Peneliti
1 bulan lalu · 148 view · 5 menit baca · Buku 38956_69250.jpg
Twitter

Identitas dalam Pemikiran Amartya Sen

Saya Mandar, saya perempuan, saya Qureta, saya Islam, dan saya Indonesia.

Bagi saya, saya adalah seorang perempuan yang bersuku Mandar di Sulawesi Barat. Saya suka bergabung di platform penulisan yang bernama Qureta. Saya beragama Islam dan saya cinta Indonesia sebagai bangsa dan tanah air saya. Itulah identitas saya yang mungkin bisa dilihat sebagian orang dari pribadi saya.

Menurut saya, identitas secara luas bisa diartikan sebagai tanda pengenal, tanda atau ciri (khas) yang melekat pada seseorang. Identitas dalam arti yang sempit bisa berarti label atau mungkin juga cap pada seseorang. Apakah arti dan makna identitas hanya dibatasi sebatas itu?

Di suatu tempat, di sebuah kafe Resensi, Mamuju, identitas versi Amartya Sen, seorang penulis yang berkebangsaan India, dibedah di sini. Adalah Hartono atau Tonton sebagai resentor Kekerasan dan Identitas, Violence and Identity

Menurutnya, buku ini merupakan masterpiece dari Amartya Sen. Di sini, ia mengungkapkan bahwa Sen mencoba mengkritisi persoalan-persoalan identitas yang berhubungan dengan sosial, ekonomi, politik, yang  selama ini kita pahami terkadang merambah pada isu-isu mengenai politik identitas.

“Politik identitas itu adalah salah satu varian dari beragam manipulasi identitas yang selama ini dicekoki ke dalam kepala kita,” ungkap Tonton.

Artinya, sebenarnya identitas kita itu gampang sekali diarahkan, dan parahnya lagi biasanya diarahkan oleh orang lain alias diperangkap. 

Tonton menambahkan, bukan hanya identitas yang diarahkan, tetapi sampai mimpi pun diperangkap alias dikerangkeng, seperti kita dilarang bermimpi. Mimpi besar orang Indonesia adalah Pancasila. Mimpinya untuk bersama-sama mewujudkan semua silanya terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lebih lanjut, Tonton mengatakan kondisi negara kita seperti saat ini, kecenderungan di tahun politik 2019, kita digiring memilih salah satu identitas. Kita dipaksa menjadi cebong atau kampret, antara Jokowi atau Prabowo. Padahal, mungkin saja, ada yang tidak memilih pasangan calon (paslon) itu karena lebih memilih sebagai golongan putih (golput) yang tidak memilih siapa pun di antara mereka.

Mana Identitasmu?

Di bab pertama buku Amartya Sen diberi judul kejamnya sebuah ilusi. Ilusi atau khayalan adalah sesuatu tidak sesuai dengan realitas objeknya. Seorang sastrawan dari Rusia mengatakan bahwa manusia menderita karena imajinasinya, bukan karena realitas yang dialaminya.


“Misalnya, ilusi kita yang mengatakan bahwa kita harus pacaran, padahal realitas sebenarnya kita tidak mesti pacaran. Ilusi kita yang memaksa bermimpi bahwa kita harus kaya raya, padahal realitasnya tidak mesti seperti ini,” kata Tonton memberi contoh.

Identitas itu sesuatu yang melekat pada setiap orang dan beragam. Namun, kita tercipta pada suatu identitas tunggal. Menurut Tonton, misalnya identitas kita adalah bahwa saya (suku) Mandar, Sulawesi Barat. Di sini, ego kita yang keluar sebagai orang Mandar.

Atau ketika saya mengatakan saya Islam, maka paslon yang Islam ini yang harus saya pilih.

“Jika si A tidak menang, Tuhan tidak ada yang sembah,” katanya sambil mengutip puisi. Ini menjadi identitas tunggal yang dipaksakan. “Padahal, tidak bisakah kita beridentitas sebagai seorang muslim dan sekaligus sebagai seorang warga negara yang baik?” lanjutnya lagi.

Makanya, identitas tunggal ini merupakan bentuk identitas yang dipaksakan. Identitas tunggal menjadi hambatan dan identitas majemuk adalah kebebasan. Lanjut Tonton, buku ini membagi tiga ragam identitas: identitas individu, identitas kebangsaan, dan identitas global.

Jangan Mengotak-ngotakkan Peradaban

Benturan peradaban menciptakan ilusi di kepala kita bahwa kita ini terkotak-kotakkan oleh kerangkeng-kerangkeng peradaban bahwa saya adalah orang Austronesia, dan yang lain adalah Mongoloid. Padahal kita adalah satu dari nenek moyang yang sama. Kalaupun identitas kita harus satu, bukankah karena kita sama sebagai manusia?

“Jangan karena ada perbedaan pilihan politik, agama, suku, dan kecenderungan ideologi kita terkotak-kotakkan; apa bedanya kita dengan satu lainnya sebagai manusia?” tanya Tonton tanpa jawaban.

