Sebenarnya saya tidak tertarik mengulas postingan yang tak jelas penulisnya. Namun karena selalu ada passion untuk melihat postingan dari berbagai sudut pandang berbeda, saya akhirnya memutuskan untuk menanggapinya. Pelamar kerja itu mengaku sebagai lulusan Universitas Indonesia. Tentu saja ulasan ini subjektif dan boleh dikritisi.

Dalam postingan yang sudah dikomentari banyak orang itu disebutkan bahwa lulusan UI standar gajinya 8 juta lebih. Sehingga tawaran 8 juta menurutnya tidak sesuai dengan almamaternya yang merupakan universitas terbaik. Barangkali begitulah subtansi postingan tersebut.

Intinya, angka yang ditawarkan itu belum memenuhi standar bagi lulusan UI yang merupakan universitas terbaik di Indonesia. Saya sepakat dengan pembuat postingan tersebut. Harusnya gaji lulusan UI minimal 10 juta per bulan. Akan tetapi bagusnya mereka yang menjadi pewawancara bukan yang diwawancarai.

Sebenarnya bukan hanya lulusan UI, jika memang ingin gaji di atas 8 juta, ada baiknya sarjana menjadi pencipta lapangan kerja. Artinya selain memiliki ilmu ia harus kreatif dan inovatif. Para pemenang di era kompetitif biasanya orang-orang yang kreatif dan inovatif, mampu membaca peluang.

Bukan berarti pula pelamar kerja tidak kreatif. Bisa jadi ia menyukai pekerjaan tersebut, ia bekerja sambil belajar. Nah, gaji biasanya menjadi sesuatu yang penting. Namun jangan pula menjadi penghalang dalam berkarya sekaligus membuktikan kelayakan diri. Identitas tidak membuktikan apapun, itu hanya perspektif yang manipulatif. 

Mindset identitas sebagai standar gaji masih boleh didebatkan. Kasus postingan yang mengaku sebagai alumni UI tersebut merupakan contoh nyata. Bandingkan dengan Kimi Hime yang merupakan lulusan universitas Bunda Mulia.

Setiap bulannya puluhan juta diraih Kimi dari akun youtube-nya. Saya kira Kimi cerdas dalam melihat peluang. Ia kreatif dan inovatif sehingga pendapatannya mengalahkan karyawan BUMN. Perguruan tinggi harusnya menciptakan orang-orang kreatif seperti Kimi, bukan hanya para penghamba gaji.

Orientasi para penghamba gaji dari universitas apapun di belahan bumi ini akan selalu menjadi karyawan. Dari satu instansi ke instansi lainnya, ia bakal begitu saja meski gajinya naik. 

Tanpa kreativitas sejatinya sarjana manapun tak akan lebih baik dari robot. Bahkan lebih efisien mempekerjakan robot. Konflik psikologis lebih kecil dibandingkan mempekerjakan manusia penghamba gaji. Bukan berarti gaji tak penting akan tetapi cobalah memposisikan diri sebagai orang yang menggaji.

Memposisikan diri itu penting sehingga muncul empati. Kita dapat memahami psikologis orang-orang yang akan mempekerjakan kita. Bagi kita barangkali angka itu kecil, anehnya kita tidak mampu menjadi seperti dia. Mempekerjakan orang lain meski dengan gaji kecil.

Saya kira ide itu mahal. Tidak semua sarjana memiliki ide yang kemudian dijalankan sehingga menciptakan lapangan kerja. Buktinya, sarjana yang melamar pekerjaan lebih banyak dibandingkan dengan yang menciptakan lapangan pekerjaan. Saya tidak tahu, apakah lulusan UI lebih banyak yang mempekerjakan orang atau yang bekerja untuk orang lain.

Setiap universitas harusnya memiliki data itu. Nantinya dapat dijadikan evaluasi arah kebijakan universitas. Apakah akan diarahkan menciptakan penghamba gaji, profesional, atau para pengusaha. Tingkat kepuasan manusia memang beda-beda. Saya kira produk apapun di masa perkenalan tidak mungkin di atas harga produk lama.

Biasanya malah ada potongan harga. Bukan berarti produk itu murahan akan tetapi produk itu butuh pembuktian kualitas. Demikian halnya dengan fresh-graduated dari universitas manapun. Meski universitasnya hebat, belum tentu dirinya berkualitas. Butuh pembuktian.

Ketika kualitas telah diketahui, anda tak perlu melamar namun bakal dilamar. Ronaldo dan Messi merupakan contoh orang-orang yang telah membuktikan kualitas dirinya. Coba perhatikan gaji mereka di awal karir dan setelah ketahuan kualitas dirinya. Pastilah jauh beda, dan lamaran dari berbagai klub pun datang.

Lalu berapa idealnya gaji lulusan dari UI? jika anda perhatikan dengan seksama, gaji para pemain Barcelona itu bervariasi. Padahal mereka dari akademi sepakbola yang sama. Messi tentu menjadi yang termahal bayarannya. 

Cristiano Ronaldo menempa diri di akademi sepakbola di kampung halamannya. Fakta kemudian berbicara, meski Ronaldo bukan berasal dari akademi sepakbola bergengsi seperti di Barcelona, namun gajinya lebih besar dari rata-rata pemain Barcelona. Demikian pula ketika membela Madrid, gajinya mengalahkan gaji pemain-pemain jebolan akademi sepakbola di Madrid.

Meski tak sama namun ilustrasi itu tak jauh beda. Lulusan UGM dan UI maupun PTN besar lainnya, memiliki potensi bergaji tinggi. Asalkan ia mampu membuktikan dirinya layak mendapatkan gaji tersebut. 

Saya cerita sedikit pasca gempa dan tsunami di Aceh. Para mahasiswa memanfaatkan momen dengan hadirnya NGO asing maupun lokal di Aceh. Para mahasiswa yang bekerja itu bahkan ada yang gajinya lebih besar dari sarjana. 

Gaji mereka saat bekerja di NGO asing tidak didasari pada ijazah akan tetapi pada kapasitas seseorang. Itulah mengapa ada kasus mahasiswa lebih besar gajinya ketimbang sarjana. 

Saya juga pernah mendapatkan kasus unik dan menarik. Seorang pewawancara yang kebetulan dosen bercerita kepada saya. Ia heran ketika mendapati seorang lulusan universitas ternama dengan IPK bagus namun tak mampu menjawab pertanyaan yang sangat mudah.

Dosen tersebut melanjutkan, nah ketika ditanyakan pertanyaan yang sama pada peserta lain yang berasal dari universitas swasta, malah mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan percaya diri. Meski hanya oknum akan tetapi membuktikan satu kenyataan, sehebat apapun universitas kita pada akhirnya kitalah yang akan berkompetisi di dunia kerja bukan universitas kita.

Meski anda lulusan Harvad sekalipun, jika anda menjadi PNS maka gaji anda sama dengan lulusan universitas mana pun di Indonesia. Demikian pula ketika melamar pekerjaan di perusahaan luar atau dalam negeri.

Bagi perusahaan yang mengejar keuntungan finansial serta untuk memenangkan persaingan, produktifitas tenaga kerja lebih dibutuhkan. Mereka akan menggaji sesuai dengan kontribusi tenaga kerja bagi perusahaan.  Nah, menjawab judul tulisan ini, berapa gaji ideal lulusan UI? saya kira sesuai kemampuan instansi dan kemampuan lulusan tersebut.