Aktivis harus kembali ke kampung. Bergubuk (baca; berkantor) di kampung. Mengenyam nilai-nilai pendidikan kampung. Belajar sikap pada orang-orang kampung dan yang terakhir, harus bersahaja, jujur dan sederhana seperti orang kampung, tapi tidak boleh kampungan.

Realitas keaktivisan kini bergeser ke arah yang lebih elit, ke arah kota—andai saja elit dengan sedikit arif, sayangnya tidak. Nongkrong di berbagai kafe dengan biaya ngopi yang tidak murah, snack dan menu jajan yang juga tidak murah. Berpenampilan dengan baju bermerek, handphone bermerek, tak lupa, paket data internet yang terbilang mahal.

Realitas tersebut terbilang elit dibandingkan dengan kondisi aktivis di era 60-70-an. Aktivis era itu hampir tidak mengenal beragam kemewahan seperti yang dikenyam para aktivis hari ini. Untuk hadir ke dan biaya kongres organisasi, mereka harus menyisihkan uang rokok dan makannya. Mereka tidak tergantung pada hasil proposal organisasi dan dana bantuan sosial dari pemerintah. Karenanya, jika bertanya soal militansi gerakan, idealisme gerakan, aktifis tahun 60-70-an adalah figur yang paling tepat menurut saya.

Aktivis hari ini tak ada yang benar-benar siap diasingkan, terancam dan melepas kemapanan dirinya—apalagi berani mati. Ber-handphone mahal, sepatu keren, baju kekinian, menu makanan yang mewah dan tak lupa perempuan cantik yang dijadikan istri haramnya adalah identitas keaktivisan yang paling kekinian. Tak dapat dipungkiri, inilah sisi mahal pada diri aktivis detik ini.

Jika aktivis era dahulu memilih sederhana seperti orang kampung, maka aktivis hari ini memilih mencari biaya hidupnya seperti orang kota. Jika aktivis era dahulu memilih melepas nafsu kemewahannya dan memilih lapar demi menjaga idealismenya, tapi aktivis hari ini justru kebalikannya; memilih menunaikan nafsu kemewahannya dan memilih kenyang dengan menggadaikan idealismenya.

Tan Malaka menyebut idealisme sebagai kekayaan terakhir seorang aktivis karena ingin mengungkapkan, apabila idealisme hilang, maka hilanglah semuanya, termasuk harga dirinya. Saat idealisme tergadaikan, maka tergadaikanlah semuanya, termasuk kebenaran di tangannya, dan idealisme yang tergadaikan tak akan pernah bisa ditebus ulang.

Dari mana aktivis kekinian dapat membiayai nafsu kemewahan dirinya itu? Menjadi budak politisi, berafiliasi dengan mafia, berkompromi dengan pihak yang berkepentingan adalah jalan paling mungkin untuk sampai pada kemewahan itu.

Sampai di sini, adakah yang dapat diandalkan dari seorang aktivis yang tunduk pada kemapanan? Yang patuh pada pihak penguasa dhalim? Yang merengek saat butuh makan? Yang berdemo saat butuh paket data? Dengan ini, mereka sejatinya telah belajar korupsi melalui identitasnya. Bagaimana tidak? Saat para junior mengharapkan kemaslahatan dan memberi kepercayaan penuh kepada para seniornya, tapi si senior justru mengabaikan kepercayaan itu demi kepentingan perut dan paket data.

Sebaiknya, kantor-kantor para aktivis tidaklah berposisi mewah di kota, tapi lebih baik di kampung-kampung. Di sana, mereka akan belajar hidup sederhana, tak berlomba-lomba mencari kemewahan, tak mudah dirobohkan prinsip-prinsipnya. Di kampung, menurut Peter Connolly, adalah tempat paling baik menjaga tradisi, prinsip dan idealisme.

Hanya orang kampung yang setiap saat siap mengajak makan orang yang lewat di depan rumahnya secara gratis. Hanya di kampung, orang-orang tidak mengenal gengsi dengan pakaian mereka. Hanya di kampung, pacaran itu menjadi keburukan. Hanya di kampung, tegur sapa terjalin dengan akrab. Hanya di kampung, silaturrahim terjalin tanpa kepetingan politis dan hanya di kampung, titah politisi tidak ditelan mentah-mentah.

Aktivis yang domisilinya di kota dengan dikelilingi mall, kafe, kantor dinas, kantor parpol, kantor proyek dan diskotik tak jarang membawa karakter diri seorang aktivis lebih pragmatis dan tentu juga materialistik, hanya saja mungkin dipraktikkan secara samar.

Tak dapat dipungkiri, aksi-aksi menjalankan proposal, meminta dana lebih di organisasi intra kampus, mengadakan lomba berbayar, mendatangi pak politisi, menempelkan diri pada senior yang berada di jajaran dewan dan berafiliasi dengan kaum politisi lokal atau interlokal adalah gerak pragmatis paling samar dalam diri aktivis, yang tujuan semua itu, minimal, agar aktifitas ngopi di warung dan kafe di sepanjang malam dan siang, ditraktir.

Dimana idealisme dan militansi aktivis yang biaya ngopi dirinya saja harus merengek pada senior dan politisi? Sejak saat itu, idealisme sendiri hilang di warung-warung kopi, hilang di konter-konter tempat pembelian handphone dan paket data, hilang di pasar-pasar tempat membeli baju dan hilang di semak-belukar bersama istri haramnya.

Potret ini menjadi rahasia umum bagi aktivis. Rahasia umum dalam arti sebagian besar aktivis telah melakukan hal-hal yang disebutkan di atas. Mereka kemudian memilih untuk tidak membahas potret buram ini lebih a lot dan menjadikannya sebagai rahasia umum.

Ya, dimanapun begitu. Sesama pelaku tidak akan pernah di antara kedua belah pihak atau lebih berani melaporkan atau membenci salah satunya, justru mereka—sebagai sesama pelaku—saling bercerita hal-hal buram macam di atas yang telah dilakukannya dalam beberapa kesempatan yang semi-terbuka, dan tak jarang, kader mendengar cerita tersebut dan melestarikan budaya keaktivisan yang sedemikian rupa dari waktu ke waktu berikutnya.

Akhirnya—ini yang paling berbahaya—Kebenaran versi aktivis kekinian telah berubah esensinya. Dulu, suara kebenaran ialah saat penguasa dhalim harus tumbang dan jika belum, harus tetap ditumbangkan tanpa kompromi. Kini kebenaran itu ialah saat para penguasa dhalim terlihat takut atau takluk pada si aktivis lalu diperas agar siap mentraktir keperluan hidupnya, dari biaya hidup, kuliah dan biaya kencan bersama pacarnya.

Banyak aktivis yang merasa hebat saat telah bisa hidup mewah dengan cara membegal para atasan, bos, kepala dinas, bupati, dewan dan lain semacamnya, bahkan seniornya sendiri. Dimana idealisme itu? Dimana, dimana dan dimana? Wahai Aktifis, Istighfar, lalu kembali ke kampung.