Lanjut Tonton, Amartya Sen juga mengkritisi peradaban yang berbenturan satu dengan lainnya karena digeneralisasi. Misalnya, India adalah peradaban Hindu, Timur Tengah adalah peradaban Islam, Amerika adalah peradaban Kristen, Rusia adalah peradaban Kristen Ortodox, Indonesia adalah mayoritas Islam Sunni terbesar. Ketika ini dikotak-kotakkan, maka sifatnya berbahaya karena akan mencoba memperbesar benturan-benturan.

Padahal, misalnya, Sen memberikan contoh di India, Perdana Menteri-nya adalah Hindu. Lembaga Legislatif-nya adalah seorang Muslim. Bahkan Ketua MA-nya merupakan agama minor di India, yaitu Sikh. Bukankah itu gambaran keragaman di India, dibanding menganggap India adalah Hindu? 

Begitu pula di Indonesia, mengapa Islam dikotak-kotakkan karena jumlahnya banyak dan pemilihnya relatif memilih suatu paslon tertentu? Sejak kapan Islam di Indonesia dikotak-kotakkan dalam kotak pemilu?


Agama sebagai Identitas?

Tonton juga menjelaskan bahwa Amartya Sen mengatakan “agama hanya sekadar identitas” dan peminggiran identitas sosial di atas peminggiran agama hanya membuat masyarakat sipil global akan makin berantakan. Sehingga tidak semua identitas (agama) harus dibenturkan dan dipersaingkan. Ketika bisa dipersaingkan, tetapi tidak (harus) dipertentangkan atau dipertengkarkan.

Misalnya, jika ada dialog lintas agama; di akhir acara, jika yang kalah debat harus masuk ke agama tertentu? Begitu pula dengan seseorang yang pindah agama orang tersebut akan menjadi pusat publikasi. 

Ketika akhirnya debat agama dimodifikasi, diakhir acara ada pembaiatan. Contohnya, mereka berhasil memasukkan ke Islam, namun yang terjadi bukanlah Islam kualitatif. Akhirnya, kita berjumlah banyak secara kuantitas, tetapi kekacauan ada di mana-mana (Ngapain?). 

Maka, yang diperlukan adalah dialog lintas peradaban. Namun, yang menjadi pertanyaan (lagi), apakah benturan peradaban atau benturan identitas membuat kita tidak bisa memilih sembarang identitas? Atau ketika ada identitas yang kemudian bertabrakan antara agama dan bangsa yang mana yang harus kita dahulukan? Atau tidak bisakah kita berpindah identitas, identitas keagamaan?

Seperti kisah Nabi Ibrahim dalam Alquran telah melakukan pemindahan identitas. Dikisahkan Nabi Ibrahim menyembah matahari, bulan, dan lain sebagainya. Namun akhirnya, kembali ke Tuhan, Allah SWT. 

Jadi sebenarnya identitas keagamaan kita bukanlah identitas yang rasional, tetapi karena sesuatu yang terbelikan, “taken for granted”, karena kita mungkin dilahirkan kebetulan beragama Islam karena mengikuti kecenderungan orang tuanya. Atau kita beridentitas karena tradisi kebenaran (kutukan) leluhur.

“Apakah agama sifatnya determinan? Maksudnya, apakah agama itu tidak bisa diubah? Apakah keragaman beragama kita tidak bisa diubah? Sesuai dengan pengalaman religius kita yang berbeda-beda? Karena agama juga merupakan sumber pengetahuan,” kata Tonton.

Di sinilah diperlukan literasi kewargaan, atau pendidikan multikulturalisme, untuk menyadarkan beberapa orang karena keberagaman kita suku, agama, ras, dan antar golongan. 

Lebih lanjut Tonton menjelaskan, menurut Sen, etika beridentitas menjadi penting yang mana yang harus kita dahulukan. Misalnya, kita diperhadapkan antara kepentingan agama dan kewargaan kita, atau bagi legislatif dihadapkan antara kepentingan rakyat dan partai? Etika identitas penting untuk dipahami sebagai prioritas.

Indonesia Muslim yang Beragam


Menurut Tonton, Amartya Sen melihat bahwa Indonesia adalah negara muslim yang beragam; beragam suku, agama, ras, dan antargolongan. Sebagai warga Indonesia yang baik yang juga sebagai (seorang) warga dunia, kita harus siap menghadapi globalisasi.

Pertama, menerima kebaikan eksternal, tidak langsung menolak Barat atau anti-Barat karena Barat punya ilmu pengetahuan yang bisa kita pelajari. Kedua, menolak keburukan eksternal karena globalisasi juga membawa akses negatif, misalnya seks bebas. Ketiga, mengembangkan kebaikan internal, contohnya gotong royong; dan yang terakhir, keempat, meninggalkan keburukan internal, seperti iri hati di antara masyarakat.

Akhirnya, menurut Tonton, Sen memberikan solusi adalah perombakan institusi atau lembaga. Sehingga, diperlukan peran masyarakat, civil Indonesia sebagai bagian dari global civil society. Lanjutnya, bahwa Indonesia yang memiliki organisasi NU mempunyai cabang di luar negeri, seperti Jerman dan Australia. Jadi, kita Indonesia harus siap jadi bagian dunia.

Artikel Terkait