh ideologi yang memanipulatif kesadaran, agar apa yang dikerjakan menjadi sesuatu yang lumrah, dapat menyebabkan masyarakat menjadi pemboros agung yang selalu mengejar kesenangan tanpa bisa membedakan antara kebutuhan yang bersifat alami dan bersifat artifisial. Tentunya kita bisa mengajukan tesis Karl Marx tentang Materialisme Historis bahwasanya ‘kesadaran manusia ditentukan oleh keadaan yang dialami’. Pengetahuan seperti ini berfungsi agar masyarakat mendapatkan kesadaran yang sejati melalui kritik ideologi yang dilakukan (Hardiman, 1993). Dengan kesadaran yang dimiliki diharapkan masyarakat dapat bertindak secara otonom dan bisa membebaskan dari belenggu kesadaran palsu yang cenderung mendewakan kekuatan material sehingga masyarakat bisa memahami kenyataan sebenarnya yang sedang terjadi.

Kepustakaan 

Ahmad Fauzi, Agama Skizofrenia : Ideologi, Fermentasi Religius dan Gerakan Agama Baru (Bagian III), (Semarang: Samarra Press, 2013)

Jean P. Baudrillard, Masyarakat Konsumsi, cet. II, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2006)

F. Budi Hardiman, Menuju Masyarakat Komunikatif, (Yogyakarta: Kanisius, 1993)